150 Botol Bekas Air Mineral Bisa Hasilkan Rp 10 Juta

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) – Sekitar seratusan lebih peserta lokakarya Daur Ulang Sampah yang digelar Balai Lingkungan Hidup (BLH) bersama Bank Sampah Masyarakat Sadar Lingkungan (My Darling) Jakarta dikejutkan oleh Kepala Bank Sampah Jakarta,  Yeni Muliani Hidayat yang mengatakan, 150 botol bekas air mineral bisa menghasilkan uang Rp 10 juta dengan cara mendaur ulang hingga menjadi aneka kreasi.

“Hitungan matematik untuk di Jakarta saja, dalam timbangan 150 botol bekas air mineral itu bobotnya 1 Kg. Terus kalau didaur ulang akan menjadi ratusan kreasi dan jika diuangkan bisa menjadi sepuluh juta rupiah. Itu baru di Jakarta, apa lagi kalau di Timika?,” kata Yeni ketika menyampaikan materi lokakarya.

Yeni ketika diwawancarai Salam Papua, Kamis (14/9) usai menyampaikan materi, mengaku  bahagia diundang BLH Mimika untuk berbagi kreasi bersama masyarakat Mimika, secara khusus peserta  yang berasal dari beberapa sanggar kreasi dan siswa-siswi beberapa SMK/SMK se Mimika.

“Antusias peserta sangat bagus dan mudah memahami setiap pelatihan pendauran yang disampaikan. Saya bersyukur bisa mengajak masyarakat untuk mengumpulkan sampah,” katanya.

Dia mengakui kehadiranya tidak mencari nama atau popularitas. Tetapi menurut wanita yang telah lima tahun menggeluti dunia Bank Sampah tersebut, sukses sejati adalah melihat banyak masyarakat yang mau mengikuti jejak dalam mendaur ulang sampah.

“Saya setiap minggu, keliling Indonesia dan ke luar negeri untuk menyebarkan virus-virus cinta lingkungan,”  akunya.

Ia menjelaskan, selain sampah plastik yang berupa botol dan kemasan makanan atau pakaian, kreasi lain juga bisa dibuat dari sampah kertas seperti koran dengan berbagai bentuk dan jenis yang juga bisa mendatangkan nilai ekonomi.

“Kalau botol atau plastik itu kita bisa bikin fas bunga, lampu hias, asbak dan ribuan kreasi lainnya. Sedangkan kertas atau koran itu juga lebih banyak yang didaur seperti gelang, cincin, anting dan manik-manik perempuan lainnya. Juga bisa bikin tempat penyaji makanan seperti kue dan manisan,” jelasnya.

Wanita yang senang dipanggil pemulung ini mengakui, paradigma masyarakat Indonesia, sampah adalah sisa pakai yang harus dibuang pada TPS dan berakhitr di TPA. Namun menurut dia, masyarakat tidak menyadari faktor buruk dan keberuntungan dari sampah tersebut.

Ia mencontohkan, kerugian yang ditimbulkan dari sampah adalah ketika terjadinya kebakaran.

Sampah itu bisa menambah kobaran api ketika terjadi kebakaran. Tapi sampah juga bisa mendatangkan keberuntungan yang lebih dari sekedar sepuluh ribu atau lima puluh ribu,” katanya.
Ia berharap, virus cinta lingkungan yang telah disebarkannya bisa mendorong masyarakat Mimika, khusus remaja untuk mempunyai usaha dalam mendaur ulang sampah.

“Mudah-mudahan apa yang saya bagikan bisa menjadi pendorong untuk lebih memajukan perekonimian keluarga. Selain itu juga lingkungan tidak ditumpuki sampah plastik,” harapnya.

Ia juga menjelaskan tekait Bank Sampah. Bank Sampah memiliki moto yakni, Bersahabat Dengan Sampah, Solusi Atasi Sampah serta berprinsip sama dengan Bank konvensional, namun yang membedakannya adalah antara menambung uang dan menabung sampah. Dimana, Bank sampah memiliki sistim, masayarakat mendatangi bank sampah untuk menyetor sampah yang telah dipilah. Selanjutnya hasil sampah yang telah dipilah akan didata dan ditimbag, untuk kemudian mendapatkan buku tabungan.

“Bank sampah ini ada administrasinya. Ada dasar hukumnya, juga merupakan program pemerintah yang mengharuskan satu RW satu Bank Sampah untuk mengurangi volume timbunan sampah ke TPA,” jelasnya.

Seorang peserta yang merupakan ibu rumah tangga, Erlin Aikwa mengakui, sangat terkejut dengan berbagai bentuk kreasi yang dihasilkan dari botol plastik bekas, kaleng bekas minuman, koran dan plastik-plastik.

“Saya memang sudah sering buat bunga dari botol air mineral. Tapi cuman bunga saja yang saya bikin. Padahal bisa bikin dalam bentuk lain. Saya baru tahu juga kalau koran bisa bikin anting dan gelang,” ujarnya.

Selain merasa heran dengan aneka hasil daur ulang tersebut, Erlin juga mengakui tergiur dengan penghasilan yang didapat dari mengolah sampah.

“Kalau di Jakarta satu botol plastik bekas itu bisa dijadikan 50 atau 100 ribu. Itu berarti di Timika ini bisa 500 ribu. Saya jadi penasaran ini. Nanti saya akan praktekkan di rumah,”
 katanya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment