WNA Pendaki Cartensz Diduga Tidak Kantongi Izin

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) – Kapolres Mimika AKBP Vicktor Dean Mackbon menjelaskan, beberapa pendaki yang rencananya akan melakukan pendakian Puncak Cartensz Pyramid, tidak memiliki salah satu izin yang dikeluarkan pihak keduataan. Namun, Kapolres sendiri tidak bisa menyebutkan izin apa yang dikeluarkan kedutaan sehingga para pendaki WNA dilarang melakukan pendakian ke Cartensz Pyramid.

“Tidak ada laporan, semua sudah di klarifikasi bahwa seharusnya mereka ada izin yang dilengkapi,” kata Kapolres ketika dikonfirmasi wartawan, Senin (14/8).

Kapolres menjelaskan, dengan adanya pengamanan atas kunjungan Kapolri ke Timika dalam rangka melakukan pelepasan tim Ekspedisi Cartensz Polwan Polri, sehingga tidak diperbolehkan pendakian bagi siapapun. Namun, sempat para pendaki bersihkeras melakukan pendakian, yang akhirnya terpaksa dilakukan evakuasi oleh Kepolisian.

“Kepolisian sudah tahu bahwa tidak ada pendakian, tapi mereka paksakan, jadi memang harus dievakuasi,” jelas Kapolres.

Berkaitan barang dokumen penting milik pendaki yang tertinggal di Basecamp Yellow Valley ketika pendaki di evakuasi, Kapolres menjelaskan itu bukan merupakan tugas Kepolisian untuk mengamankan barang-barang tersebut. Harusnya itu menjadi tugas dari operator Adventure Indonesia sebagai pihak yang berbisnis pelayanan bagi pendaki WNA ke Puncak Cartensz Pyramid.

“Barangnya urusannya porter itu, bukan urusannya polisi. Mereka bisnis dan mereka harus dilindungi customer,” jelas Kapolres.

Di suatu Negara, menurut Kapolres, tentunya memiliki aturan masing-masing. Sehingga harus ditaati oleh semua pihak dan tidak bisa mengikuti kemauan sendiri. Apabila tidak taat dengan aturan pihak Kepolisian, harus ditindak tegas. Apabila aturan tersebut ditaati, tidak akan ada pihak yang dirugikan. Kalaupun ada, kata Kapolres, itu bukan dari institusi melainkan oknum.

“Hormati aturan yang ada walaupun itu bisnis. Tidak bisa maunya sendiri. Tidak bisa katakan petugas itu bikin ini, bikin itu. Petugas itu melindungi, tidak ada yang pernah menyakiti masyarakat. Kalau ada itu oknum,” tegas Kapolres.

Ditempat terpisah, Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi kelas II Tembagapura-Timika, Wisnu Galih, mengatakan bahwa para pendaki yang hendak melakukan pendakian ke Puncak Cartensz Pyramid telah diberikan izin pihaknya.

“Untuk tujuh orang pendaki itu, memang kami sudah berikan surat jalan,” kata Wisnu saat ditemui diruang kerjanya, Senin.

Wisnu menjelaskan, WNA yang masuk ke Indonesia melalui bandara baik di Jakarta maupun di Bali, diperbolehkan masuk ke Indonesia karena dokumen izin tinggal dan sebagainya telah ada. Namun, apabila ada larangan pendakian oleh Kepolisian, maka terkait hal itu pihaknya akan mencari tahu penyebabnya, dengan melakukan koordinasi bersama Kepolisian terkait larangan mendaki ke Puncak Cartensz Pyramid.

“Kalau mereka komplain ke kita, kan otomatis kita akan mencari tahu. Karena semua pendaki pendaki Cartensz itu, kita wajibkan mereka untuk lapor dulu ke kita. Dan pada prinsipnya tidak ada masalah, karena mereka telah masuk melalui bandara di Bali atau di Jakarta,” jelas Wisnu.
Sebelumnya, kelima WNA tersebut dipaksa membatalkan pendakian ke Puncak Cartensz Pyramid oleh pihak kepolisian, pada Kamis 10 Agustus 2017. Pembatalan itu diduga terkait adanya agenda pendakian Puncak Cartenzs oleh Tim Ekspedisi Cartensz Polwan Polri yang dilepas Kapolri Jenderal Tito Karnavian.



Pada Kamis pagi itu, pendaki WNA Katsuyuki Arai dan Marcos Soler Perez didampingi guide Jeni Dainga take off menuju Yellow Valley, menggunakan helikopter Asian One Air dari Bandara Mozes Kilangin Timika. Sementara tiga pendaki bersama guide Meldy Senduk, gagal take off menuju Yellow Valley akibat cuaca buruk.


Saat di Base Camp Yellow Valley, dua pendaki bersama guide yang merupakan tim pertama berangkat, dievakuasi turun pihak Kepolisian, karena dilarang melakukan pendakian. Masalah kemudian bertambah, dikarenakan seluruh barang kelima pendaki WNA turut diangkut dalam flight pertama bersama dua pendaki dan seorang guide tersebut.

Padahal sebelumnya, menurut guide Meidy Senduk, kelima pendaki tersebut sudah mengantongi travelling permit dari Mabes Polri. Saat tiba di Timika, kelima WNA tersebut pun telah melaporkan diri sekaligus menyampaikan tujuan kedatangannya ke Polres Mimika, itu diketahui pada hari Senin 7 Agustus 2017.


Menurut Meidy, kelima pendaki WNA Jepang dan Spanyol yang kini telah balik ke Jakarta, berencana melaporkan kejadian ini kepada kedutaan masing-masing.
“Kayaknya ini akan jadi urusan negara dengan Negara,” kata Meidy saat dikonfirmasi, Senin sore. (Ricky Lodar/Saldi)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment