Suku Hiluka Minta Polisi Ganti Rugi Rp4 Miliar

Bagikan Bagikan





SAPA (WAMENA) - Suku Hiluka di Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua minta kepolisian melakukan ganti rugi sebesar Rp4 miliar, karena polisi telah membakar 'honai' (rumah) adat bersama benda-benda pusaka yang disimpan di dalamnya.

Ketua Jaringan Advokasi Hukum dan HAM di Wilayah Pegunungan Tengah Papua, Teo Hesegem, di Wamena, Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Senin, mengatakan pembakaran rumah adat dilakukan oleh anggota polisi asal Kabupaten Lanny Jaya setelah beberapa warga masyarakat melakukan pemalakan, penganiayaan dan merampas senjata api dari satu anggota polisi.

"Sebenarnya Suku Hiluka ini mereka bukan pelaku pemalakan dan penganiayaan sehingga wajib untuk polisi ganti rugi. Suku Hiluka menuntut Rp4 miliar lebih karena ada benda-benda budaya dalam honai yang terbakar," kata Teo Hesegem.

Pasca pembakaran honai adat dan honai tempat tinggal, menurut dia, sejumlah warga masyarakat tidak belum memiliki tempat tinggal sehingga mereka menetap di bawah tenda-tenda darurat yang dibangun sendiri.

"Mungkin karena masyarakat marah sehingga bisa memberikan harga ganti rugi seperti itu. Namun belum ada kesepakatan dan masih dalam tahapan koordinasi. Kami juga meminta proses hukum anggota yang melakukan pembakaran itu. Jadi tidak hanya dibayar tapi proses hukum juga harus berjalan," katanya.

Polisi marah Teo mengatakan pihaknya telah menyerahkan enam orang pelaku pemalakan dan penganiyaan serta perampasan senjata api milik seorang polisi yang membuat anggota polisi Lanny Jaya marah dan membakar honai di Kabupaten Jayawijaya.

"Kami sudah melakukan apa yang diinginkan aparat, sehingga apa yang menjadi tuntutan masyarakat juga harus dilihat oleh aparat kepolisian, dalam hal ini Polda Papua dan Polres Lanny Jaya," katanya.

Di tempat yang sama, satu korban pembakaran honai di Kampung Ibele, Jayawijaya Linus Hiluka mengharapkan Polres Jayawijaya memediasi pertemuan masyarakat adat dengan pihak Polres Lanny Jaya untuk mempertanggungjawabkan tindakan anggota mereka yang melakukan pembakaraan honai.

Menurut dia, tuntutan ganti rugi itu diajukan karena satu honai yang dibakar merupakan honai adat atau honai perang yang menyimpan benda pusaka.

"Pembakaran honai adat atau honai perang itu mahal karena ada barang yang tidak bisa diganti, misalnya satu Delima Pusaka yang berasal dari nenek moyang dan juga kulit manusia," katanya. (Ant)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment