Tajuk : Harga Kemerdekaan Semakin Memudar

Bagikan Bagikan
BULAN Agustus merupakan bulan yang istimewa bagi Bangsa Indonesia. Karena di bulan tersebut, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia. Merdeka dari penjajah Belanda dan Jepang. Bisa dibayangkan lebih dari 3,5 abad masyarakat bangsa ini hidup terjajah, tertindas, dirampas hak-hak hidupnya dan diperlakukan sangat tidak manusiawi.

Sebelum kemerdekaan diproklamirkan, pertempuran demi pertempuran melawan penjajah terus terjadi, baik di darat, di laut dan di udara. Perlawanan mengusir penjajah ini adalah perlawanan seluruh warga bangsa dari Sabang sampai Merauke, dengan berbagai latar belakang suku dan agama, dengan tujuan yang satu yakni merdeka. Sudah tak terhingga jumlah warga yang berguguran di medan perang. Namun hanya ada sedikit yang tercatat sebagai pahlawan bangsa ini.

Setelah merdeka 72 tahun lalu hingga saat ini, seluruh warga bangsa disibukkan dengan berbagai kegiatan mengisi kemerdekaan yang telah diraih, agar bangsa ini benar-benar hidup merdeka, tidak hanya terbebas dari penjajah, tapi juga merdeka dari belenggu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan keterisolasian hidup.

Karena itu, setiap tahun di bulan Agustus saat warga bangsa ini bersiap-siap merayakan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan pada tanggal 17, pertanyaan klise yang selalu menggelitik adalah sudahkah kita merdeka dari dari belenggu kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan keterisolasian hidup? Jawabnya tentu saja belum. Masih banyak warga bangsa ini yang terjajah kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan keterisolasian hidup. Mereka terjajah ketidakpedulian sesama bangsanya yang sudah hidup kaya raya. Mereka terjajah egoism kesombongan diri. Mereka bahkan menjadi korban keserakahan, kerakusan, kolusi, korupsi dan nepotisme sekelompok orang tak tahu diri.

Lihatlah di kota-kota besar, bahkan disekelilingmu, masih terdapat banyak rumah kumuh terhimpit rumah-rumah elit dan mewah bertingkat. Masih terdapat banyak pengemis, pemulung, tukang sampah mengais rezeki di tengah kerumunan lalat dengan berjuta kuman penyakit. Siapa peduli pada mereka?

Itulah sepenggal cerita dan kisah memilukan dari panggung drama kehidupan warga bangsa ini yang telah merdeka 72 tahun, usia yang senja yang mestinya ibarat tanaman padi semakin berisi. Tapi pada kenyataannya semakin keropos. Bahkan kini, selain kemiskinan dan kebodohan, bangsa ini menghadapi penjajahan baru yang diciptakan kelompok-kelompok tertentu yang anti Pancasila, anti UUD 1945, tolak NKRI dan benci Kebhinekaan.

Belum merdekanya bangsa dan rakyat ini dari belenggu kemiskinan dan kebodohan, plus semakin maraknya penjajahan baru dari paham radikalisme, membuat harga kemerdekaan yang telah diraih dengan susah payah, derai air mata, korban materi dan hilangnya nyawa seakan semakin memudar, kalau tidak mau dibiang semakin hilang. Semakin sirnah dan punah.

Saat ini jangankan kita berbicara tentang pentingnya membangun persatuan dan kesatuan untuk mengisi kemerdekaan ini agar tercipta masyarakat yang adil dan makmur, mengisi momentum hari kemerdekaan ini dengan nuansa yang berbeda, penuh rasa gembira dan bersyukur kepada Tuhan saja sudah susah dilakukan. Imbauan pemerintah untuk memasang umbul-umbul merah putih dan mengibarkan bendera merah putih pun kurang direspon oleh masyarakat.

Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini harga kemerdekaan sudah semakin memudar. Ini tanda-tanda yang tidak baik buat masa depan bangsa ini. Tanda-tanda buruk ini harus segera dihilangkan. Pemerintah harus berada di garda terdepan, melakukan berbagai aktivitas untuk kembali menggairahkan warga bangsa ini menghargai jasa-jasa pahlawannya. Caranya mengisi kemerdekaan ini dengan terus memupuk dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan, solidaritas dan toleransi. Membangun manusia yang ada melalui pendidikan dan kesehatan.

Tak hanya itu. Pekerjaan rumah (PR) terbesar saat ini adalah mencegah gerakan radikalisme dengan ‘pengantin’ terorisme yang pada waktu yang tidak diduga dengan bom pancinya siap membunuh sesama warga bangsa tanpa rasa kemanusian. Juga penyebaran ucaran kebencian terhadap sesama anak bangsa dengan berbungkus agama untuk memecah belah keutuhan NKRI. Pada hal tak satu pun agama yang diakui di republik ini mengajarkan dan membenarkan pembunuhan sadis terhadap manusia ciptaan Tuhan.


Ingatlah, Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Caranya mengisi kemerdekaan dengan kegiatan-kegiatan yang memerdekaan orang lain. Sudah kita siap merayakan HUT kemerdekaan tahun ini? Apakah masing-masing kita telah merdeka dan mau memerdekaan sesama kita? (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment