35 Tokoh Agama Asmat Wisata Rohani dan Umroh

Bagikan Bagikan




SAPA (ASMAT) – Bupati Asmat Elisa Kambu, SSos dan Wakil Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, ST menilai memberikan penghargaan wisata rohani ke Israel dan Umroh ke Madinah, Mekkah kepada 35 tokoh agama masih tidak sebanding dengan karya besar mereka di Papua. Mereka yang menghadirkan peradaban baru dan mengawali seluruh pemerintahan di Papua.

“Bagi saya dan adik saya Thomas Eppe Safanpo tidak bisa tawar menawar memberikan penghargaan kepada para tokoh agama di Asmat. Apakah itu Katolik, Protestan dan Islam. Karya mereka terhadap negeri ini sangat besar. Mereka yang membawa terang dan cahaya di Papua melalui pendidikan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi kepada masyarakat di Papua. Bahkan mereka yang memulai pemerintahan di Papua. Sebelum pemerintah Belanda hingga Republik Indonesia saat ini. Ini fakta sejarah yang tidak bisa dibantah dan dipungkiri oleh siapapun dalam perjalanan peradaban di Papua,” kata Bupati Elisa sebelum melepas secara resmi keberangkatan 24 orang tokoh agama Katolik dan Protestan di Hotel Asmat Bersinar Timika dan melepas para tokoh agama itu di Bandar Udara Moses Kilangin dengan menggunakan pesawat Garuda menuju Jakarta dan Israel, Sabtu (2/9).

Bupati Elisa menjelaskan beberapa waktu lalu, dirinya dan Wakil Bupati Thomas sudah melepas 11 tokoh Muslim untuk menunaikan umroh.

“Saya dan Thomas pun beberapa waktu lalu di Asmat melepas secara resmi 11 orang tokoh Muslim mengikuti Umroh ke Madinah, Mekkah. Jadi, tahun ini 35 orang tokoh agama ke Israel dan Mekkah. 20 orang remaja mengikuti MTQ di Jayapura dan 240 orang ke Kaimana mengikuti Pesparawi, kata Bupati Elisa.

Menurutnya karya besar para tokoh agama itu tidak bisa diukur dengan uang. Pemda Asmat dalam hal ini Bupati dan Wakil Bupati serta warga Asmat pun tidak mampu membalas jasa baik para tokoh agama itu. Mereka yang setia menyusuri rawa-rawa, sungai dan berjalan kaki naik turun gunung mendampingi warga masyarakat di kampung-kampung. Mereka yang melayani umat, baik dari sisi iman, dan mendidik anak-anak Papua dalam bidang pendidikan. Mereka pula yang membalut luka dan mengobati warga yang sakit di kampung-kampung.

“Saya kalau merenung kembali masa-masa silam di Papua itu, saya merasa berhutang budi yang tidak akan mampu ditebus sampai kapan pun. Maka, kebijakan saya dan Pak Thom memberi penghargaan terhadap karya para tokoh agama, ada yang ke Israel dan Umroh ke Madinah. Kalau direnung baik sama sekali tidak ada nilai apa-apa dibanding jasa mereka. Coba bayangkan situasi di Asmat. Mereka sangat setia melawan arus sungai dan ombak besar di lautan hanya dengan perahu dayung ataupun longboat ke kampung-kampung. Mereka membaktikan hidupnya bersama warga. Mereka hidup jauh dari keramaian dan kegemerlapan kota. Walaupun saya dan Thomas nanti setiap tahun mengirim mereka sampai masa jabatan selesai, saya dan Thomas masih berhutang budi sama mereka. Karena karya mereka di Papua sangat besar. Nilai jasa mereka tidak sebanding dengan mereka diberi penghargaan berwisata rohani ke Israel,” katanya.

Menjawab media ini, Elisa menyebutkan, mereka wisata rohani ke Israel, supaya mereka bisa melihat dan menyaksikan dari dekat di mana Tuhan Yesus lahir, hidup, berkarya, membuat mujizat, sengsara hingga wafat, dikuburkan dan bangkit, tempat kemuliaan Roh Kudus turun atas para rasul. Dan dari Israel memulai mewartakan kerajaan Allah ke seluruh penjuru dunia hingga Papua.

“Saya berharap, setelah mereka menyaksikan tanah perjanjian Israel dan tahta penggenapan janji Allah atas Israel, para tokoh ini bisa bersaksi tentang kemuliaan Tuhan di tempat tugasnya masing-masing. Saya dan Thomas berusaha membahagiakan hidup mereka di hari tua,” tuturnya sambil menahan air mata melihat kegirangan para tokoh agama itu mengangkat tas mereka ke dalam bagasi mobil seraya berkata: “Sabar! Jangan naik mobil dulu. Kita foto bersama di pelataran hotel sebelum menuju Bandar Udara Moses Kilangin.”
Seorang janda tokoh perintis Asmat almarhum Ranolat, Severina Sampono Ranolat menuturkan, almarhum pernah berjanji dikala masa tua berangan-angan ke Israel.

“Suami saya pernah berjanji kalau masa tua kami akan ke tanah terjanji Israel. Tetapi, janji itu tidak terwujud. Karena suami saya keburu meninggal di masa selepas purna tugas sebagai guru di Asmat. Kini, saya senang dan bahagia sekali. Bupati Asmat dan Wakil  Bupati yang mewujudkan angan-angan suami saya. Saya bisa ke tanah terjanji, Israel,” katanya sembari menyeka air matanya.  

Pdt. Peternus Cowakces mengaku tidak pernah bermimpi dipenghujung masa pengabdiannya dalam gereja bisa menyaksikan dari dekat tempat lahir, karya, membuat mujizat, sengsara, wafat, bangkitNya Tuhan Yesus hingga penggenapanNya melalui Roh Kudus turun atas para rasul.

“Saya tidak pernah bermimpi ke Israel. Maka saya senang dan bahagia sekali bisa melihat dan menyaksikan karya keselamatan Tuhan Yesus di tanah perjanjian Israel. Saya tidak bisa melukiskan perasaan saya sejak dari Asmat, menginap di Hotel Asmat Bersinar dan sebentar lagi kami menuju ke Israel dari Bandar Udara Moses Kilangin,” tuturnya.

Senada dengan Pdt. Peternus Cowakces dan Ny. Severina Sampono Ranolat, Pastor Paroki Basim, Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, Pastor Bavo Felenditi Pr juga mengaku merasa bahagia mendapat penghargaan berwisata ke Israel.


“Ya, saya bahagia sekali. Saya merasa mendapat penghargaan yang luar biasa dari Bupati dan Wakil Bupati Asmat. Ini luar biasa! Bukan hanya para tokoh gereja yang diberi penghargaan tetapi juga para tokoh muslim difasilitasi untuk Umroh. Saya berharap semua pejabat di Papua bisa meniru apa yang dilakukan Bupati Asmat dan Wakil Bupati Asmat ini. Lihat, dia rela meninggalkan kesibukannya dan setelah melepas kami di sini akan kembali ke Asmat menjalankan tugasnya. Terima kasih pak bupati,” katanya sambil berjabatan tangan dengan Bupati Asmat dan memasuki ruang tunggu di Bandar Udara Moses Kilangin. (Fidel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment