Bahaya Limbah Tailing PTFI Meresahkan Masyarakat Pesisir

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) - Tokoh Pemuda Distrik Mimika Timur Jauh yang juga anggota Komisi II Dewan Pimpinan Adat (DPA) Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) Nicolaus Fatarewa  dan  Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Adat (DPA) Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) Hendrikus Atapemame menilai bahaya limbah tailing PT Freeport Indonesia bagi masyarakat pesisir sudah mulai meresahkan warga dan berdampak pada perubahan ekosistem laut, sumber daya alam dan lingkungan pesisir sudah rusak.

Menurut Nicolaus  upaya  PT Freeport Indonesia  dengan program  membantu warga kampung yang berdampak langsung terhadap limbah perusahaan  kurang tepat sasaran. Bahkan program yang dilakukan itu, kata Nicolaus menuai  konflik di tengah tengah warga kampung dan antar kampung dengan kampung. Karena, upaya menolong warga dampak limbah tailing itu tidak bersifat jangka panjang dan hanya bersifat kontemporer.

“Program program yang dibuat perusahaan itu sangat merugikan warga kampung yang berdampak langsung terhadap pembuangan limbah tailing,” kata Nicolaus Fatarewa ketika ditemui Salam Papua di Kantor Lemasko di JalanYos Sudarso  beberapa waktu lalu.

Nicolaus mencontohkan  program  Social Local Development (SLD) PTFI. Program ini berupa program pembuatan air bersih dan pembagian jaring untuk menangkap ikan. Pembagian jaring untuk warga ini dinilai tidak tepat karena  beberapa kampung yang terdampak langsung tidak dapat menggunakannya karena pendangkalan air laut.

“Apabila jaring diberikan, warga kampung mau cari ikan dimana, kalau laut sudah menjadi dangkal, lingkungan sudah tercemar,” katanya.



Di tempat terpisah, menurut Hendrikus dampak pencemaran limbah  berupa tailing PT Freeport Indonesia tidak hanya meresahkan warga masyarakat pesisir. Tetapi, dampak limbah tailing itu sudah merubah  ekosistem laut, sumber daya alam serta kondisi wilayah menjadi rusak.

Dia menjelaskan secara detail ketika warga mengkonsumsi hasil laut seperti ikan, karaka, siput, kerang , cita rasanya berubah alias tidak enak dan cepat busuk. “Saya pikir hasil laut yang didapat  warga itu berupa ikan, kerang dan karaka ikut tercemar akibat pembuangan limbah tailing perusahaan juga,” katanya.  

Dikatakannya dampak itu melahirkan kebutuhan baru ditengah warga masyarakat berupa coolbox. Kebutuhan coolbox seperti ini memberatkan kehidupan warga ketika menangkap ikan atau jenis lainnya terpaksa mengadakan coolbox supaya hasil tangkapannya tidak cepat busuk.

Menurutnya dampak lainnya, di wilayah pesisir di Kabupaten Mimika mengalami kerusakan bentangan alam, jenis tutupan tanah, kondisi sumber daya alam, kondisi wilayah  dan kerusakan tanah.  Sebagian besar vegetasi di muara utama sungai rusak berat. Diantaranya kerusakan hutan rawa. Akses jalan menuju sejumlah kampung di 2 distrik di kabupaten Mimika terancam dangkal.

Dia menyebutkan, jalan yang dijanjikan  perusahaaan untuk ke kampung di pesisir pantai  tidak pernah di dilakukan. Freeport hanya melakukan penutupan beberapa aliran sungai. Hal ini diakali agar limbah tailing  dibuang dan dialihkan ke wilayah timur.

“Pembuangan Tailing  yang  dialihkan ke wilayah Timur mengakibatkan pendangkalan menuju sejumlah kampung seperti Omawita, Fanamo, dan ke pulau tiga distrik Jita. Apabila ambil resiko untuk mengambi jalur laut, maka nyawa pun menjadi taruhannya,”  katanya.

Hendrikus melansir data dari  Antaranews.com  menyebutkan, aktivitas PTFI menyebabkan kerusakan dan tercemarnya lingkungan di sepanjang sungai Ajkwa mulai dari hulu sungai hingga mencapai pesisir laut. Limbah yang dihasilkan Freeport berupa limbah tailing yang mengandung bahan beracun dan berbahaya (B3).

Bahkan, limbah tersebut telah mencapai pesisir laut Arafura. Pembuangan tailing oleh Freeport melampaui baku mututotal suspended solid (TSS) yang diperbolehkan menurut hukum diIndonesia. Audit lingkungan yang dilakukan oleh Parametrix, juga menemukan bahwa tailing dan batuan limbah Freeport mengandung bahan yang mampu menghasilkan cairan asam dan berbahaya bagi kehidupan akuatik. Sejumlah spesies akuatik sensitif di sungai Ajkwa telah punah akibat tailing dan batuan limbah Freeport tersebut. Spesies yang dimaksud mencakup ikan, amfibi, reptil, moluska, dan lain sebagainya. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment