Tajuk : Nelayan Suku Kamoro Butuh Solusi Nyata

Bagikan Bagikan


AKSI demo yang dilakukan ratusan nelayan local asli Suku Kamoro beberapa hari lalu intinya menuntut pemerintah daerah memberikan solusi yang nyata, yang menjawab tuntutan mereka sekaligus melepaskan mereka dari belenggu pemasaran ikan dan udang yang selama ini tersumbat.
Aksi demo dilakukan karena selama ini tidak satu pun pihak yang peduli terhadap hasil tangkapan ikan dan udang mereka. Karena tidak laku terjual, ikan dan udang membusuk dan terpaksa harus dibuang. Akibatnya mereka tidak memperoleh pendapatan (uang) untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup, menyekolahkan anak, biaya berobat dan lain-lain.

Di sisi lain, nelayan dari luar dengan tangkapan ikan yang banyak, dengan mudah memasarkan hasil tangkapannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Mimika. Hasil tangkapan para nelayan luar ini, menjadi bisnis menggiurkan dari sejumlah oknum berwenang di Pelabuhan Poumako, untuk meraup keuntungan besar.

Bisa dibayangkan dengan kewenangan yang dimiliki, oknum-oknum berwenang ini bisa mendapatkan berbagai jenis ikan berkelas dengan gratis. Mau berapa karung ikan pun pasti dipenuhi nelayan luar, karena bila tidak dipenuhi akan dipersulit usahanya. Selalu ada cela untuk menghambat atau mempersulit. Jadi dari pada dipersulit, penuhi saja permintaan-permintaan tersebut. Toh ikan yang diberikan itu diperoleh secara gratis dari laut. Jumlah yang masih ada pun sangat banyak, jadi tidak rugi bila permintaan tersebut dipenuhi.

Informasi yang di dapat, hampir semua penjual ikan  yang ada di Timika sudah dikendalikan oknum-oknum berwenang terkait bisnis ikan di Pelabuhan Poumako. Harus beli ikan dari si A, tidak boleh dari si B. Melanggar itu pasti disusahkan usahanya. Bahkan perang di arena bisnis ikan ini, juga diwarna praktek kotor untuk mendiskreditkan pihak lain. Misalnya si A membawa atau menjual ikan busuk ke si B, tapi kemudian menjual nama si C sebagai pelakunya.

Bila praktek bisnis ikan yang kotor, yang menyusahkan nelayan local asli Kamoro ini dibiarkan, maka sudah pasti permasalahan terkait tuntutan nelayan local tidak pernah tuntas. Bahkan bila nelayan local tetap bertahan dengan tuntutan mereka dengan terus melakukan aksi demo, maka sudah pasti bisnis ikan di daerah ini akan lumpuh.

Sekarang ini saja, terdapat puluhan kapal ikan milik nelayan luar yang tertahan di tengah laut, karena tidak bisa merapat ke pelabuhan untuk membongkar muatannya dan kemudian di kirim ke luar. Bahkan ada sejumlah kapal yang konon sudah membuang semua hasil tangkapan ikannya karena sudah rusak dan tak layak dikonsumsi. Sampai kapan kondisi semacam ini akan terjadi?

Bila kondisi ini terus terjadi, maka yang dikorbankan adalah nelayan luar. Walau pun mereka diduga sudah kongkalikong dengan oknum pejabat berwenang di pelabuhan Poumako, oknum pejabat ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong nelayan luar ini.

Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya solusi adalah memenuhi tuntutan para nelayan local. Salah satu caranya, nelayan luar harus mau membeli hasil tangkapan ikan dan udang nelayan local. Tidak bisa tidak. Membeli hasil tangkapan ikan dan udang nelayan local tidak hanya bentuk kepedulian, tapi keberpihakan untuk memajukan kehidupan mereka.

Atau bila ada pengusaha lain yang bersedia mengembangkan usahanya untuk membeli hasil tangkapan ikan dan udang para nelayan local ini, maka Pemkab Mimika melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) harus mendukung penuh. Jangan mencari alibi untuk menghambat atau menolak. Pengusaha ini harus diberi kemudahan agar tuntutan para nelayan local ini bisa terjawab. Inilah solusi nyata yang bisa diberikan kepada para nelayan local. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment