Sosialisasi Kesetaraan Gender dan Perlindungan Anak

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) - Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3A KB) Kabupaten Mimika, menggelar  kegiatan sosialisasi kepada masyarakat terkait kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, di aula salah satu hotel di Jalan Ahmad Yani, Selasa (8/8).

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Mimika, Marthen Paiding dalam sambutannya menyampaikan, kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan  dan perlindungan anak merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dalam satu kesatuan yaitu proses pembangunan manusia yang lebih berkualitas.

“Hingga saat ini kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak masih tinggi, masih ada kesenjangan partisipasi pembangunan antara perempuan dan laki-laki. Kemudian masih ada juga hukum dan perundang-undangan yang bias gender, diskriminatif terhadap perempuan,” ujar Marthen.
Marthen mengungkapkan, untuk di Mimika saat ini masalah KDRT masih marak terjadi, baik yang dipicu faktor ekonomi maupun pengaruh minuman keras (Miras), di mana hampir semua korbannya merupakan perempuan dan anak.

Dikatakan, dalam kegiatan ini, Pemkab Mimika melalui BP3A KB berupaya mewujudkan Visi Kabupaten Mimika, yaitu Aman Damai dan Sejahtera, dimana dalam visi tersebut, perempuan merupakan potensi sumberdaya manusia yang sangat strategis untuk mengisi pembangunan di Mimika.

Marthen mengharapkan kegiatan sosialaisasi ini dapat meningkatkan pemahaman tentang kesetaraan gender dan juga meningkatkan kesadaran untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi perempuan dan anak terutama dalam rumah tangga.

Sekretaris BP3A KB, Alfasiah  dalam laporan panitia mengatakan, kegiatan ini untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarkat akan pentingnya perlindungan anak dan mencegah terjadinya tingkat kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan Anak, Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Kabupaten Mimika, Syane Mandesy mengatakan, terhitung sejak Januari hingga Juli 2017, angka kekerasan terhadap anak yang terjadi di Mimika mencapai 22 kasus dengan kategori kekerasan fisik, psikis dan seksual..

Sebanyak 22 kasus itu yang berhasil ditangani Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Permpuan dan Anak (P2TP2A) Mimika. Paling banyak itu kekerasan fisik dan seksual,” kata Syane.
Dikatakan, untuk 2017 mengalami penurunan jika dibandingkan dengan 2016, dimana 2016 lalu P2TP2A menangani 53 kasus.

Untuk mendapatkan kasus yang terjadi di masyarakat, P2TP2A menjalin kerjasama dengan kepolisian dan untuk penanganan kasus P2TP2A bekerjasama dengan rumah sakit.


Ia juga menyayangkan masih adannya masyarakat yang memilih bungkam jika terjadi kasus sebab kalau  dilaporkan maka akan membongkar aib.  “Itu tidak boleh, setiap kasus yang terjadi harus dilaporkan agar ada penanganan hukum,” katanya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment