Proses KBM SD Negeri Poumako Alami Ketimpangan

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) -  Kepala Sekolah SD Negeri Poumako Markus Fasak mengatakan, proses kegiatan belajar mengajar sedikit mengalami ketimpangan akibat dari beberapa guru honorer tidak masuk kantor. Permasalahan tersebut seharusnya bisa diselesaikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika dalam hal ini Dispendasbud melalui kebijakan-kebijakan yang tidak merugikan semua pihak.
“kalau bagi saya berbagai instansi SKPD dan orang tua kita sudah lihat, kalau kami di lapangan kami juga turut prihatin,” kata Markus Fassak saat ditemui Salam Papua di ruang kerjanya di SD Negeri Poumako, Selasa (1/8).
Menurutnya, semua pihak khususnya guru honorer merasa tidak percaya dengan pengelolaan keuangan di Dispendasbud. Karena setiap tahun guru-guru honorer yang bertugas di pedalaman, pesisir, pinggiran dan di dalam kota yang mendapatkan TTP sebagai penghargaan terhadap dedikasi tenaga pengajar dalam mencerdaskan generasi Mimika, namun dipersulit dengan adanya SK Bupati.
“Kenapa selama ini ada insentif, kenapa sekarang tidak ada padahal sudah ada ketetapan dan kenapa sekarang ini dipersulit?” tanyanya.
Kondisi seperti itu pastinya akan berpengaruh pada proses KBM di semua sekolah. Sebagai kepala sekolah pastinya akan menerima dampaknya. Artinya walaupun adanya keterbatasan tenaga pengajar namun aktivitas belajar mengajar harus tetap berlangsung. Dia berpesan kepada Kadispendasbud agar segera ada solusi dari permasalahan insentif tersebut dalam waktu dekat.
“Dengan kondisi itu resiko bagi kami , tapi kami siap menerima tapi itu tugas dari dispendasbud untuk merealisasikan. Walaupun proses belajar pincang tapi tenaga pegawai negeri banyak dan kami tetap jalan,” ungkapnya.
Dia mencontohkan, ironisnya saat ini aktivitas pendidikan di pinggiran kota sudah mengalami ketimpangan bahkan vakum akibat keterbatasan tenaga pengajar khususnya sekolah-sekolah yang berada di wilayah pesisir dan pedalaman. Hal tersebut yang perlu dipikirkan dan segera dicari solusi yang terbaik.
“Sedangkan di pinggiran saja sudah pincang begini apalagi dengan kondisi di pegunungan dan pesisir pasti mati total,” terangnya.
Dia berharap agar dalam bulan ini sudah ada kabar baik dari Pemkab Mimika untuk membayarkan insentif guru, sehingga proses KBM bisa kembali normal. Jika tidak, bisa berimbas pada kelas persiapan atau kelas 6 yang harus mendapat pembelajaran ekstra dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional nantinya.

“Harapan kami mudah-mudahan sebelum 17 agusutus sudah bisa realiasi supaya proses KBM kembali normal. Karena ini berimbas untuk kelas persiapan untuk mengikuti UN,” harapnya (Ricky Lodar)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment