Tajuk : Bermoral dan Berbudaya

Bagikan Bagikan




Orang tua murid di pesisir pantai Kamoro dan orang tua murid di balik gunung Amungme pasti seperasaan dengan saya. Mereka bisa bernafas lega mendengar kalau guru-guru YPPK sudah memutuskan kembali mengajar. Keputusan itu patut diapresisiasi. Jika keputusan itu diambil dari sebuah refleksi etika moral dan pertimbangan eksistensi manusia yang berbudaya, sebagaimana diberitakan Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua, dalam rubrik Pendidikan, edisi Sabtu (26/8) lalu.

Memaknai keputusan para guru itu, walau diramu dengan aroma sentuhan motivasi dari Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil Pr sebagai penyedap keputusan tetap diapresiasi. Namun, apresiasi keputusan para guru itu seharusnya diikuti dengan motivasi yang menggembirakan dari Dinas Pendidikan Dasar tetap bertanggung jawab dan menjawab tuntutan para guru. Sehingga, penilaian etis dan moral sebagai pemegang amanat Negara yang mengemban tugas di bidang pendidikan mendapat juga penghargaan yang sama. Pemegang amanat masih bisa dipercaya dan bermoral. Pemegang amanat masih bisa diukur memiliki eksistensi manusia berbudaya. Harap penilaian seperti ini tidak berlebihan. Tetapi, alasannya sangat mendasar! Saya jadi teringat pada sebuah syair lagu:

Kita bisa pandai menulis dan membaca karena siapa…..?

Kita bisa tahu beraneka bidang ilmu dari siapa……………?

Tentu kita semua sepakat dengan satu jawaban: “Dari Guru”.

Bercermin pada dua bait syair lagu itu, tentu kita sangat mendukung sekali dengan keputusan para guru YPPK. Karena di balik kegamangan hak yang seharusnya diterima masih tersisa karakter guru yang masih memiliki etika dan moral yang mumpuni dan patut diteladani. Memang! Menarik sekali kalau keputusan itu diimbangi dengan kebijakan para pengambil keputusan di Dinas Pendidikan Dasar menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan masih tersisa seberkas sinar sebagai manusia yang berbudaya. Manusia yang memahami makna dan tanggung jawab etis sebagai pelayan para guru-guru dengan tidak berkelit di balik aturan semu, apalagi sengaja mengabaikan hak orang lain demi kepentingan pribadi.

Mari kita belajar memaknai tanggung jawab masing-masing, sehingga tercipta kembali generasi yang bermoral dan bertanggungjawab serta mampu menunjukkan jati diri sebagai manusia yang berbudaya. Ingat! Kita jangan terlalu latah menyebut bahwa pendidikan karakter itu hanya berlaku bagi peserta didik. Sementara, anda dan saya tidak termasuk dalam tatanan tersebut, keliru. Rupanya pendidikan karakter diawali dari kita semua sebelum mentransformasikan kepada peserta didik.


Para insan di Dinas Pendidikan, guru, orang tua, staf sekolah, dan masyarakat diharapkan perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan kita saling mendukung membudayakan karakter sebagai sarana pembentuk pedoman prilaku. Pengayaan nilai individu dengan cara menjadi figur keteladanan bagi peserta didik serta mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi proses pertumbuhan berupa kenyamanan dan keamanan yang dapat membantu suasana pengembangan diri individu secara keseluruhan dari segi teknis, intelektual, psikologis, moral, sosial, estetis dan religius. Sehingga kita patut disebut manusia bermoral dan berbudaya. (Fidelis S.J)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment