Tajuk : Menguak Ketidakadilan Guru Honorer dan Kontrak

Bagikan Bagikan


TUNTUTAN agar Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan (Dispendasbud) Kabupaten Mimika, Jenni O. Usmany berlaku adil terhadap ratusan guru honorer dengan membayar dana insentifsudah disampaikan sejumlah pihak, diantaranya Uskup Keuskupan Timika Mgr John Philip Saklil, Pr, Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) Robert Waraopea. Namun sejauh ini, harapan akan keadilan bagi para guru honorer yang sudah mengabdi ini hanya bertepuk sebelah tangan.

Kini ratusan guru honorer itu telah kembali ke kampong tugasnya masing-masing. Ada yang dipedalaman di kaki-kaki gunung dan bukit terpencil. Ada yang di perkampungan pesisir sungai berawa, dipagari hutan belantara. Kampung  yang sunyi dan sepi. Berteman gelap kelam di malam hari karena hanya bisa berharap setitik cahaya dari sumbu lampu teplok. Hidup susah harus diterima sebagai teman.

Adalah Uskup Keuskupan Timika, Mgr John Phillip Saklil, Pr yang berhasil meneduhkan hati ratusan guru honorer ini untuk melupakan hak berupa dana insentif, untuk pulang mendidik anak-anak asli Papua di kampung-kampung terpencil. Walau semula Uskup Saklil ikut bersuara meminta Kadispendasbud membayar insentif guru honorer ini karena mereka sudah bekerja. Tapi karena pendidikan anak-anak lebih penting dari segalanya, maka Uskup Saklil pun meminta para guru honorer ini balik kampung.

Lalu apakah langkah ini membuat masalah dana insentif guru honorer ini selesai? Ternyata tidak. Adalah Sekda Mimika Ausilius You kembali bersuara,membangkitkan harapan. You menegaskan dana insentif merupakan hak dari para guru honorer dan apa pun masalahnya, dana tersebut harus dibayarkan. Tidak bisa tidak. “Kalau dana insentif itu ada dalam DPA maka harus segera dicairkan untuk dibayarkan. Kalau tidak ada dalam DPA, maka Kepala Dispendasbud harus mencari solusi.Jangan bekin gerakan-gerakan tambahan,” kata You sebagaimana diberitakan Salam Papua, Rabu (30/8).

You yang mantan guru ini memang masih memiliki hati seorang guru, walau kini sudah menjabat sebagai Sekda. Siapa pun kita saat ini, mestinya harus memiliki hati yang berpihak kepada guru, karena tanpa guru, kita adalah orang bodoh yang tidak bisa apa-apa. Apa lagi bila Anda juga adalah seorang guru, bila tidak memiliki hati yang berpihak kepada guru, maka Anda  seperti kacang lupa kulit.

Sejauh ini, alasan para guru honorer ini tidak memiliki SK dari Bupati Mimika membuat Dispendasbud tidak bisa membayarkan dana insentif. Hanya gurur honorer yang memiliki SK dari Bupati Mimika yang akan menerima dana insentif. Bila tidak ada solusi cerdas terhadap fakta ini, maka ketidakadilan terhadap guru honorer akan terjadi sepanjang masa di daerah ini. Ratusan guru honorer yang berada dalam naungan YPPK, sudah pasti harus berlapang dada dan ‘menggemukkan hati’ menerima kenyataan guru-guru honorer yang diangkat Dispendasbud akan bergelimang dana insentif.

Menariknya kalau Permendikbud Nomor 8 tahun 2017 tentang Juknis BOS Sekolah dan SK Bupati Mimika dijadikan sebagai dasar untuk tidak membayar dana insentif guru honorer, lalu atas dasar apa para guru kontrak, yang sebagian dari mereka sudah habis masa kontraknya pada 31 Desember 2016, masih ditugaskan kembali mengajar tanpa ada perpanjangan kontrak dalam tahun 2017 dan gaji mereka dibayar utuh. Para guru kontrak ini juga mendapat dana insentif sesuai aturan yang ada. Apakah pembayaran gaji dan insentif kepada guru kontrak yang sudah tidak diperpanjang kontraknya di tahun 2017 ini dibenarkan secara hukum? Apakah ini tidak berpeluang menjadi temuan penyelewenangan dana pada Dispendasbud Mimika di tahun 2017 ini? Keadilan macam apakah yang sementara dipertontonkan  oleh Dispendasbud terhadap guru-guru non PNS di daerah ini?

Guru memang pahlawan tanpa pamrih, Seorang pemerhati pendidikan, Haim Ginott melukiskan guru sebagai berikut. “Mengajar bukan profesi. Mengajar adalah kegemaran. Aku telah mencapai sebuah kesimpulan yang menakutkan bahwa aku adalah unsur penentu di dalam kelas. Pendekatan pribadikulah yang menciptakan iklimnya. Suasana hatikulah yang membuat cuacanya.

Sebagai seorang guru, aku memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membuat hidup seseorang menderita atau gembira. Aku bisa menjadi alat penyiksa atau pemberi ilham, bisa bercanda atau mempermalukan, melukai atau menyembuhkan.

Dalam semua situasi, reaksikulah yang menentukan, apakah sebuah krisis akan memuncak atau mereda dan apakah seseorang akan diperlakukan sebagai manusia atau direndahkan”.

Terima kasih berlimpah untuk para guru honorer yang dalam semua situasi, terlebih harus kehilangan hak menerima insentif, merasa diperlakukan tidak adil, dengan dorongan motivasi besar dari Uskup Timika, memilih reaksi pulang kampung, kembali mengajar anak-anak asli Papua, yang memang tak pantas menjadi korban dari sebuah kebijakan yang sangat tidak bijak, tidak cerdas dan tidak adil. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment