Mengolah Kekayaan Alam Menjadi Makanan dan Obat

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA)Distrik Wania membuktikan kepada masyarakat Mimika bahwa, kekayaan alam yang ada di tanah Amungme-Kamoro ternyata bisa di olah menjadi bahan makanan dan obat herbal. Dan hasil olahan itu telah dipamerkan dalam pegelaran Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-14, sekaligus peringatan Hari Kesatuan Gerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (HKG-PKK) ke-45 di halaman Graha Eme Neme Yauware (ENY).

Kepala Distrik Wania, Leonard Karet, SE menjelaskan, dalam pegelaran tersebut Distrik Wania mengangkat produk-produk unggulan yang bersumber dari kekayaan alam Mimika. Kekayaan alam itu diantaranya sagu, yang di olah menjadi bahan makanan seperti kue, mie dan pengganti beras. Sementara hasil hutan seperti daun gatal, di olah menjadi minyak gosok yang bisa mengobati pegal-pegal, rheumatik, asam urat dan salah urat (Keseleo-red).

“Sejak lama kami memberdayakan masyarakat untuk bisa berinovasi. Karena kalau biasanya sagu hanya bisa dibikin makanan papeda, maka kami berusaha mencari cara supaya diolah menjadi kue, mie, beras dan yang lainnya. Begitu juga dengan daun gatal,” jelas Leonard.

Distrik Wania memiliki kelompok yang khusus untuk mengolah potensi alam, namun dikarenakan belum adanya suatu sanggar khusus, maka dominan anggota kelompok melakukan kreatifitas pengolahan di masing-masing rumah.

Sementara, semua hasil olahan belum mendapatkan izin dari Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Dengan demikian hal itu menjadi tugas khusus distrik untuk mendorong pengakuan legalitas dari semua hasil olahan berinovasi dan berpotensi tersebut.
“Kami akan usahakan supaya dapatkan ijin dari Dinkes dan BPOM, supaya semua yang kita olah ini bisa dikonsumsi dan dipasarkan secara luas di tengah masyarakat,” kata Leonard.

Ia menambahkan, selain olahan bahan makanan dan obat, Distrik Wania juga gencar memberdayakan masyarakat lokal untuk mengembangkan seni kerajinan tangan seperti ukir, menganyam dan seni budaya lainnya.

“Untuk saat ini sanggar yang ada dengan organisasinya sudah ada dua, yakni di Inauga dan Kamoro Jaya. Kami akan terus mengembangkan semua kerajinan supaya bisa menambah penghasilan masyarakat dan PAD Mimika tentunya,” tuturnya.

Sementara itu ketua pembina kreatifitas masyarakat di Distrik Wania, Zainab, mengakui tepung sagu bisa di olah menjadi lebih dari satu jenis makanan, seperti kue basah, kue kering, cupcake, mie, sagu lempeng dan sagu manis dengan berbagai rasa serta menjadi pengganti beras.

“Sangat banyak sekali bahan makanan yang diolah dari bahan dasar sagu,” ungkap Zainab.
Jika selama ini masyarakat Mimika hanya mengetahui fungsi daun gatal hanya untuk digosok secara langsung, namun setelah di olah ternyata daun gatal bisa diracik untuk menjadi minyak, dengan cara dijemur hingga kering, diremuk hingga halus, dan direndam selama kurang lebih dua minggu dengan campuran minyak urut berkualitas lainnya. Selanjutnya, direbus lalu disaring.

Menurut dia, jika hasil rebusan bubuk daun gatal sudah disaring, selanjutnya dicampurkan dengan lebih satu aroma minyak gosok seperti kayu putih, caplang, ganda puro dan minyak gosok lainnya.
“Untuk daun gatal ini kalau sudah di olah dalam bentuk minyak, maka tidak akan gatal dan menimbulkan infeksi lagi. Karena dia sudah dicampurkan dengan beberapa bahan kimia anti iritasi. Minyak daun gatal juga bisa memperhalus kulit,” jelasnya.

Selain mengolah sagu dan daun gatal, masyarakat Distrik Wania pun telah memberdayakan pengolahan sarang semut menjadi bahan minuman berkhasiat yang bisa mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Saat ini masyarakat telah berhasil meracik sarang semut menjadi teh celup.

“Kita juga di Distrik Wania sudah buatkan teh celup dari sarang semut. Saya rasa kalau soal khasiat sarang semut itu sudah terkenal di seluruh dunia,” katanya. (Acik)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment