Tajuk : Jujur dan Berhati Putih Berpihak Nelayan Lokal

Bagikan Bagikan


NELAYAN, bukanlah suatu profesi yang mulia. Ia tidak disegani dan dihormati seperti profesi lainnya, guru, PNS, polisi, tentara, camat, kepala dinas, bupati, gubernur dan presiden. Walau demikian, fakta menunjukkan nelayan  adalah orang penting dalam suatu kehidupan. Tanpa nelayan, tidak mungkin ada hasil laut yang bisa dihidangkan di meja makan. Hasil laut yang kaya akan beragam vitamin, yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Kekurangan vitamin-vitamin penting itu dapat membuat seseorang bisa tumbuh tidak normal, bahkan menjadi manusia yang kurang cerdas.
Fakta ini seharusnya merubah paradigma berpikir kita akan begitu sangat pentingnya nelayan. Orang yang pergi melaut malam hari hingga fajar menyingsih, pulang dengan membawa hasil tangkapan ikan, udang, kepiting dan hasil laut lainnya.

Adalah masyarakat pesisir yang dominan dari Suku Kamoro, nelayan-nelayan tradisonal, yang hasil tangkapannya ikut mewarnai konsumsi ikan masyrakat Mimika. Hasil tangkapan ikan mereka  tak seberapa banyak bila dibandingkan dan disandingkan dengan hasil tangkapan ikan nelayan-nelayan pendatang dari luar Papua. Akibatnya mereka pun kalah bersaing, tersisih dan tersusah di negeri sendiri. Bahkan harus meratapi hasil tangkapan ikan yang didapat dengan susah payah karena tak luka di jual, karena tidak ada pembeli, sehingga busuk dan harus dibuang atau dijadikan makanan hewan lainnya.

Sudah dua kali nelayan pesisir yang umumnya warga Suku Kamoro plus sejumlah warga asal Asmat menggelar demo, menuntut keadilan dan keberpihakan dari Pemkab Mimika melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Mimika. Aksi pertama berlangsung damai dan kemudian berujung lahirnya sebuah moratorium yang memiliki keberpihakan lebih nyata kepada para nelayan ini.

Sayangnya moratorium di atas kertas ini belum sempat disosialisasikan dan diterapkan, aksi nelayan jilid dua, justru lahir prematur dan membuat suasana di Pelabuhan Poumako tidak saja mencekam, tapi juga berbalut duka, karena seorang nelayan harus merengang nyawa setelah tubuh kurusnya ditembus timah panas salah satu oknum anggota TNI berpakaian preman.

Lebih memilukan lagi, adanya pengakuan tulus murni dari sejumlah nelayan lokal bahwa para kepala kampung di daerah pesisir ini, telah memberi ijin kepada para nelayan pendatang untuk menangkap ikan. Masih diteliti, apakah pengakuan ini benar atau tidak. Tapi kalau benar adanya, maka ini sungguh keterlaluan. Ini namanya pagar makan tanaman. Para kepala kampung yang mestinya berpihak kepada warganya yang sudah hidup serba susah, justru menjual dan menggadaikan jabatannya untuk kepentingan nelayan pendatang yang selama ini telah terbukti menyusahkan nelayan lokal.

Dunia hitam pada lembaran kehidupan nelayan lokal asal Kamoro ini semakin memperhitam bisnis perikanan yang terjadi di pelabuhan Poumako selama ini. Adanya dugaan pungli yang dilakukan sejumlah oknum pejabat berwenang di Pelabuhan Poumako, sebenarnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah sedih dan pilu yang telah lama hingga kini menyelimuti kehidupan nelayan lokal. Diduga kuat, pungli yang mencekik leher nelayan luar yang lebih memilih diam agar usahanya aman dan lancar, membuat tidak ada pejabat pemerintah berwenang di pelabuhan Poumako yang peduli dan berpihak kepada nelayan lokal.  Ketiadaan keberpihakan inilah yang membuat, para nelayan menggelar aksi protes. Apakah satu nyawa yang hilang, bisa mengembalikan kejayaan kehidupan nelayan lokal  yang kini terampas nelayan pendatang?


Kini nelayan lokal sangat membutuhkan keberpihakan yang nyata, bukan sekadar kata-kata manis yang terukir indah diatas kertas putih. Keberpihakan yang didasarkan sikap jujur dan berhati putih dari para kepala kampung sebagai pelindung dan pengayom terdekat dari para nelayan ini, sampai Pemkab Mimika melalui Dinas Kelautan dan Perikanan. Tak kalah penting peran dari semua pejabat pemerintah yang ada di Pelabuhan Poumako. Gunakan sedikit kewenangan yang dimiliki untuk ikut peduli, ikut memajukan kehidupan nelayan lokal. Bukan sebaliknya, karena setumpuk duit, lalu lebih mementingkan bisnis ikan dari nelayan pendatang dan membiarkan nelayan lokal terus hidup terpuruk di negerinya sendiri. Ingatlah bahwa selama kehidupan nelayan local masih terabaikan dan terpuruk, maka suatu saat nanti, oknum-oknum pejabat yang selama ini kenyang menikmati pungli akan juga terabaikan, terpuruk dan terlempar dari posisinya. Semua ini tinggal menunggu waktu saja. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment