Victor Mackbon, Percikan Hati Kunci Pelayanan Berhasil

Bagikan Bagikan
Tokoh Inspiratih Pilihan Salam Papua Menyambut HUT RI ke 72

“Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan. Kita semua tahu siapa diri kita, tetapi kita takkan pernah tahu seperti apa kita nantinya. Maka saya belajar bahwa keberanian tidak akan pernah absen dari ketakutan. Tetapi mereka yang berhasil menang atas itu, bukan orang yang tidak pernah merasa takut, tapi mereka yang bisa menaklukkan rasa takut itu.”

PERCIKAN  hati dan ekspresi bahasa tubuh tokoh inspiratif pilihan  Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua yang ditampilkan dalam edisi ke empat dalam rangka menyambut HUT RI ke 72 ini terlukis amat jelas dalam petikan sederet kata mutiara yang patut disematkan kepada dirinya. Karena, suasana batin dan gelora jiwanya yang terlukis dalam pelayanannya kepada masyarakat Mimika. Ia memercikan seberkas sinar harapan dari sosoknya yang sederhana berhati jujur. Keberanian menelusuri lorong-lorong gelap mendengar harapan dan menghidangkan suasana aman kepada warga Mimika tersingkap dalam ketulusan jiwanya dalam pelayanan. Meski riak kegelisahan bersenandung bersama dalam lautan keberanian. Ia pantang menyerah memaklumatkan anak-anak timur Indonesia yang  terjaga lebih dahulu bisa mewartakan seberkas harapan dari timur  Indonesia yang tidak sabar menunggu citra Papua menjadi miniatur Indonesia.

Siapa dia dalam kisah masa kecil, remaja dalam pelukan keluarga asal, meniti impian dan mengbadi kepada masyararakat, ikuti goresan kisahnya yang sangat menginspirasi semua pihak dalam wawancara ekslusif media ini, di Polres Mimika, Rabu (9/8) lalu.

Dia adalah AKBP Victor Dean Mackbon, S.IK, SH, MH, M.Si. Victor  lahir di sebuah kota bersejarah dalam peradaban Papua. Sebuah kota pekabaran Injil pertama  masuk Papua, tepatnya di Propinsi Papua Barat, Manokwari, 13 Juni 1979. Victor anak ketiga dari empat bersaudara, buah kasih  pasangan Ir. Hanok Elyeser Mackbon, Ph.D asal Biak Numfor dan Chaerijati Mackbon asal Sunda, Jawa Barat.  “Ayah saya asal dari Biak Numfor dan ibu asal dari Sunda. Saya lahir di Manokwari. Ayah saya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang hari-hari bekerja sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Cendrawasih, Manokwari,” tuturnya polos mengenang masa kecil di Manokwari.

Viktor yang malu-malu kalau dirinya ibarat pepatah buah jatuh tidak pernah jauh dari pohon ini merampungkan Sekolah Dasar (SD) di SDN 01 Pancoran dan SMPN  43 Tandean,  SMAN 55 Jakarta hingga kelas II di Metropolitan Jakarta mengisahkan menikmati pendidikan di Ibu Kota, karena ayahnya berpindah tugas di Jakarta.

“Saya masa kecil di Manokwari. Tetapi saya merampungkan pendidikan SD, SMP hingga SMA  kelas II di Jakarta dan tinggal di Kali Malang, sekolah di Kali Bata. Ketika saya memasuki kelas III, hari-hari waktu hanya habis di jalan akibat macet. Akhirnya, awal tahun ajaran baru,  saya memilih melanjutkan pendidikan SMA di SMAN II Jayapura dan tinggal di Dok V Atas, tepatnya di Angkasa. Dari kecil saya hanya bermimpi seperti ayah bertitel insinyur. Saya sama sekali tidak pernah bermimpi dari sejak kecil menjadi polisi. Mungkin akibat dari keluarga besar saya pada waktu itu tidak ada yang menjadi potret bagi saya bercita-cita menjadi polisi dan ayah saya juga kurang  mendukung.  Tetapi, dikompleks kami tinggal di Angkasa Jayapura, tetangga rumah ada Wisma Perwira Polisi. Saya sering bergaul dengan mereka. Saya kepincut melihat perawakan mereka dan bodi kekar-kekar. Pokoknya kalau mereka berpakaian dinas, tampaknya gagah perkasa, itu awal cita-cita saya ingin menjadi polisi,” tuturnya mengenang memori menyaksikan perawakan anggota polisi sebagai anggota pelindung dan pengayom rakyat.

Viktor panggilan akrab AKBP Victor Dean Mackbon yang sangat teguh memegang prinsip hidup Iman tanpa ilmu bagaikan lentera di tangan bayi. Namun ilmu tanpa iman, bagaikan lentera di tangan pencuri ini mengaku terkejut dengan rekan-rekannya sesama anak-anak Papua di SMAN II Jayapura yang pintar-pintar dan membuat dirinya merasa risih.

“Saya terkejut anak-anak Papua pintar-pintar. Saya malu sekali. Masak saya yang sempat hidup dari SD sampai kelas II SMA di Jakarta tidak bisa menyaingi mereka. Dan ayah saya sangat disiplin dan hidupnya selalu dengan buku-buku. Maka saya mulai mengejar dan berjuang belajar tekun dan tidak menyia-nyiakan kesempatan hingga tamat kelas III di SMAN II Jayapura tidak kalah dari anak-anak Papua yang lain,” tuturnya polos seraya berkata: “Hobi saya itu suka hal-hal yang menantang.”

Viktor yang selain suka hal-hal menantang dan suka bermain basket ini menceriterakan, setelah tamat SMAN II Jayapura 1997, ayah menyarankan mendaftar masuk ITB. Dan waktu  bersamaan ada pendaftaran masuk Akmil dengan formasi untuk Angkatan Darat, Laut, Udara dan Polisi.

“Saya mendaftar ikut saran ayah saya masuk ITB dan ketika tes masuk ITB, lulus. Dan saya diam-diam mendaftar juga masuk Akmil dengan pilihan Angkatan Darat. Saya tidak memilih polisi. Hasil tes saya diterima untuk masuk taruna di Magelang. Karena saya suka hal-hal yang menantang. Saya melupakan impian ke ITB dan memilih masuk Akmil di Magelang. Ya, ayah dan ibu tidak bisa menolak. Berangkatlah ke Magelang dan mengikuti seluruh proses sebagai Taruna di Akmil Magelang selama 3,5 bulan. Ketika akhir pendidikan di Magelang, instruktur mengumumkan saya melanjutkan pendidikan perwira polisi. Saya awalnya kecewa, ingin jadi tentara malah jadi polisi. Meski begitu, saya teringat dengan obsesi awal melihat perwira polisi di Jayapura. Saya semangat 45  lagi meneruskan pendidikan perwira di Semarang hingga dikukuhkan dengan pangkat Ipda. Ayah dan ibu saya bangga sekali. Dari awal, mereka kurang mendukung. Tapi mereka sangat bahagia ketika saya dikukuhkan,” tuturnya polos dan terlihat dalam bola matanya berlinang air mata.

Anak dari pulau karang Biak, timur Indonesia  berniat membawa  seberkas sinar harapan  yang tak sabar menunggu mengabdi mendapat tugas pertama di Padang Sumatra Barat. “Saya mendapat tugas pertama di Padang dalam Korps Brimob. Dari Danton sampai Komandan Kompi dan saya tujuh tahun di sana sebelum naik pangkat AKP masuk PITK 2007 di Semarang dan lulus dengan lima besar.  Setelah tamat PITK , saya mendapat TR sebagai Kapolsek di Gang Doli di Polwiltabes Surabaya selama setahun. Saya benar-benar mendapat banyak pengalaman menangani kehidupan warga masyarakat yang rawan masalah, soalnya wilayah tugas saya itu daerah lokalisasi.  Tetapi,  betul orang bilang! Guru terbaik dalam hidup itu adalah pengalaman. Apalagi, kita bisa mengintegrasikan dalam tugas menjalankan manajemen Komunikasi,  koordinasi dan kolaborasi yang disertai dengan percikan pendekatan hati pasti sukses,” katanya bersemangat.

Buah kasih dari mantan Caretaker Bupati Mappi, Hanok Elyeser Mackbon ini mengisahkan, setelah ditempa dengan pengalaman bertugas di daerah yang rawan masalah mendapat Job baru sebagai Kasatreskrim di Polres Sidoarjo. Disana, Victor mengaku menghadapi warga pengungsi akibat lumpur Lapindo. “Saya bahagia sekali bertugas di tempat seperti itu. Karena saya suka dengan hal-hal yang sangat menantang. Dan saya mendapat pimpinan yang banyak memberikan pelajaran berharga dalam tugas saya saat ini. Kapolres saya waktu bertugas di Polres Sidoarjo itu sangat baik. Saya banyak belajar dari dia. Dia mentor saya. Bagaimana melakukan pendekatan yang terukur dengan warga mulai pendekatan persuasif, preventif dan kapan represif. Disamping itu, saya juga memanfaatkan waktu lowong dengan belajar hingga bisa meraih sarjana hukum dan master hukum selama di Surabaya,” tuturnya polos.

Gen suka bergaul dengan buku dari sang ayah, Vicktor yang selalu berihtiar bertugas sambil mengejar ilmu sampai ke negeri Tirai Bambu Cina dengan belajar dan berfalsafah “Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah” ini  mengisahkan, seusai bertugas sebagai Kasatreskrim di Polres Sidoarjo mendapat amanah sebagai Kapolsek Wonokromo, Surabaya.
“Saya mendapat pelajaran baru di Polsek Wonokromo itu etalase Surabaya, tetapi berhadapan dengan kelompok  terkenal kejahatan jalanan, seperti Curamor dan jambret. Disitu saya mulai akrab dengan gaya hidup di jalanan untuk menekan kejahatan Curanmor dan jambret empat bulan,” tuturnya.
     
Memang kisah anak Papua yang satu ini ibarat sebuah kiasan bahwa kita semua tahu siapa diri kita, tetapi kita takkan pernah tahu seperti apa kita nantinya. Demikian pun Victor tidak pernah tahu dengan keberhasilannya lulus dengan lima besar selama pendidikan PITK  membuatnya dipercaya sebagai pengasuh Taruna di PITK Semarang selama dua tahun. Dari sana pula, Victor yang tidak bercita-cita menjadi polisi mendapat amanah mengikuti seleksi dan lolos seleksi mendapat amanat Komandan Paskibra 2010 di Istana Presiden  lolos seleksi masuk anggota misi perdamaian PBB di Sudan.

“Saya sangat bahagia sekali. Andaikata saya bukan bagian dari anggota polisi, mana mungkin saya bisa menjadi Komandan Paskibra dan mengikuti misi perdamaian PBB di Sudan. Jadi saya sudah menikmati padang pasir dan unta. Bahkan, disitu saya mendapat pengalaman yang tidak akan mungkin terjadi dua kali dalam hidup kita bertemu dan mengawal duta besar Amerika untuk Sudan. Di Sudan itu pula saya mulai rindu dan ingin pulang kampung mengabdi di Papua. Ya, saya sulit melukiskannya dengan kata-kata kebahagiaan itu,” tuturnya.

Suami Ayudyah Setiawati, kelahiran Ambon yang  orang tuanya berasal dari Tulung Agung itu mengaku setelah pulang dari Sudan menjalankan amanat tugas sebagai anggota misi perdamaian PBB kembali bertugas di Polda Jatim  dan menduduki jabatan Kanit Jatanras. “Saya ditempa lagi dengan pengalaman hidup di jalan untuk mengungkapkan dan menangkap penjahat yang merampok emas dan nasabah bank. Yang membuat saya bahagia itu. Saya dan beberapa anggota berhasil menangkap penjahat perampok emas dan tertangkap di Palembang,” tutur ayah dari Yehezkiel  Mackbon dan Yeremias Maleaki Mackbon ini.

Ayah Yehezkiel dan Yeremias yang berpenampilan ramah tamah dan tidak terkesan seorang perwira berpangkat AKBP tatkala tidak berpakaian dinas ini mengisahkan perjalanan karirnya berkat dari loyalitas dan dedikasi yang tinggi terhadap profesi. Untuk memperkaya dedikasi dan loyalitas profesi sebagai polisi itu dengan mempersenjatai diri dengan kesetetiaan melaksanakan tugas bagi masyarakat. Harga kesetiaan dalam pelayanan kepada masyarakat ketika kita menyaksikan warga masyarakat hidup aman dan damai. Itu berarti misi pelayanan publik tercapai dan kepuasan batin terwujud.

“Makanya saya sangat bangga bisa menjadi polisi. Dan saya lebih berbangga ketika anggota saya bisa memenuhi kebutuhan warga masyarakat yang mengharapkan perhatian polisi. Karena. Kapan lagi kita bisa memberikan cahaya dan seberkas sinar harapan dan perhatian kepada masyarakat,” tuturnya sembari meminta maaf ketika disibukan menerima telpon.

Kabarnya anda sempat menjadi Wakapolres di Malang sebelum mendapat kepercayaan sebagai Kapolres Mimika Oktober 2016. Viktor membenarkan kalau ia pernah menjadi Wakapolres di Polres Malang Jawa Timur. “Itu betul!  Puji Tuhan, saya sempat menjadi Wakapolres di Malang dan mendapat kepercayaan sebagai Kapolres Mimika,” tuturnya sambil berterus terang gandrung dengan kekasih jiwanya Ayudyah Setiawati hingga menikah dan dikarunia dua orang buah kasih yang dikarunia Tuhan menjalin cinta sejatinya semenjak tingkat II di Pendidikan Perwira di Semarang.

Dari perjalanan karir anda melewati jenjang jabatan selalu bersentuhan langsung dengan wilayah tugas yang sangat beresiko dan mendapat tugas di Polres Mimika sebagai Kapolres di wilayah hukum yang intensitas konfliknya lumayan menggelisahkan?” “Itu pertanyaan menarik. Resiko adalah peluang dan kesempatan memenej pelayanan kepada publik dan kita akan mendapat banyak pengalaman dari situ. Pengalaman itu guru terbaik untuk memberikan pencerahan dalam tugas. Bagi saya di Polres Mimika. Saya sedang menata secara internal bagaimana anggota bisa memberikan pelayanan yang maksimal dan menjawab perhatian penuh yang dibutuhkan warga Mimika. Maka secara internal kita benah dan anggota dibimbing supaya cerdas, kreatif dan melakukan berbagai inovasi. Maka saya tidak suka dengan anggota yang suka Asal Bapa Senang (ABS).  Saya suka anggota yang cerdas, kreatif dan berinovasi. Dan satu hal kita upayakan mampu memberi seberkas sinar harapan kepada warga melalui pelayanan yang prima,” tuturnya.

Sosok ini suka jalan dari lorong ke lorong di Mimika dan pernah melewati kejadian yang pelik, diantaranya kejadian di Banti dan sidang Sudiro. Bagaimana anda melewati dan bisa mengatasi situasi itu?” “Ya, itu benar. Itulah suka dan duka dalam tugas. Saya suka jalan itu untuk mendekati warga dari hati ke hati. Dengan pendekatan seperti itu saya berharap warga bisa menyampaikan keluh kesah mereka. Dan kita bisa mendapat masukan untuk memberikan pelayanan yang baik kepada warga masyarakat, itu saja. Sederhananya, saya mencoba menata sebuah komunikasi yang intens, berkoordinasi dan mengelaborasi semua apa yang menjadi kebutuhan dalam pembenahan internal dan eksternal di Polres Mimika,” tuturnya.

Anda berani sekali menghadirkan commander wish dan konon Polres Mimika salah satu Polres pertama dari sekian Polres di Papua yang menggunakan Information Teknology (IT) ditengah infrastruktur pendukung seperti listrik sering mati-mati dan internet lelet. Viktor menjelaskan bukan soal berani dan tidak berani. Visi dan misi dasar menggunakan IT di Polres Mimika itu terobsesi dari visi dan misi dasar Bapak Kapolri yang mengedepankan pelayanan yang prima kepada masyarakat. Mewujudkan reformasi kultural, terutama dalam hal menekan budaya koruptif dan menghadirkan sosok polisi yang humanis. Target lain yang ingin dicapai yaitu untuk memperbaiki sistim layanan publik, meningkatkan profesionalisme dalam penegakan hukum, meningkatkan dan menciptakan stabilitas keamanan dan menghadirkan sebuah manajemen media. “Itu tujuan yang mendasar. Soal infrastruktur, saya kira itu bukan domaian kepolisian, karena itu tanggung jawab pemerintah daerah. Meskipun kita berharap dengan kehadiran pelayanan IT seperti ini untuk masyarakat, pemerintah daerah ikut bergerak cepat membenah infrastruktur pendukungnya. Saya kira seperti itu,” katanya.

Sosok anak Papua yang kreatif ini pula mengaku dimensi lain kehadiran Commander Wish di Polres Mimika itu hendak memberi bentuk konkrit mengisi kemerdekaan RI dan menyambut HUT RI ke 72 di Kabupaten Mimika. Sehingga, anggota Polres Mimika yang merupakan bagian integral dari Kepolisian Negara Republik Indonesia ke depan termotivasi dan terbantu dalam pelaksanaan tugas melayani warga Kabupaten Mimika secara maksimal. Secara eksplisit, Polres Mimika bisa mewujudkan visi dan misi Bapak Kapolri. Dan dalam momentum menyambut HUT RI ke 72 di Kabupaten Mimika perlahan-lahan menghadirkan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat dengan menggunakan sebuah sistem IT. “Saya kira kita tidak bisa menunggu semua serba sempurna baru kita memulai sesuatu yang bisa kita lakukan untuk kepentingan pelayanan kepada masyarakat. Bila perlu kita bisa menciptakan momentum setiap hari untuk berubah. Singkat kata kita jadikan 17 Agustus itu setiap hari jadi momentum untuk berubah,” tegasnya meyakinkan. (Fidelis S J)

            
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment