Tajuk : Meraih Kearifan dari Puing Fasilitas Perusahaan

Bagikan Bagikan


KEMARIN, Sabtu (19/8), kita semua terhenyak menyaksikan berbagai fasilitas pendukung aktivitas perusahaan PT. Freeport Indonesia (PTFI) menjadi saksi dan puing-puing berserakan. Akibat dari aksi letupan emosi yang tidak terkendali eks karyawan PTFI.  Mereka beraksi dan berjuang atas nama menuntut hak mereka terhadap perusahaan. Alhasil, letupan emosi para karyawan itu mengundang semua mata warga Republik berpaling ke Kota Emas, Timika.  Mereka menonton wajah kota dan warganya  selalu penuh kegalauan.

Kegamangan situasi Timika menyeruak  rupa-rupa perasaan dan pikiran menilai persoalan itu. Bisa jadi kelompok senasib para eks kryawan PT. Freeport menilai itu wajar. Puing-puing fasillitas itu sebagai harga yang harus ditanggung perusahaan. Sah-sah saja! Kalau kita berharap dan meraih kearifan dari puing fasilitas perusahaan, perusahaan bisa bergeming, perusahaan tergugah menyelesaikan persoalan dalam ruang dialog yang setara. Harap ada seberkas sinar untuk itu.

Meski,  kaca mata berbeda, kita menerima dengan lapang dada. Kelompok yang menilai menyelesaikan persoalan tidak seharusnya mengambil jalan pintas sambil berharap meraih kearifan perusahaan dari puing-puing fasilitas yang mereka miliki. Hasilnya! Kita tidak mempunyai kekuatan tawar menawar untuk menggapai kemenangan. Kita malah terperosok lebih dalam dan terjerembab dalam kubangan masalah yang lebih rumit. Karena, logika menyelesaikan masalah dengan jalan pintas sangat mudah dicap sebagai kelompok perusuh dan membuka premis baru bagi kelompok atas nama negara menangkap serta membasmi pentolan-pentolan yang dianggap merusak fasilitas perusahaan dan  umum.

Maka kita berharap meraih kemenangan dari fasilitas puing-puing perusahaan sangat berbeda, dengan kita merebut kemenangan dari rahang kekalahan. Merebut kemenangan dari rahang kekalahan perusahaan corporate semestinya mengumpulkan seluruh kelemahan dan aturan perusahaan corporate.

Dari catatan media ini dan literatur yang dibaca awak media ini, meski tidak bermaksud mengendurkan perlawanan eks karyawaan PTFI. Tetapi, kita semestinya menempuh jalan meraih kemenangan dari rahang kelemahan perusahaan, terutama undang-undang perusahaan corporate, jika kita memang berniat merebut kemenangan dari rahang kekalahan.

Dan mungkin baik,  kita tidak berpikir pesimistis dengan sikap perusahaan dimana kita bekerja. Meski bersikap pesimistis seolah menjadi suatu mode. Tentu saja kita tahu betapa pentingnya harapan. Walau tidak dapat diingkari: “Masa depan 2017, berbeda cara melihatnya dengan “masa depan”  tahun 2025.  Mungkin karena kini kita tahu lebih banyak, dan juga kecewa lebih banyak. Dan ini berlaku buat alam pikiran umumnya di seluruh dunia.

Maka mereka yang merasa tahu apa yang akan terjadi bukan hanya berkhayal, tetapi juga berbahaya. Disinilah kita belajar mengedepankan dialog yang setara menjadi tonggak penting. Dialog setara yang memberikan kemungkinan perluasan ruang untuk bertukar pikiran dan berganti alternatif. Sebab masa depan memang tidak bisa dimonopoli sambil belajar berharap meraih kearifan tidak dari fasilitas puing perusahaan. (Fidelis S.J)  
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment