Aktivis ‘Kejar’ Penderita Kusta Hingga ke Bevak

Bagikan Bagikan




SAPA (ASMAT) - Aktivis Yayasan Alfons Suwada Keuskupan Asmat, sebuah lembaga sosial yang bergerak di bidang kesehatan, melakukan pelayanan kepada pasien kusta dari rumah ke rumah (door to door) di Kampung Mumugu Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat.

Ketua Yayasan Alfons Suwada Asmat, Romo Hendrikus Hada, Pr., mengungkapkan, mereka yang melakukan pelayanan kusta sebagian besar merupakan rohaniwan Katolik yang terdiri dari, satu romo, empat suster biarawati dan dua bruder.

 Romo Hendrik menyebutkan, para suster dan bruder serta beberapa aktivis lainnya memulai pelayanan pasien kusta pada tahun 2014 lalu.

“Kita mencari penderita supaya memastikan dia minum obat. Bahkan kita kejar sampai di bevak-bevak dengan speed atau longboat untuk meyakinkan mereka harus minum obat,” katanya, di Kantor Keuskupan Agats, Rabu (13/9).

Menurutnya pelayanan dari rumah ke rumah atau bevak ke bevak harus dilakukan, mengingat kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait pentingnya kesehatan masih sangat minim. Mereka seperti ‘memaksa’ agar pasien sembuh.

Menurutnya juga, penyakit kusta bisa sembuh jika pasien minum obat secara rutin, meningkatkan nutrisi dan berpola hidup sehat. Meski penyakit ini sembuh, lanjut dia, cacat yang diakibatkan kusta tidak bisa hilang.

“Bakterinya mati dan tidak berkembang lagi setelah dirawat secara serius. Tapi cacat yang disebabkan sebelum orang ditangani, ada tetap seperti itu,” katanya.
Ia mengatakan, pasien yang telah sembuh tetap didampingi agar mereka bisa merawat diri sendiri dan tidak menderita lagi.

“Tahun pertama kita target 90 persen pasien tuntas minum obat, tapi hanya 40 persen tercapai. Kami evaluasi lagi dan lakukan pelayanan dari bevak ke bevak, hasilnya 93 persen di tahun kedua,” ujarnya.

Dikatakannya untuk mengubah pola pelayanan di tahun ketiga, yakni bersifat holistik integral. Yang mana, pelayanan kusta, promosi kesehatan, animasi kesehatan, pendidikan dan pemberdayaan ekonomi dilaksanakan terpadu.

“Menurut saya, penyakit ini disebabkan oleh faktor keterbelakangan, ekonomi, pendidikan dan masalah sosial lainnya. Sehingga pelayanan di tahun ketiga bersifat kompleks,” katanya. (Nuel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment