Program Upsus Siwab Tunjukan Hasil Positif

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) -  Program Upsus Siwab (Sapi/Kerbau betina wajib bunting) yang merupakan program percepatan pengembangan peranakan pada sapi yang dicanangkan Pemerintah Pusat sejak 2016 lalu, saat ini mulai menunjukkan hasil positif terkait tumbuh kembang peranakan sapi yang ditangani oleh Dinas Peternakan (Disnak) Kabupaten Mimika.
Hal ini terbukti dengan mulainya proses peranakan beberapa ekor induk sapi jenis Bali yang dikawin silangkan dengan cara penyuntikan sperma sapi jantan jenis Angus.
Kadisnak Mimika, Ir. Yosefin Sampelino mengakui, program Upsus Siwab mengharuskan setiap daerah termasuk Mimika terlibat dalam program pengembangan 3000 ekor sapi dalam setahun agar populasi sapi bisa meningkat. Sedangkan untuk Mimika diberikan target 150 ekor.
Menurut Yosefin, sejak berjalannya program tersebut, Disnak Mimika sudah melakukan inseminsai buatan (IB) terhadap 40 ekor induk sapi, namun dikarenakan tidak disertai dengan perawatan maka perkembangannya pun tergolong lamban. Dimana dari 40 ekor hanya 10 ekor saja yang jadi. Sedangkan terhitung sejak Januari 2017, proses IB yang disertai proses perawatan sudah mencapai 50 ekor lebih.
“Memang untuk induk sapi masih terbatas, tapi sekarang sudah ada yang beranak dari hasil kawin silang. Tim kesehatan hewan (Keswan) akan rutin melakukan IB dan perawatan hingga peranakan, supaya bisa capai target 150 ekor itu,” ungkap Yosefin kepada wartawan ketika melakukan survey hasil Uspsus Siwab di SP 5, Kelurahan Limau Asri, Distrik Mulia Kencana, Selasa (1/8).
Yosefin mengatakan, program Upsus Siwab memberikan keuntungan bagi peternak sapi atau kerbau, sebab setiap sapi betina akan diwajibkan bunting serta jarak peranakannya pun bisa diatur sehingga setiap tahun bisa bunting dan beranak.
“Keuntungannya setiap sapi itu bisa disuntik hormon sehingga bisa birahi cepat dan bunting juga cepat. Kita bisa mengatur kelahirannya.  Beda sekali dengan peternak sapi biasa, karena proses buntingnya lama, bahkan tidak sama sekali,”katanya.
Yosefin menjelaskan, tim Keswan akan merawat mulai dari kesehatan reproduksi, IB, penyuntikan sperma dan pengecekan birahi.
Sedangkan Ketua tim Upsus Siwab, drh.  Widi Nugroho mengatakan, dalam pengembangan peranakan sapi pada program ini, pihaknya menggunakan sperma atau semen dari jenis sapi Angus, Limosin, Simental, Bali Super, Ongole, serta beberapa jenis sapi Madura.
Menurut Widi, setiap jenis sapi tersebut memiliki sperma yang berkualitas. Dimana jika telah dewasa sapi jenis unggulan tersebut memiliki bobot berat produksi daging mencapai 250 hingga 300 kg. Bahkan menurut Widi, untuk sapi jenis Angus bisa mencapai 800 kg.
“Kami sediakan sekitar 400 lebih sperma dari berbagai jenis sapi jantan. Ada 200 jenis sapi Bali, 100 sapi Limosin, 100 sapi Simental dan ada beberapa jenis sapi Angus dan Madura,”ungkap Widi.
Widi menjelaskan, setiap bulan sperma selalu direndam dengan nitrogen cair dengan suhu sangat rendah agar tetap hidup. Selain itu, keunggulan program tersebut yang melalui proses IB adalah, setiap induk  sapi bisa disuntik dengan strow (Takaran) semen dengan jenis sapi yang berbeda-beda.
“Untuk satu induk sapi bisa diganti-ganti jenis semennya. Yang penting kalau sudah melahirkan, kemudian anak jenis sapi Bali, langsung IB lagi terus perawawtan sehingga selanjutnya bisa disuntik dengan jenis sapi Angus atau Madura,” tuturnya.
Selain itu dengan adanya program Upsus Siwab, tim juga telah mengikuti pelatihan untuk perpindahan embrio sehingga untuk satu induk sapi bisa melahirkan anak kembar yang dilakukan melalui sistim, IB dan seminggu kemudian melakukan transfer embrio.
“Itu untuk satu embrio itu harganya sekitar Rp 400. Memang untuk program transfer embrio ini belum mulai dilakukan karena termasuk sulit, karena perlu peralatan lengkap untuk penyimpanan embrio,” jelasnya. (Acik)



Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment