Kerugian PTFI Capai Rp 42 M

Bagikan Bagikan
SAPA (TIMIKA) – Vice Presiden PT Freeport Indonesia, Sony Prasetyo total kerugian yang dialami akibat aksi perusakan dan pembakaran pada Sabtu (18/8) mencapai Rp 42 Miliar atau tiga juta lebih US Dolar.

Sony ketika diwawancarai usai menghadiri pertemuan bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika, Forkompinda, tokoh lembaga adat, tokoh agama dan tokoh masyarakat Mimika di halaman Pandopo Rumah Negara, Jalan Cenderawasih, SP 3, Distrik Kuala Kencana, Minggu (20/8) mengatakan, hingga saat ini manajemen PTFI melakukan iventarisasi kerusakan dan kerugian kendaraan karyawan aktif, kendaraan dan aset lain perusahaan, infrastruktur, sistem IT serta aset lain yang dimulai dari Check Point 28, Gorong-Gorong dan PT Petrosea.

“Yang dibakar itu memang benar merupakan kendaraan karyawan aktif karena saat itu pemilik kendaraan sedang berada di lapangan. Yang sudah diinvestarisasi mencapai Rp 42 miliar, kalau didolarkan mencapai tiga juta dolar. Hingga saat ini (Kemarin Red)  masih lakukan invetarisasai terkait kerugian,”kata Sony.

Meski demikian Soni mengakui, sebagian kerusakan akibat aksi tersebut akan diperbaiki secara bertahap, khususnya di bidang  infrastruktur agar tidak menghambat jalur pengoperasian perusahaan, pengiriman karyawan serta penyaluran logistik ke Tembagapura.

“Besok (Hari ini Red) diharapkan semuanya kembali normal meski masih ada puing-puing. Dalam kondisi apa pun kita akan tetap berusaha agar operasional perusahaan tetap berjalan normal,”ungkapnya.

Soni mengakui, Freeport merupakan obyek vitasl nasional yang telah diatur undang-undang negara dan Peraturan Presiden, sehingga sangat disayangkan ketika aktivitas PTFI diberhentikan maka akan membawa dampak bagi seluruh masyarakat Mimika.

Ia mengatakan, sejak lama perusahaan telah berusaha untuk mengaktifkan kembali seluruh karyawan yang mogok dengan cara melakukan panggilan, namun tidak direspon.

“Saat ini PTFI tidak menerima karyawan. Ada tapi melalui kontraktor. Silahkan saja melamar bagi mereka yang mempunyai tanggung jawab keluarga. Memang penerimaan tidak sekaligus karena diutamakan untuk operator-operator mesin dan alat berat lainnya,”katanya.

Soni menjelaskan, sejak adanya unjuk rasa hingga berujung aksi perusakan, telah dilakukan koordinasi intens bersama aparat keamanan, baik Polri, TNI serta penegak hukum lainnya. Dengan demikian terkait keamanan PTFI serta seluruh karyawan aktif diserahkan secara penuh kepada pihak penegak hukum.

“Kami serahken sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk menjaga keamanan. Karena memang sejak mulainya unjuk rasa kami selalu lakukan koordinasi bersama aparat kepolisian,” katanya. (Acik)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment