Komnas HAM Segera Kirim Tim ke Deiyai

Bagikan Bagikan

SAPA (JAYAPURA) - Komisi Nasional (Komnas) HAM Perwakilan Provinsi Papua segera mengirimkan tim ke Tigi, ibu kota Kabupaten Deiyai, guna memastikan penyebab terjadinya kekerasan yang mengakibatkan satu warga dikabarkan meninggal dan melukai beberapa orang lainnya.

Kepala Sekretariat Komnas HAM Perwakilan Provinsi Papua Frits Ramandey di Kota Jayapura, Rabu (2/8) malam, mengatakan pengiriman tim sebagai respons dari insiden penembakan warga sipil yang diduga dilakukan oleh aparat kepolisian di Deyai pada Selasa (1/8).

"Menindaklanjuti pengaduan yang disampaikan masyarakat Deiyai kepada Komnas HAM pagi tadi maka Komnas HAM RI Perwakilan Papua atas petunjuk Komnas HAM Pusat akan mengirim tim ke Deiyai untuk melakukan investigasi kejadian tersebut, besok pagi tim berangkat," katanya.

Komnas HAM berharap semua pihak dapat menahan diri dan tidak melakukan aksi lagi yang akan mengakibatkan reaksi dan menelan korban lagi.

"Yang pasti agenda Komnas HAM adalah memastikan penyebab terjadinya bentrokan tersebut serta melihat tempat kejadian, juga bagaimana kondisi korban. Ini penting dan mendesak karena korbannya dikabarkan ada tujuh orang tertembak dan ada yang meninggal dunia," katanya.

Komnas HAM, kata mantan Ketua AJI Jayapura itu, sangat prihatin atas kejadian tersebut sehingga selain mengirim tim ke Deiyai juga akan meminta keterangan dari pihak kepolisian terkait peristiwa tersebut.

"Komnas HAM juga telah melakukan kordinasi dengan Gubernur Papua dan pemerintah daerah agar memberikan perhatian serius terhadap kasus ini,"katanya.

Terkait aksi penembakan yang diduga dilakukan oleh oknum anggota Brimob, Frits mengatakan hal itu bisa berpotensi melanggar HAM.

"Apa pun kondisinya kalau ada warga sipil meninggal dunia akibat tertembak dengan alasan yang tidak terukur tentu melanggar HAM, tindakan oknum aparat tersebut harus dibawa ke proses hukum, termasuk pihak terkait dalam peristiwa tersebut," katanya.

Sebelumnya Kabid Humas Polda Papua Kombes AM Kamal mengatakan insiden penembakan itu berawal dari aksi anarkis yang dilakukan masyarakat terhadap karyawan perusahaan serta merusak peralatan yang digunakan perusahaan yang sedang membangun jembatan.

Polisi mengeluarkan tembakan untuk menghalau masyarakat yang menyerang dengan menggunakan panah dan batu.

Sebelum penyerangan, ada warga yang datang ke perusahaan meminta tolong untuk mengantar warga yang sakit ke rumah sakit, tetapi ditolak. Warga yang sakit itu akhirnya meninggal dunia setibanya di rumah sakit.

Akibatnya warga mengamuk dan menyerang karyawan serta merusak peralatan di camp, kata Kombes Ahmad Kamal. (Ant)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment