Yos Indarto Nyaris Senasib dengan Yos Soedarso Tenggelam di Laut Arafuru

Bagikan Bagikan
Tokoh Inspiratif Pilihan Salam Papua Menyambut HUT RI ke 72



“Wahai Tanah airku Indonesia, tempatku dikandung ibu pertiwi dalam bahasa mengikat bangsa. Aku rela berkorban jiwa raga membela nusa dan bangsa. Kukibarkan panji bangsaku dilautan lepas, walau deru  ombak menghempas bahtera negriku. Tak akan kubiarkan sejengkal lautpun dijamah tangan asing.”

PETIKAN puisi singkat di atas dikemas dari semangat hidup seorang tokoh inspiratif pilihan Surat Kabar Harian (SKH) Salam Papua yang ketiga. Para tokoh ini sengaja dipilih untuk menginspirasi semua pihak. Terutama generasi tunas muda bangsa Indonesia di bumi Amungsa, Mimika  dalam rangka mengisi kemerdakan RI dan menyambut HUT RI yang ke 72. Gelora jiwa dan semangat hidup tokoh yang satu ini terlukis dalam pancaran ekspresi bahasa tubuhnya. Singkat ceritera terlukis  dalam sederet petikan puisi di atas. Dan kisah hidupnya nyaris senasib dengan pahlawan kusuma bangsa Yos Soedarso. Sapaan akrabnya sama persis, disapa Yos. Yang satunya, Laksda TNI AL Anumerta Yosaphat Soedarsao dan tokoh pilihan “Salam Papua” pula dibaptis dengan nama lengkap, Yosafat Indarto oleh kedua orang tuanya yang tercinta. Bagaimana kisahnya ikuti wawancara ekslusif Salam Papua?”

Pahlawan kusuma bangsa Yos Sudarso gugur dalam pertempuran di Laut Arafura melawan Belanda 15 Januari 1962. Yosaphat yang Katolik setia berkorban nyawa demi martabat Indonesia dengan KRI Macan Tutul. Yosafat yang Kristen pun dalam misi menjaga kedaulatan pertahanan laut Indonesia sebagai Komandan KRI Kerapu membawa orang dari Badan Intelejen Negara (BIN)  berlayar dari Bitung, Ambon, Arafura, Tual menuju Merauke. Ombak setinggi lima meter. Haluan kapal KRI Kerapu sudah kemasukan air dan nyaris tenggelam diantara lautan Arafura sebelum masuk Merauke. Meski kisahnya tidak serupa, tetapi semangat kesatriaan mereka sangat mirip dan kejadiannya di tempat yang sama.

“Saya sampaikan Wadan KRI Kerapu sanggup sampai Merauke?” Dia menjawab, siap, sanggup. Dalam kapal tinggal saya dan Wadan yang masih mengikuti deru ombak lautan Arafura. Anggota dan orang BIN sudah pada mabuk dan teler berat. Saya tanya lagi. Wadan...! Sanggup sampai Merauke?” Dia selalu menjawab, siap sanggup! Namun, seorang anggota BIN membisik ke telinga saya. Bang! Disinilah Yos Sudarso tenggelam dan gugur dalam pertempuran melawan Belanda. Darah saya mendesir dan bulu kuduk merinding. Saya sempat merenung sesaat dalam keadaan bulu kuduk merinding, sementara KRI Kerapu dalam posisi nyaris tenggelam. Dan saya perintahkan Wadan putar haluan dan kami selamat sampai merapat di pelabuhan Timika dan tiga hari kemudian baru berlayar menuju Merauke,” tutur anak pertama dari empat bersaudara pasangan Saul Kasino dan Dinah Suparmi, Letkol AL Yosefat Indarto, ST di ruangan kerjanya, di Lanal Timika, Senin (7/8) kemarin.

Yos panggilan akrab Letkol AL Yosefat Indarto mengaku berterus terang suasana kedamainan hidup di kampung bersama para petani itu indah sekali.  Keakraban suasana kehidupan petani itulah yang melekat dalam impian semenjak dalam pelukan orang tua bercita-cita menjadi insinyur pertanian. Alasannya sederhana, Yos berceritera berasal dari garis keturunan ayah dan ibu yang kakek dan buyutnya rata-rata berprofesi petani. Meski, ayahnya, Saul Kasino berprofesi seorang guru SMP dan ibu seorang ibu rumah tangga yang gemar bertani di kampung halamannya, di Kampung Kuaron, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo.   “Saya lahir dalam pelukan keluarga petani. Dan rumah kami itu dikelilingi sawah. Jadi, saya tidak pernah menyangka di kemudian hari sangat menyatu dalam hidup saya sebagai abdi negara dalam TNI Angkatan Laut. Karena yang melekat dalam impian saya itu bercita-cita jadi insyur pertanian,” kenangnya sambil tertawa lebar mencairkan suasana keakraban dengan media ini.

Sahabat para petani di Kampung Kuaron ini mengaku empat bersaudara. Tiga orang laki-laki dan seorang adik perempuan semata wayang. Yos mengaku anak pertama dan  ayahnya seorang PNS berprofesi guru SMP. Meski begitu, ia merasakan hidup sederhana dalam segala keterbatasan. “Ayah saya memang seorang guru. Tetapi, kami hidup sangat sederhana. Karena kami empat bersaudara. Kesederhanaan dan hidup dalam keterbatasan itu sangat terasa ketika kami empat bersaudara mulai sekolah,” tutur kekasih jiwa dari darah manis asal Surabaya yang dicintainya semenjak Taruna Tingkat II di Akademi Angkatan Laut Surabaya, Titin Kumaraningsih ini.

Yos merampungkan sekolahnya di SD Kateguan, di Kampung Kuaron, SMPN I di Ibu Kota Kecamatan Tawangsari dan SMAN I di Ibu Kota Kabupaten Sukoharjo.  Yos mengaku di SMAN I Sukaharjo memilih jurusan Biologi. Pilihan jurusan Biologi itu, kata Yos masih mengikuti impian semenjak kecil bercita-cita menjadi insinyur pertanian.

“Pilihan saya itu orang tua juga sudah tahu dan sangat mendukung. Tetapi, impian saya mulai goyah ketika mau tamat SMPN I Tawangsari ada buka SMA Taruna Nusantara di Magelang 1990. Sekolah itu semua biayai gratis, karena ditanggung pemerintah. Saya ikut seleksi, karena saya berpikir adik-adik saya banyak dan memudahkan orang tua biayai kami sekolah. Tuhan menghendaki lain. Di daerah saya masih lolos, tapi ketika seleksi tingkat nasional saya gagal. Dan saya kembali mendaftar masuk SMAN I Sukoharjo dengan bermimpi melanjutkan impian insinyur pertanian hingga memilih jurusan di SMAN I Sukoharjo, Biologi,” tutur Yos yang ramah dan murah senyum itu.   

Harga kesetiaan menjawab mimpi jadi insinyur pertanian tergoda dari magnet ceritera alumnus tamatan SMAN I Tawangsari. Ia mengisahkan, alumnus SMAN I Tawangsari awalnya  mampir di sekolah dan memberi penyuluhan.  Mereka menyampaikan dihadapan siswa kelas II bahwa kalau masuk AKABRI biaya sekolah semua dibiayai negara alias gratis.

“Saya tergoda lagi. Itu saya sudah mau naik kelas III. Sehingga, saya tamat SMAN I Sukoharjo dengan jurusan biologi 1993 mendaftar masuk AKABRI dengan harapan lulus bisa meringankan beban orang tua yang hidup pas pasan. Tetapi, Tuhan berkehendak lain, gagal. Saya mau kuliah sudah tanggung, karena ujian masuk Perguruan Tinggi Negri lewat. Akhirnya, saya memilih menjadi atlit bola Voly dengan tujuan menjaga fisik dan kebugaran tubuh. Niat sudah final masuk AKABRI. Maka satu-satunya jalan menjaga kesehatan dengan masuk atlit bola voly untuk Kabupaten Sukaharjo,” kenangnya.

Yos mengaku berterus terang tidak putus asa. “Saya setia menjalani hidup setahun sebagai atlit voly dengan impian bisa lolos tes tahun kedua masuk AKABRI. Puji Tuhan! Saya tes tahun kedua, 1994 lolos dan mengikuti pendidikan AKABRI  tiga setengah bulan di Magelang. Saya masih ingat sekali. Waktu kami mengisi formulir. Saya memilih pertama, polisi, kedua Angkatan Darat dan pilihan ketiga Angkatan Laut. Eh, saya terpilih masuk Angkatan Laut. Saya bingung dan sempat berdiskusi dengan teman. Teman saya mengajak saya mundur saja. Bagaimana anak gunung diajak ke laut, ya bingung. Tetapi, saya sampaikan teman saya, jangan. Karena saya berpikir kesempatan tidak akan datang kedua kali biaya sekolah gratis masuk Akademi Angkatan Laut. Ya, saya bersyukur teman saya juga mau menerima saran saya,” kisahnya mengenang lika-liku menjawab impian masa depan.

Kesulitan berenang di laut dan impian menjadi insinyur sirna bersamaan dengan niat meringankan beban orang tua. “Saya termotivasi dari merenung masa depan adik-adik saya dan keterbatasan orang tua. Maka, begitu selesai pendidikan  tiga setengah bulan di Magelang, teman-teman yang ke Angkatan Darat kembali ke Akademi Angkatan Darat dan yang Polisi ke Semarang dan saya bersama taruna Angkatan Laut ke Surabaya. Orang tua saya sangat mendukung dan merasa bahagia anak pertama mereka bisa masuk AKABRI Angkatan Laut. Setiba di Surabaya sebagaimana biasa dalam hirarki di TNI AL. Taruna tingkat I harus bisa mengikuti kedisiplinan dan mentaati seluruh proses pendidikan. Meski, kita harus bisa dalam hidup harian di Asrama sebagai pelayan bagi senior. Tetapi, proses penempaan semangat ksatria AL itu berbuah manis dalam menjalankan tugas, seperti yang saya rasakan saat ini. Jadi kita bisa ukur ketika meminta anggota menjalankan sebuah tugas,” kata ayah tercinta dari dua orang buah kasih hasil pernikahannya dengan darah ayu asal Surabaya Titin Kumaraningsih, Hreeneke Emerentia Indarto Putri dan Spala Garribaldy Indarto.

Ayah Emerentia dan Garribaldy itu mengisahkan riwayat pendidikan selama di Akademi AL Surabaya dilalui dengan semangat kesetiaannya meringankan beban orang tua berjalan mulus. Bahkan, Yos blak-blakan menuturkan  kisah cintanya dengan darah ayu asal Surabaya, Titin Kumaraningsih mulai bersemi sejak Taruna Tingkat II di Akademi AL Surabaya. Yos pun mengaku sempat diperkenalkan kepada ayah, ibu dan kakeknya di Kampung Kuaron, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukaharjo.

“Waktu itu saya masih tingkat II. Saya berani antar calon istri saya di hadapan keluarga. Meski saya tahu mereka agak kuatir. Saya berkenalan dengan gadis asal Surabaya. Dalam benak orang tua saya dan kakek itu berpikir, orang Surabaya suka ceplas-ceplos. Sedikit beda dengan orang Solo umumnya. Ternyata ketika saya perkenalkan istri saya tercinta saat ini. Mereka semua senang dan sangat mendukung,” tuturnya polos seraya berkata: “Kami menikah Agustus 2000 dan baru mendapat momongan tahun 2002.”

Lika-liku perjalanan karir ayah tercinta Emerentia dan Garribaldy ini selesai penyematan perwira Letnan II TNI AL mendapat kerhormatan bertugas di Jakarta di bagian Hidrosenografi Kal Barunajaya 1998 hingga 2002.  Dan pertama kali berlayar dengan Kal Barunajaya tahun 2000 ke daerah operasi perbatasan di Malaysia. “Saya sesudah menikah Agustus 2000, saya tinggalkan istri di Surabaya, karena dia sedang kuliah dan sambil bekerja. Setelah saya kembali ke Surabaya 2002 sambil kuliah jurusan tehnik di Surabaya hingga lulus dengan predikat Indeks Prestasi 3,5. Itu yang ada tambah sedikit gelar di belakang nama saya itu Sarja Tehnik (ST),” tuturnya sambil menatap papan nama di meja kerjanya.

Titin Kumaraningsih mengakui sang kekasihnya sangat disiplin dan setia menjalankan amanat yang diembannya. “Ya..., saya sangat bersyukur dan puji Tuhan. Suami saya memang orangnya pendiam. Dia akan bicara kalau ditanya. Tetapi saya ikuti dibalik diamnya itu tersembunyi kesetiaan dan selalu tawakal dalam setiap apa yang kami terima dari berkat Tuhan. Memang para istri tentara itu sering ditinggal. Dan saya itu suka sibuk sebelum ada anak. Pagi kerja dan sore saya kuliah. Tetapi, ketika suami saya minta saya berhenti kerja dan selesai kuliah di UNTAK Surabaya, saya memilih sibuk dengan anak-anak saja di rumah. Kalau suami jalan dinas dan ditinggal lama, saya selalu bersama anak-anak berdoa Tuhan melindungi suami dan mudah reziki. Puji Tuhan, ya hidup kami  saya meyakini diberkati Tuhan,” tuturnya polos sambil melirik sang suami seraya menebarkan senyum.

Ayah Emerentia dan Garribaldy yang tinggi semampai dan tidak terkesan sedikitpun berpangkat Letkol ini berpenampilan sederhana dan ramah tamah. Penampilannya itu sangat berbeda jauh dengan sejumlah karir yang dilewatinya dari satu KRI ke KRI hingga mengomandani kapal cepat bersenjata rudal mengisahkan, kunci keberhasilan dalam mengemban amanat mempertahankan martabat bangsa Indonesia ini adalah kesetiaan menjalankan tugas. Harga kesetiaan dalam menjalankan tugas pengabdian terhadap negara dan bangsa buahnya pasti bisa dipetik pada waktunya dan selalu indah. “Saya berprinsip jangan bertanya apa yang diberikan negara kepada kita. Tetapi apa yang kita sumbang dan berikan kepada negara ini. Apalagi, bangsa kita ini sangat kaya raya, baik di darat maupun di laut. Saya bersyukur dalam perjalanan karir saya. Saya sudah keliling Indonesia, lebih-lebih daerah kawasan Timur. Saya sangat gandrung dengan wilayah bagian Timur,” tuturnya berapi-api sambil menyebut satu persatu daerah kawasan timur yang pernah dilalui seraya berkata: “Saya percaya menjadi Pelaksa Lanal Timika sebagai anugerah dan panggilan untuk mengabdi di Kabupaten Mimika.”

Menjawab media ini, Yos berharap tunas muda bangsa di Kabupaten Mimika bisa terpanggil masuk Angkatan Laut. “Saya berharap dalam momentum HUT RI ke 72 ini generasi muda di Kabupaten Mimika berlomba-lomba menjadi prajurit Angkatan Laut. Saya memang sudah seringkali mensosialisasikan harapan itu lewat Saka Bahari. Anak-anak dari daerah ini sedang dibimbing lewat pramuka Saka Bahari untuk menumbuhkan semangat cinta tanah air, cinta laut Indonesia yang kaya raya ini. Dan lebih-lebih, saya berharap lewat kegiatan seperti itu, semangat nasionalisme mereka terpupuk dan suatu saat nanti mereka tampil sebagai tongkat komando mempertahankan pertahanan laut di negeri kita tercinta ini,” harapnya sambil mengepalkan tangan kanannya.    

Yos mengaku rasa nasionalisme generasi muda saat ini masih kurang. Meski diakuinya persoalan seputar menanamkan rasa nasionalisme kepada generasi muda belum terlambat. “Betul generasi muda saat ini rasa nasionalismenya masih berkurang. Tapi, belum terlambat untuk menanamkan rasa nasionalisme itu. Kami di AL tahun kemarin sempat membawa anak-anak dari Mimika yang tergabung dalam Saka Bahari, Pramuka 24 orang keliling sampai di Sumatra dan semua pulau di Indonesia. Itu diambil dari semua kabupaten dan tertampung di KRI itu sekitar 1000 lebih anak-anak muda. Kita galakan kegiatan itu dalam rangka menanamkan rasa nasionalisme kepada anak-anak generasi muda. Itu kegiatan rutin yang diagendakan secara nasional,” tuturnya meyakinkan. (Fidelis S J)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment