Masyarakat Diminta Buka Palang Tower

Bagikan Bagikan




SAPA (ASMAT) - Masyarakat pemilik ulayat diminta untuk segera membuka palang BTS atau tower di Kampung Syuru, Distrik Agats, Kabupaten Asmat. Tower milik Telkomsel itu dipalang setelah selesai dibangun dan dalam tahap uji coba jaringan 3G.

“Usaha Telkomsel untuk membuka akses telekomunikasi terganggu karena pemalangan. Padahal mereka datang membantu kita,” kata Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos  dalam pertemuan bersama masyarakat pemilik ulayat dan OPD teknis di Kantor Bupati, Selasa (29/8).

Elisa mengatakan, informasi yang  diterimanya, lahan pembangunan tower seluas 15x15 meter disewa oleh Telkomsel selama 11 tahun dengan harga sewa Rp10 juta per tahun. Pihak Telkomsel telah membayar untuk 11 tahun.

“Saya pikir sangat jelas, ada perjanjian kerja sama dan sudah sangat baik Telkomsel sewa selama 11 tahun dengan total 110 juta. Bahkan dikasih lebih 10 juta. Coba kalau dijual, 15 x 15 x 12.500, itu tidak sampai 5 juta. Kali 100 ribu per meter pun tidak sampai 30 juta,” tuturnya.

Bupati menegaskan agar masyarakat mencabut palang dan tidak melakukan pemalangan lagi, sebab berurusan dengan penegak hukum. “Coba pikir, jual tanah sepenggal itu dengan harga 100 ribu per meter persegi, dapatnya baru sekitar 22 juta.  Harga tanah di Agats mana ada sampai begitu. Paling tinggi Rp15 ribu per meter persegi. Ini sudah baik, disewa Rp110 juta. Jadi jangan ada pemalangan lagi,” tegasnya.

Ia mengingatkan, jika jangka waktu sewa sudah selesai. Pihak pemilik ulayat boleh melakukan pembicaraan ulang. “Kalau saat ini sudah tidak bisa, perjanjian kontrak sudah kamu buat bersama. Perusahaan ini sudah sangat baik, coba kamu jual dapat berapa? Tapi dia sewa saja dan beri harga yang sangat pantas,” katanya.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Asmat, Jamaluddin mengatakan, tower tersebut dipalang beberapa pekan lalu. Masyarakat menuntut agar harga kontrak dinaikkan menjadi Rp25 juta per bulan. “Disurvey tahun 2015 dan bangun di tahun ini. Tapi begitu selesai dibangun, dipalang,” katanya.

Pemilik tanah, Hilarius Pirim mengaku beberapa anggota keluarga sudah menyepakati harga sewa tanah yang ditentukan oleh pihak Telkomsel. Hanya saja dalam perjalanan, ada anggota keluarga lain yang merasa tidak puas dan menuntut agar nilai kontrak tanah itu dinaikkan.


Sekedar diketahui, setelah diberikan penjelasan dan diminta Bupati Elisa Kambu, pemilik ulayat bersedia membuka palang tower milik PT. Telkomsel di Kampung Syuru. (Nuel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment