Sarana Transportasi Jadi Kendala Guru Mengajar di Poumako

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) –Baru-baru ini persoalan insentif khususnya dibidang pendidikan, menjadi momok yang harus dibenahi pemerintah setempat. Persoalan ini mencuat hingga ke permukaan dan mendapat sorotan dari berbagai kalangan, terutama masyarakat Mimika. Kini ada lagi persoalan yang dihadapi dibidang pendidikan, dimana sarana penunjang seperti transportasi menjadi kendala tehadap guru-guru yang mengajar di kawasan Poumako, Distrik Mimika Timur (Miktim).

Sarana transportasi yang menghubungkan antara Kota Timika dengan Poumako, menjadi salah satu keluhan dari para guru yang mengajar di sejumlah sekolah kawasan itu. Dalam kesehariannya mengajar anak-anak di sekolah, para guru terpaksa menumpang truk ekspedisi maupun angkutan yang bukan umum keika melintas.

Hal ini diceritakan Kepala sekolah SD Negeri Poumako, Markus Fasak, saat ditemui Salam Papua diruang kerjanya, Selasa (1/8). Fasak mengakui, hal yang disampaikan ini mewakili para guru yang sering mengeluh padanya, sebab keluhan sudah sering ia terima terkait sarana transportasi.
“Mereka (Guru-guru-red) mengeluhkan akses transportasi Timika ke Paomako untuk mengajar,” ujar Markus Fasak.
Terhadap yang disampaikan para guru, Fasak telah melakukan upaya dengan cara menyampaikan kepada pihak terkait, dalam hal ini Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi (Dishubkominfo), Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudaaan (Dispendasbud) maupun pihak distrik. Namun, apa yang disampaikan tersebut hingga kini belum terealisasi.

“Kami sudah sampaikan, tapi sampai saat ini belum ada,” tuturnya.
Kendati persoalan transportasi masih di alami para guru hingga kini, Fasak hanya bisa memberikan penghargaan setinggi-tingginya karena hingga kini para guru masih terus mengajar anak-anak di sekolah. Dan ternyata, kata Fasak, kendala sarana transportasi tidak menyurutkan niat para pahlawan tanpa tanda jasa ini dalam mengabdikan diri mendidik generasi penerus bangsa.

“Walaupun susah transportasi, tapi mereka tetap masuk kerja. Kadang ada juga yang tidak masuk, itu dikarenakan ada pemalagan dan orang mabuk. Sedangkan Damri, hanya sebatas Maprujaya,” ujarnya.
Salah satu guru honorer yang sering disapa Dina, mengaku mengeluh sulitnya sarana transportasi dari Timika ke Poumako, begitu juga sebaliknya. Meski sudah ada angkutan umum untuk kawasan itu, tetapi dirinya merasa berat dengan tarif yang diberlakukan. Bagaimana tidak, Dina harus merogoh kocek dalam jumlah besar jika haus membayar angkutan umum setiap harinya.

“Transortasi mahal. Kalau setiap hari, sudah berapa uang yang kita keluarkan. Jadi kita menumpang di truk-truk ekspedisi saja,” kata guru honorer yang mengajar di SD Poumako ini.

Dina berharap, Dispendasbud maupun Dishubkominfo dapat melihat kendala yang dihadapi para guru. Aga kendala transportasi tidak mengganggu proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Jika guru tidak masuk, sudah tentu beberapa pelajaran menjadi tertunda.

“Yah, kalau bisa ada transportasi untuk kita guru-guru yang mengajar di Poumako,” harapnya. (Ricky Lodar) 


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment