Tajuk : Merawat Kebersamaan Memupuk Kedamaian

Bagikan Bagikan


Demi merawat kebersamaan dan memupuk kedamaian. Masih mungkinkah setiap kata yang terselip dusta, sikap dan  pernyataan yang membekas lara serta luka. Kita memiliki ruang dan hati yang lapang memaafkan mereka yang meminta maaf?” Betul! Pernyataan dalam postingan Face Book (FB) Demianus Daskunda terhadap imam para gembala umat kita menyakitkan dan sadis. Emosional kita diaduk dan isi otak dikuras memikirkan pernyataan-pernyataan itu. Andaikan ketika itu, dia berhadapan dengan saya. Saya mungkin orang pertama pula yang menghujam, mengumpat dan mencaci maki Demianus Daskunda. Sejam, dua jam hingga lima jam kemudian, saya pulang ke rumah hendak beristirahat malam. Nada panggilan HP butut kesayangan saya mendendangkan sebuah bait lagu dalam madah bakti sebagai berikut: “Bawalah hati indah berseri ke altar yang suci dan seterusnya. Saya terkejut seraya meminta ampun.

Ketika itu, niat membagi pengalaman itu belum cukup berani membagikannya sebagaimana saat ini. Karena, saya teringat tiga kosa kata yang selalu meluncur mulus dari mulut dan lidah kita. “Indah pada waktunya. Bukankah waktu yang tepat itu sudah tiba untuk melapangkan hati memberi ruang dan pintu maaf kepada Demianus Daskunda sambil bernyanyi “bawalah hati indah berseri ke Altar yang suci memohon ampun dan menanti seberkas sinar menyinari hati kita yang terlanjur terisi sumpah dan serapah. Kita jangan memelihara kebencian dan dendam kesumat sampai ayam berkokok. Apa lagi, memahkotai ruang dan hati kita dengan hal-hal yang busuk. Ampunilah Demianus Daskunda. Sebab dia tidak tahu apa yang dia perbuat. Itulah kata kunci iman kita. Kasihilah sesamamu sama seperti dirimu sendiri. Maaf seribu maaf. Saya sama sekali tidak bermaksud menggurui dan menasihati siapapun. Saya hanya ingin menyergarkan ingatan kita untuk merawat kebersamaan dan memupuk kedamaian dalam hidup harian kita. Sebab betapa indahnya hidup rukun dan damai.

Dan apa yang kita pikirkan belum tentu benar menurut orang lain. Maka marilah kita berbesar hati sambil belajar menghormati hak asasi orang lain dalam rangka tertib hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita memetik hikmah positif dari pernyataan Demianus Daskunda sebagai media pencerahan rohani dan membawa kita pada titik pencerahan berpikir yang kritis. Dan dibalik itu barang kali, kita dibawa pada pertimbangan moral yang matang, nilai-nilai agama sambil mengajak kita bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban umum. Karnanya mari kita rawat kebersamaan dan memupuk kedamaian hingga hayat dikandung badan.    
  
Percayalah! Pernyataan Demianus Daskunda dalam postingannya kalau dicermati secara seksama. Kita justeru bersyukur. Dia sedang memperlihatkan dan mempertontonkan sesuatu yang sangat berharga bagi kita semua. Bahkan, dia sedang menunjuk sebuah arah yang jelas dan hendak membuka sebuah aib besar dibalik dana insentif guru-guru honor. Terlepas dari dia ikut terlibat atau tidak terlibat. Lalu, dia ikut melindungi dan membungkus sesuatu yang busuk  atau tidak bukan urusan kita. Kita sebenarnya bersyukur dengan pernyataannya itu. Karena, dia ibarat bintang dari timur sedang menerangi arah jalan bagi guru-guru honor membuka aib dana insentif. Bagaimana tidak! Demianus dengan pernyataan emosional yang dialamatkan pada pihak lain sebenarnya, dia sedang membuka jalan mulus membuka aib dana insentif bagi para penyidik untuk membongkar kasus dana insentif. Ingat, Polisi begitu cepat mengamankan Demianus Daskunda. Dari satu sisi, Polisi hendak menjawab desakan Pemuda Katolik (PK) dan sisi lain Polisi menjadikan Demianus Daskunda sebuai media membuka borok yang terjadi di Dinas Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Kabupaten (Dispendasbud) Mimika. Apa bila, Polisi merawat Demianus Daskunda sebagai pion membuka tabir dana insentif dan polisi menjalankan amanat sebagai lembaga penegak hukum. Maka Demianus Daskunda pasti dipiara dan dirawat hingga gemuk sambil menunggu dia kesurupan dan menceriterakan seluruh apa yang terjadi di Dispendasbud.  


Logikanya sangat sederhana. Dia berani mencela profesi para imam atau petugas gereja, karena memang ada sesuatu yang tidak beres di Dispendasbud. Kalau di Dispendasbud berjalan normal dan tidak ada sesuatu yang berbau aneh. Demianus Daskunda tidak mungkin berani mencela gembala umat.  Karna dia bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita semuanya. Maka, bagian yang satu ini, mari kita serahkan pada yang berwenang untuk itu. Saya sangat percaya polisi akan merawat Demianus Daskunda sebagai jalan mulus membuka selubung aib di Dispendasbud Mimika. Namun, dari kaca mata iman dan demi keharmonisan dan kedamaian hidup di Mimika, mari kita merawat kebersamaan dan memupuk kedamaian. (Fidelis S.J)          
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment