Tajuk : Bagai Akar Tuba FB Demianus Daskunda

Bagikan Bagikan


KETIKA, kita tidak bisa berbahasa santun, beretika dan beradab menyiasati penggunaan teknologi informasi yang merambah semua aspek kehidupan manusia, mulai dari sosial, ekonomi, budaya, bahkan dunia pendidikan sekalipun. Ketika kita tidak  terperangkap dalam kehidupan yang serba gamang, galau dan bahkan mengarah pada situasi chaos. Pelajaran berharga yang kita bisa petik adalah kasus mantan Gubernur DKI, Basuki Cahaya Purnama (Ahok).  Kasus Ahok berawal dari bahasa spontan yang tidak bermaksud menghina golongan tertentu dipelintir bahasanya melalui media sosial oleh Buni Yani. Itu salah satu contoh kasus dalam pemanfaatan teknologi informasi yang serba digital dan masih segar dalam ingatan kita.

Apa yang dituai Ahok dari bahasanya yang dipelintir itu bagai menelan akar tuba. Cermati kasusnya, bukan hanya Ahok yang menelan akar tuba. Buni Yani yang mempelintir bahasanya Ahok pun menelan akar tuba. Meskipun kasus itu sarat muatan politik. Namun, muara akhirnya sama-sama menelan akar tuba.

Sayang seribu sayang. Kasus mantan Gubernur DKI yang mengharubirukan semua warga Indonesia merambah hingga ke Timika. Minggu terakhir yang bermula dari kisruh dana insentif guru berbuah demo, baik guru-guru maupun kelompok simpatisan guru-guru honor. Bias dari dana insentif ini merambah sampai media sosial sebagaiamana yang disuguhkan Demmy Daskunda (DD) lewat psotingan Face Book (FB). Tentu, kasusnya DD berbeda dan tidak sama persis kasus Ahok. Tetapi aura dari dampak apa yang dilakukan DD nyaris sama. Umat Katolik yang tersinggung Pastornya dihina bagai menelan akar tuba yang ditabur dan disebar DD. Wajar! Umat Katolik merasa tersinggung dan meminta resep penawar akar tuba lewat penegak hukum. Karena dengan resep hukum, masalah akar tuba yang ditabur DD bisa menutup wajah semua umat yang tersakiti.

Lantas! Kita sama sekali sudah tidak memiliki empati kepada DD, “bisa ya” dan “bisa tidak. Bisa ya, karena memang DD menabur akar tuba untuk dirinya sendiri.” Ibarat pepatah menabur dan menuai. Siapa yang menabur benih jagung pasti menuai jagung, tidak mungkin menabur jagung menuai padi. Maka, wajar DD yang menabur akar tuba menuai kepahitan akar tuba pula.

Namun, ketika logika hukum cinta kasih yang menjadi hukum pertama yang kita hayati dalam kehidupan kristiani, maka kita bisa mengatakan: “Bisa Tidak.” Tatkala, kita mendekati apa yang ditabur DD disoroti dari “hukum cinta kasih” dan dijiwai dari cayahaya iman kriastiani. “Cintailah sesamamu manusia sama seperti dirimu sendiri. Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Maaf! Kami sama sekali tidak bermaksud mengkotbahi, apa lagi menggurui siapa pun. Sebab berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya surga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah oarang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (Fidelis S J)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment