Murib, Mimpi Jadi Pilot Kibarkan Merah Putih di Langit Papua

Bagikan Bagikan



“Mimpi milik semua orang. Mimpi tiada  mengenal batas ruang dan waktu. Tiada memandang warna kulit, asal usul suku dan ras. Mimpi diraih dari sebuah kesungguhan, tekad, kerja keras dan rajin belajar tanpa mengenal waktu dalam tapa dan doa menuju surga kesuksesan. Itulah yang saya lalui dari perjuangan saya sebagai anak pedalaman Papua bermimpi jadi pilot diberkati menjadi Mayor Korps Penerbangan Helikopter Tentara Angkatan Darat. Saya bangga dan bahagia sambil membawa Helikopter mengibarkan bendera Merah Putih di Langit Papua pada momen HUT RI ke 72, 17 Agustus 2017,” kata Mayor Cpn Athenius Murip, SH.MH. dalam wawancara eksklusif dengan Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua melalui selulernya tadi malam dari Jayapura, Papua, Kamis (17/8).

MOMENTUM membangkitkan rasa nasionalisme dan mengibarkan panji motivasi kepada anak negri Papua bahwa anak Papua, meski lahir dalam segala keterbatasan tidak membatasi tekad meraih impian. Berkat dan rahmat Tuhan tersaji setiap saat bagi siapa pun yang bertekad menggenggamnya dengan belajar tekun dan tidak malu bertanya, jalan lapang menikmati surga kesuksesan lebih awal dari yang diharapkan. Demikianlah untaian kata motivasi Mayor Cpn Athenasius Murib kelahiran Kampung Megapura, Distrik Wamena, Kabupaten Jayawijaya, 20 April 1977 silam.

Athen panggilan akrab Mayor Cpn. Athenius Murip ini buah kasih pasangan Pdt. Aren Murip, S.Th dan Namlea Wetipo salah satu pilot pesawat hellicopter tempur Angkatan Darat asli Papua. Athen mendemonstrasikan Helli Bell 412, sebuah helicopter serbaguna yang diproduksi  Bell Helicopter Textron milik Angkatan Darat dalam manuver menerjunkan 16 penerjun  dan memiloti Gubernur Papua Lukas Enembe, Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, Kapolda Papua Inspektur Jendral Drs. Boy Rafli Amar, MH, Pangdam XVII/ Cenderawasih Mayjen TNI George Elnadus Supit dan sejumlah pejabat teras Pemda Propinsi Papua dalam rangka memeriahkan HUT RI ke 72 di Lapangan Mandala Jayapura, 17 Agustus 2017 kemarin.
Athen mengaku sangat bangga memiloti pejabat teras Papua dan menerjunkan 16 penerjun dan diantara 16 penerjun dua orang anak asli Papua pun ikut memeriahkan HUT RI ke 72 di Lapangan Mandala Jayapura, antara lain, Sertu Frida Natalia Ningsi Suebu asal Sentani-Kabupaten Jayapura dan Sertu Nelson Beteyop asal Timika Kabupaten Mimika.
“Saya sangat bangga dan bahagia pada momen 17 Agustus 2017 ini, saya dan dua adik saya asli Papua sebagai penerjun  bisa menunjukan bahwa anak asli Papua tidak beda dengan saudara-saudara lain sebangsa dan setanah air Indonesia. Momen ini sangat berharga untuk memperlihatkan dan menunjukan kepada saudara-sauadara saya bahwa kita bisa dan belum terlambat untuk meraih masa depan yang gemilang. Yang penting rajin belajar dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Karena setiap menit dalam hidup kita ini adalah rahmat. Saya merenungi semenit dalam setiap hari itu adalah rahmat. Saya memang harus akui saya anak seorang pendeta. Saya sudah terbiasa memimpin anak-anak sekolah Minggu dan pemuda gereja sejak SMPN II Wamena dan SMAN I Abepura Jayapura,” tuturnya bangga.

Buah kasih gembala Tuhan Aren Murip ini mengisahkan masa merampungkan studinya di SDN I Megapura Wamena 1989, SMPN II Wamena dan dilanjutkan di SMPN II Sentani Jayapura, 1992 dan SMAN I Jayapura tamat 1995. “Saya sampai pindah sekolah itu berawal dari orang tua angkat saya seorang tentara membawa saya juga ikut berlibur di Jayapura. Saya saking asyik berlibur bersama orang tua angkat saya di Jayapura terlambat masuk sekolah dan guru saya di SMPN II Wamena marah dan mengeluarkan saya dari sekolah itu. Tetapi, ketika saya berlibur di Jayapura saya perhatikan sekolah di Jayapura lebih bagus dibanding di Wamena. Maka ketika saya dikeluarkan dari sekolah saya malah bersyukur. Karena saya sudah berniat memang pindah sekolah di SMPN II Sentani. Maka, ketika guru saya keluarkan saya, saya langsung pindah sekolah di Jayapura dan melanjutkan sekolah di SMAN I Jayapura jurusan IPA, tamat 1995. Itu ceriteranya saya sampai selesaikan SMP dan SMA di Jayapura,” tuturnya polos.

Anak bungsu dari enam bersaudara ini menceriterakan niatnya masuk tentara Angkatan Darat berawal dari melihat perwira gagah dan tidak sembarang bicara. Saya sangat bertentangan dengan sikap tentara yang saya lihat di Wamena galak dan suka marah masyarakat. Awalnya orang tua tidak setuju dan saya juga tidak berminat. Ayah saya yang pendeta bilang saya. Kamu masuk tentara itu apa benar. Kamu tidak perhatikan tentara itu suka marah, galak dan tukang bunuh orang. Itu pemahaman ayah saya waktu belasan tahun silam. Tetapi, saya tertarik melihat tentara yang perwira gagah perkasa dan sangat bijak serta tidak ngomong sembarang. Itu yang membuat saya tertarik masuk tentara. Maka ketika saya lulus SMAN I Jayapura. Saya mengikuti pendaftaran dan seleksi masuk Taruna Akmil. Sayang saya tidak lolos. Saya tidak patah arang. Saya mendaftar mengikuti seleksi penerimaan bintara umum untuk Kopasus 1995.  Saya bersyukur saya lulus masuk Komando Pasukan Khusus (Kopasus),” tuturnya sambil berkata: “Kesuksesan dalam hidup itu tergantung kita sendiri dan niat yang tulus tanpa menyerah untuk meraih setiap impian kita.”     

Suami tercinta dr. Idawati Waromi Sp.KJ ini mengisahkan rute perjalanannya sebagai abdi bangsa dan negara dan kini mendapat amanat jabatan Danflite C Skadron 11/Serbu Puspenerbad Semarang ini mengaku dari 3000 anggota Kopasus mengikuti tes penerbangan 1996. Dari 3000 anggota itu, kekasih jiwa dr. Idawati Waromi Sp.KJ ini mengaku 8 orang yang lolos termasuk Athen.

“Kami yang mengkuti tes itu 3000 orang. Tetapi yang lolos termasuk saya didalamnya hanya delapan orang. Jadi saya dan tujuh teman lain mengikuti pendidikan penerbangan di Angkatan Darat Semarang dan lulus menjadi penerbang 1998. Meskipun saya sudah menjadi penerbang waktu itu tidak otomatis pangkat naik dari Serda ke Letnan II.  Jadi, saya sekolah lagi untuk mendapat promosi ke Letnan II dengan mengikuti pendidikan Scapa 2003 dan pangkat disesuaikan 2004 dengan pangkat Letnan II. Maka dengan pangkat Letnan II itu baru saya menerbangkan pesawat Hellicopter bell 205 A1 hingga posisi sebagai mayor saat ini melakukan manuver dengan Hellicopter bell 412 EP,” tuturnya sambil berkata: “Saya saat ini sedang mengikuti pendidikan Seskoad. Jadi, teman angkatan saya delapan orang sama-sama mengikuti pendidikan penerbangan yang sudah mendapat pangkat mayor baru lima orang.”

dr. Idawati Waromi Sp.KJ mengaku sangat bangga dengan suaminya yang tercinta. “Saya sebagai istri yang juga anak Papua sangat bangga dengan suami saya  yang sama-sama asli Papua. Dia bisa menunjukan dan memberikan sebuah kesaksian anugerah Tuhan yang begitu besar dalam hidup kami bisa saling berbagi berkat Tuhan dalam momen HUT RI ini. Suami saya menerbangkan pejabat teras Papua dan menerjunkan 16 penerjun  dan mengibarkan bendera merah putih dengan pesawat hellicopter di langit Papua. Saya tidak bisa melukiskan bagaimana saya bisa katakan. Saya hanya bisa ungkapkan betapa saya bahagia dan bangga sekali dan lebih bangga dia bisa membangkitkan semangat dan motivasi anak-anak Papua yang lain, khususnya yang masih sekolah di SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi yang ikut menyaksikan dia bersama rekan-rekannya menerjunkan para penerjun payung dengan Hellicopter di lapangan mandala Jayapura,” tuturnya polos.

Dari data yang dihimpun media ini, Gubernur Papua, Lukas Enembe mengaku bangga melihat hasil SDM Papua pada momen 17 Agustus 2017 ini. “Saya sangat bangga bahwa anak-anak Papua hingga momen 17 Agustus ini sudah memperlihatkan dan menunjukan kepiawaian menerbangkan Hellicopter. Saya berharap yang masih duduk di SD, SMP, SMA mengikuti jejak dari anak-anak Papua yang sudah berhasil,” katanya.

Menurut Athen kunci keberhasilannya tiada lain melalui pendidikan. “Saya bisa berhasil seperti ini. Karena saya disiplin belajar. Saya tidak mau ikut-ikutan dengan lingkungan dimana saya berada, terutama kebiasaan mabuk-mabukan. Maka. saya berharap kepada anak-anak Papua berhenti dengan kebiasaan yang negatif, rajin belajar dan rajin berdoa, itu kuncinya kalau mau sukses. Karena, tiada kesuksesan tanpa perjuangan atau keberhasilan itu jatuh saja begitu dari langit,” tuturnya memotivasi.

Athen mengakui kalau situasi saat ini di Papua ada sesuatu semangat yang hilang. Terutama, dari sisi pendukung untuk memberi motivasi kepada anak-anak Papua bisa maju dan berubah perilaku.  Dulu, Athen mengisahkan peran gereja sangat besar. Kini, peran gereja sudah berkurang, karena para gembala Tuhan sudah masuk dalam ranah politik dan peran mereka untuk membimbing anak-anak Papua dalam sekolah minggu sudah mulai berkurang.

“Saya berpikir mungkin akibat dari kalau sibuk di Gereja pendapatannya berkurang dibanding sibuk dengan politik pasti ada rezeki tambahan, bisa jadi seperti itu. Saya berharap peran gereja terutama para gembala Tuhan ini kembali ke basic mendorong, membimbing dan menghidupkan kembali semangat menuntun anak-anak Papua dengan sekolah minggu sebagai wadah mempersiapkan mereka menjadi SDM yang handal dalam soal iman dan inteletual ke depannya di Papua, itu pertama,” katanya berpendapat.

Kedua Athen berharap peran orang tua ikut berperan aktif memotivasi dan membimbing anak-anak rajin sekolah. Bila perlu, kata Athen orang tua mempersiapkan sedikit uang untuk memberikan les tambahan kepada anak-anaknya. “Saya perhatikan di Jawa orang-orang tua di Jawa untuk mempersiapkan anak-anaknya selalu berusaha untuk memberi les tambahan kepada anak-anak mereka dengan mengikuti bimbingan belajar. Maka saya berharap orang-orang tua jangan sibuk dengan hal-hal negatif dan berpikir angan-angan sesuatu yang tidak berguna. Bimbing anak-anak supaya pintar, itu yang utama. Saya bisa seperti ini karena rajin belajar dan saya lahir dari keluarga yang orang tua memang pendeta. Maka saya berharap kepada generasi muda Papua dan orang tua jangan menyia-nyiakan anugerah Tuhan dengan bekerja keras dan mendorong anak rajin belajar,” tuturnya. (Fidelis S J)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment