TNI Siaga 1, Polisi Investigasi Kasus Pengrusakan Fasilitas dan Kendaraan

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) - Pasca unjuk rasa yang dilakukan dengan cara anarkis, berupa pengrusakan disertai pembakaran, situasi disejumlah lokasi dijaga ketat aparat. Mengantisipasi ada aksi susulan yang dilakukan karyawan aksi mogok Freeport, TNI memberlakukan siaga 1.

"Saat ini pasukan TNI mulai darat, laut, udara, brigif, batalyon, denkav, lanal, lanud sudah siaga satu. Sekitar ada tiga kompi sudah siap semua, tinggal menunggu perkuatan saja dipanggil," kata Dandim 1710/Mimika, Letkol Inf Windarto, Sabtu (19/8) malam yang ditemui di Petrosea, Jalan Cenderawasih.

Kata Windarto, sudah ada 8 pleton personil TNI yang dikerahkan guna mengamankan sejumlah lokasi yang boleh dibilang rawan adanya aksi penyerangan. Salah satunya adalah wilayah Kuala Kencana.

"Di gorong-gorong kita tempatkan 1 pleton, di Check Point 28 ada 2 pleton, di Petrosea ada 1 pleton, di koramil kuala ada 4 pleton. Jadi sudah ada 8 pleton," katanya.

Pasca pembubaran aksi unjuk rasa disertai pengrusakan hingga pembakaran fasilitas perusahaan oleh massa aksi mogok kerja Freeport, kini mereka terlihat memadati wilayah sekitar gorong-gorong maupun posko aksi mogok kerja karyawan Freeport, Jalan Pendidikan dan kantor sekretariat SPSI Freeport, Jalan Budi Utomo.

Aksi unjuk rasa ribuan karyawan mogok di Check Point 28 dilakukan dengan merusak hingga membakar kendaraan roda empat, trailer dan excavator milik Freeport, serta merusak dan membakar kendaraan roda dua milik karyawan yang sementara berkerja.

Atas aksi itu, aparat gabungan TNI-Polri membubarkan massa dari Check Point 28. Massa kemudian menuju kearah Timika. Selanjutnya menuju gorong-goronng merusak pos dan kendaraan roda dua kemudian dibakar.

Selanjutnya melakukan penyerangan ke kantor PT Petrosea dan merusak pos dan kantor serta puluhan kendaraan.

Ditempat yang sama, Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, aksi unjuk rasa dengan cara seperti ini tidak dibenarkan. Oleh karena kepolisian akan melakukan investigasi dan memproses hukum perbuatan anarkis yang dilakukan.

"Ini bukan unjuk rasa lagi, ini perbuatan kriminal dan kita akan melakukan investigasi semuanya," kata Boy Rafli.

"Jadi ini sangat kita sayangkan, terutama unjuk rasa tidak ada pemberitahuan, kemudian unjuk rasa ada mengerahkan juga anak-anak, wanita, kemudian juga mereka melakukan aksi-aksi anarkis," tambahnya. (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment