Windarto, Sekolah Bersepeda Butut Pulang ke Sawah

Bagikan Bagikan
Tokoh Inspiratif Pilihan Salam Papua Menyambut HUT RI ke 72



KISAH hidup masa lalu dari semua tokoh inspiratif pilihan Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua dalam rangka menyambut HUT RI ke 72 hingga keenam, mencapai kesuksesan dan menjadi pimpinan setiap lembaga, mereka lalui dalam masa-masa sulit. Mereka merasakan, menyadari dan mengelola keterbatasan orang tua dalam hal ekonomi. Keterbatasan itu sebagai sumbu memantik semangat belajar dan tidak menyia-nyiakan kesempatan mengasah diri dengan semangat belajar.  Mereka tegar, kuat, dan pantang menyerah melakukan yang terbaik. Alhasil, mereka menikmati buah manis dari jejak-jejak masa lalu itu dalam posisi saat ini.   

Bagaimana kisah tokoh yang satu ini menjadi inspirasi bagi kita.  Ikuti kisahnya dan memetik buah manis dari rute perjalanannya hingga menjadi Komandan Kodim 1710 Mimika. Tokoh ini merakit hidupnya melalui disiplin belajar tanpa mengenal batas waktu. Waktu adalah peluang dan kesempatan meraih kesuksesan hidup. Dia berprinsip masa depan adalah milik mereka yang percaya akan keindahan dan surga kesuksesan.

 “Saya merenungi titian masa lalu hingga seperti ini sekarang adalah buah manis dari semangat ke sekolah dengan sepeda butut dan sepatu rusak. Walau saya akui kadang bersungut dalam hati. Mengapa? Orang tua saya selalu menunggu sepeda butut saya rusak. Sepatu sudah tidak layak dipakai baru membelikan yang baru. Sementera, saya minta membelikan buku pagi hari, siang atau sore sudah tersedia. Saya baru menyadari kemudian. Ternyata, itulah cara orang tua mengasah setiap anaknya memaknai hidup dan mempersiapkan anaknya setia menunggu waktu yang tepat. Memulai dari apa yang ada dan memanfaatkan  apa pun yang kita  miliki. Karena sarana yang lebih baik akan ditemukan, ketika kita  melangkah dan menggenggam kesuksesan,” tutur Komandan Kodim 1710 Mimika, Letkol Inf. Windarto dalam sebuah wawancara eksklusif dalam rangka menyambut HUT RI ke 72, di ruangan kerjanya di Kodim 1710 Mimika beberapa waktu lalu.

Buah kasih pasangan Maryadianto dan Utarti ini mengakui kalau kesuksesan yang dinikmatinya saat ini tidak terlepas dari perjuangan kedua orang tuanya. “Ayah saya memang seorang guru SMP yang mengajar matematika dan fisika. Ibu, DPR alias bekerja didapur,” tuturnya tertawa terbahak-bahak sambil berkata: “Itu guyon saja. Ibu saya itu ibu rumah tangga. Hanya saya bersyukur ayah dan ibu saya itu orang yang cukup terpandang di desa saya seraya mempersilahkan dan meminta media ini, wawancaranya sambil merokok ya dan ditemani kopi, enak loh! “Tapi...., Komandan ada AC,” sergah media ini. “Nggak masalah, merokok saja,” sambungnya.

Adik dari dr. Winanti dan kakak dari Anton Victory lulusan STPDN dan kini berkarya sebagai Kabid di Pemda Bantul ini mengakui kalau orang tuanya selain membesarkan, menyekolahkan kakak dan adiknya masih beberapa sepupu lain yang hidup bersama mereka. “Kami memang hanya tiga bersaudara, kakak saya Winanti seorang dokter dan suaminya polisi. Adik saya Anton lulusan STPDN, sekarang jabatannya salah satu Kabid di Satpol PP Bantul, Jogyakarta. Tetapi, ada tiga orang sepupu, anak yatim. Anak dari kakak ayah saya tinggal bersama kami. Maka ayah saya selain mengajar. Dia pulang sekolah selalu ke sawah menanam padi dan menanam brambang (bawang merah) untuk menutup kekurangan hidup keluarga. Saya pun kalau pulang sekolah turun ke sawah dan menyiram brambang. Tetapi, kalau saya pulang dan langsung belajar. Biasanya ayah saya tidak mengajak ke sawah,” tuturnya polos seraya berkata: “Hanya kalau saya pulang sekolah makan dan langsung pergi bermain sepak bola plastik atau membawa kartepel mencari burung dengan teman pasti dicari sampai dapat dan disuruh segera ke sawah bersama ayah saya.”

Pemilik zodiak Capricorn yang lahir 17 Januari 1977 di Desa Tirtosari, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul Jogyakarta ini mengisahkan,  dirinya merampungkan sekolah dasar di SDN II Tirtosari dan sudah tutup 1989. SMP di Padang Redjo 1992 dan SMA di Taruna Nusantara Magelang angkatan ke tiga 1993 dan lulus 1996. “Saya selama di SD juara terus dan pelajaran faforit saya itu Matematika dan Fisika. Saya pernah juara III Kabupaten lomba Matematika. Meski zaman itu di desa kami belum ada listrik dan belajar dengan lampu teplok.  Di SMP dari kelas I – III juara I kelas. Selama SMP sempat menikmati juara I lomba P4 tingkat Kabupaten. Singkat ceritera saya menikmati selalu juara hasil dari ayah dan ibu menuntun saya, kakak dan adik saya belajar secara teratur, walau saya tadi bilang belajar dengan lampu teplok.  Jadi modal itu juga mungkin ketika saya mendaftar dan mengkuti tes masuk SMA Taruna Nusantara Magelang, lolos tes masuk,” tuturnya.

Ketika Salam Papua menelusuri cita-cita masa kecil, pasangan sejati darah ayu asal Jogyakarta, Erma Yustiana ini mengaku belum ada gambaran sama sekali. “Waktu kecil seingat saya belum ada gambaran. Tumbuhnya cita-cita menjadi anggota TNI AD itu, ketika saya hari-hari menyaksikan Taruna Akmil yang lagi mengikuti pendidikan di Akmil Magelang.  Bodinya kekar-kekar dan tinggi. Saya sangat gandrung dengan perawakan mereka dan saya ketahui pula, masuk Taruna Akmil bebas biaya alias  gratis. Saya juga melihat kondisi orang tua saya. Kakak saya masuk kedokteran biayanya sangat mahal. Maka. ketika saya tamat SMA Taruna Nusantara Magelang dan bermodalkan Nem tinggi, 65. Saya mendaftar dan mengikuti tes Taruna Akmil. Orang tua saya sangat mendukung, walau saya kurang tinggi setengah centi meter. Tapi, alhamddulilah saya lolos dengan pertimbangan dari intelegensi saya cukup bagus dan diterima sesuai pilihan  pertama Taruna Angkatan Darat hingga mengikuti pendidikan selama tiga tahun hingga dikukuhkan berpangkat letnan dua,” tuturnya.

Ayah dari Marza Aliah dan Naila Faiza yang sangat kukuh dengan prinsip hidupnya. Jangan menunggu, tidak akan pernah ada waktu yang tepat. Mulailah di mana pun kita  berada. Bekerja dengan alat apa pun yang kita miliki dengan memperbanyak pengalaman. Kita tidak boleh berhenti belajar, selalu mencoba dan melakukan yang terebaik dengan mencurahkan seluruh energi untuk bergerak maju mencari jawabannya. “Itu semangat hidup yang saya lalui. Ketika saya menimba ilmu di SMA Taruna Nusantara Magelang dalam hidup asrama yang semua tertata rapih dalam kedisiplinan yang tinggi. Di sana, kami sudah diatur, kapan bangun pagi, sekolah, makan, istirahat siang, olah raga,   jam belajar dan makan malam,” tuturnya bangga mengenang almamater SMA Taruna Nusantara Magelang.

Sosok Kodim 1710 Mimika yang mengakui kisah cintanya dengan ibu dari Marza Aliah dan Naila Faiza ini terjalin tanpa mengetahui paras darah manis asal Jogya, kecuali ayah dan ibunya. “Jadi saya lagi bertugas di Aceh. Ayah dan ibu saya langsung meminang ibunya Marza dan Naila itu ke rumah orang tuanya. Saya sama sekali tidak tahu sosok calon istri saya seperti apa. Setelah, ayah dan ibu saya pulang meminang dan mengirim fotonya kepada saya. Saya bilang sama ayah dan ibu, itu sudah, cocok pa,” tuturnya sambil tertawa lebar bersama media ini sambil berkata: “Habis, saya selalu menjalin hubungan cinta dengan wanita yang lain selalu putus, tidak pernah ada yang serius.”

Mas Win panggilan akrab Dandim 1710 Mimika, Letkol Inf. Windarto yang menemui kekasih jiwanya menganut tradisi era Siti Nurbaya ini mengawali karir pertama bertugas di daerah Serambi Mekah, Aceh sesudah mengikuti pendidikan Scapa sembilan bulan 1999. Dia mengakui diakhir pendidikan Scapa lulus dan masuk nominasi 10 besar peringkat ke tujuh. Mas Win menyebut berkat nominasi scapa 10 besar, atasan memberi amanat kembali ke Magelang tahun 2000 sebagai Danton melatih Taruna selama setahun. 2001 pindah dari Magelang ditugaskan  ke Kalimantan Barat sebagai Danton hingga 2001. Lalu, 2002 mendapat amanah penugasan di Aceh dengan posisi letnan satu hingga 2004.

“Ya, di Aceh inilah saya mulai serius berpikir untuk menikah sebagaimana saya ceritera di atas. Jadi, saya melihat wajah istri saya itu lewat foto saja sesudah ayah dan ibu meminang di keluarganya. Saya merasa sangat cocok sekali dan saya pulang cuti dan melangsungkan pernikahan April 2004. Sesudah menikah dalam masa cuti itu, saya mendapat penugasan baru ke Kalimantan di Batalion 43. Ya, setelah tiba dan beberapa bulan di Batalion 43, saya pindah Batalion dan bertugas di Aceh lagi. Waktu itu, istri saya sudah dalam keadaan hamil dan saya tinggalkan dia di Kalimantan. Di Aceh 2004 itu terjadi Tsunami, kami beruntung posisi di atas gunung. Jadi, saya ikut evakuasi korban tsunami yang terdampar di atas pohon hingga mengikuti penugasan rehabilitasi tsunami Aceh. Saya balik 2005 dari Aceh ke Kalimantan, anak saya pertama sudah lahir tanpa saya menyaksikan proses kelahirannya,” tuturnya bersemangat dan tampak ekspresi kegembiraan yang tidak terkira dari bahasa tubuhnya.

Jenjang karir mas Win yang suka bercanda dengan gaya sangat khas, mimik mukanya, badan dan tangannya ikut bergerak mengaku karirnya berjalan mulus lahir dari sebuah kesungguhan bekerja. Kerja serius, berdedikasi dan dikemas dengan loyalitas tinggi pintu terbuka meraih kesuksesan. Maka kita yakini melakukan sesuatu yang benar dan memaksimalkan kemampuan kita untuk apa pun yang sedang kita geluti.

“Saya ikuti dari pengalaman yang saya jalani. Setelah, saya pulang dari Aceh 2005 dan 2007 bertugas PAM Perbatasan antara Malaysia dan Indonesia. Disana, warga kita yang Indonesia susah sekali. Kami juga sulit sekali menelpon keluarga dan orang tua, jalan seharian baru bisa sampai di tempat kita bisa menelpon  keluarga. Jadi, kami bertugas menjaga dan mempertahankan kedaulatan negara kita di perbatasan dan dijumpai ketika bertutas itu ada 20 lebih patok perbatasan antara Indonesia – Malaysia. Warga masyarakat setempat masih sederhana sekali sama seperti di Papua ini. Selain kami menjalani tugas pokok, juga ada yang menjadi guru, tenaga medis berkerja di Puskesmas. Karena, gedung sekolah dan Puskesmas ada tidak ada tenaga guru dan medis,” tuturnya.

Tahun 2010 mas Win yang bertubuh pendek tetapi gerakannya sangat lincah ini mendapat promosi jabatan menuju mayor sesudah melewati pendidikan Suslapa tiga bulan. Ia menjabat Kasi Bms bagian personalia di Bandung. Dalam posisi yang sama, mas Win bersama rekan-rekannya ke Australia dalam rangka kerjasama TNI AD Australia dan TNI AD Indonesia selama sebulan pelatihan pertempuran dan  2011 meraih pangkat mayor di Bandung. Dua tahun sesudahnya, 2013 Mas Win mengikuti pendidikan Seskoad sembilan bulan dengan torehan hasil memuaskan masuk 10 besar urutan ketujuh untuk meraih jenjang pangkat Letkol. Keberhasilan itu membawa Mas Win kembali mengabdi di Seskoad di Bandung selama tiga bulan sebelum memenuhi keinginan sang kekasih, Erma Yustiana yang sangat berminat sang suami bertugas di Papua.

“Saya selama tiga bulan di Seskoad berdiskusi dengan istri saya. Dia meminta saya kalau boleh  bertugas di luar kota besar dan di Papua. Keinginan istri saya terjawab setelah saya mendapat penugasan baru di Kodam XVII Cendrawasih Papua pada bagian Pabandya Pinkat yang bertugas khusus mengatur jabatan di Kodam XVII Cendrawasih. Pada posisi itu saya menjalani hanya delapan bulan. Alhamdulillah saya menerima  promosi kenaikan pangkat Letkol dan bertugas sebagai Komandan Batalion IX Nabire sebelum berubah menjadi Batalion Raider. Batalion Raider ini dikembangkan oleh mantan Menhan Ryamizard Ryacudu. Jadi, saya mendapatkan wing Raider itu kembali bersama prajurit muda ikut pelatihan di Bandung. Oah.., itu benar-benar mengasyikan. Bagaimana orang tua lepas jabatan bersama prajurit muda berpangkat kopral dilatih menjadi pasukan khusus, raider,” tuturnya sambil memperagakan bagaimana proses pelatihan raider itu berlangsung.

Petualangan terbesar dalam perjalanan karir Mas Win ini mengaku filosofi para prajurit itu selalu memegang teguh bahwa keberanian sejati adalah ketika kita tahu kita akan kalah sebelum memulainya. Namun, kita tetap memulai dan menyelesaikannya apapun yang terjadi. “Saya berprinsip seperti itu. Jadi, saya sesudah selesai mengikuti pelatihan untuk pasukan khusus mengikuti pendidikan satu setengah bulan Susdandim di Bandung dan bertugas disana satu tahun sebelum dilantik menjadi Dandim di Timika yang sudah berjalan satu tahun. Saya bersyukur dalam hidup sudah bertugas di Aceh, Kalimantan dan Papua. Impian ke depan itu, saya biasanya meletakan seluruh perjalanan hidup saya itu dalam doa, iktiar dan tawakal, itu kuncinya,” tutur Mas Win yang hobi dengan semua cabang olah raga, terutama lari cross country.

Dari rute perjalanan hidup Mas Win yang patut kita petik adalah kita harus memiliki kesungguhan, keberanian untuk  memulai dan menyelesaikan seluruh niat  kita. Kita berjuang bukan hanya mengakhirinya seraya menyatukan seluruh niat itu dalam doa, iktiar dan tawakal menjalaninya. Maka, surga kesuksesan hadir lebih awal dalam hidup kita.

Mas Win ketika menjawab pertanyaan media ini bersamangat 45 soal memaknai momentum mengisi kemerdekaan Ri dalam rangka menyambut HUT RI ke 72. Dia beriktiar mengisi kemerdekaan RI itu semestinya semua lapisan warga masyarakat menjadikan momentum HUT RI itu setiap hari dengan bekerja keras. Artinya generasi muda mempersiapkan diri dengan belajar rajin dan disiplin memanfaatkan waktu. Kesempatan emas itu tidak mungkin datang kedua kalinya, ketika kita menyia-nyiakan kesempatan. Karena, kita akan keluar dari segala keterbatasan hidup dan bisa menikmati pencerahan hidup, tiada lain hanya melalui pendidikan.

“Saya kebetulan dari keluarga yang sama sulitnya dan terasa dalam medan kerja di daerah yang masyarakatnya masih tertinggal, seperti di Aceh, Kalimantan dan Papua ini. Saya merasa kesederhanaan hidup warganya hampir sama. Maka, saya beriktiar kepada generasi muda saat ini, khususnya di Papua belajar dengan tekun mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Tiada cara lain keluar dari masalah itu hanya degan pendidikan dan stop berangan-angan dengan pikiran merdeka. Isi waktu dan kesempatan dengan belajar banyak. Gantungkan impian dan cita-cita setinggi langit dan mengejar ilmu sampai ke Negri Tirai Bambu, Cina, itu pepatah,” katanya.

Selain itu, Mas Win berharap Pemerintah daerah menatapelayanan yang maksimal kepada masyarakat dengan membangun manajemen komunikasi, koordinasi lintas sektoral dan mengelaborasi program pemberdayaan kepada masyarakat. “Saya kira itu yang ingin saya pesan dalam rangka menyambut HUT RI yang ke 72 ini. Warga didorong bekerja keras dan generasi muda dipersenjatai dengan pendidikan yang baik. Kita harus bisa mengukir sebuah catatan sejarah bahwa di era kita bisa mewariskan sebuah sejarah bagi anak-anak cucu. (Fidelis S J)   
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment