BPS Harus Melaksanakan Sensus Ekonomi Tingkat Kemiskinan

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) – Salah Satu Tokoh Intelektual Amungme, Vebian Magal, S.IP, M.Si mengatakan, Badan Pusat Statistik (BPS) harus melaksanakan sensus ekonomi guna mengukur tingkat kemiskinan di Mimika sesuai kriteria yang telah ditetapkan oleh BPS Pusat.

“BPS mereka harus pendataan (Sensus-Red) sesuai dengan 14 kriteria yang ada,” kata Vebian kepada Salam Papua, Jumat (15/9).

Ia menjelaskan, tingkat kemiskinan disuatu Negara dengan Negara lainnya tentunya sangat berbeda. Seperti tingkat kemiskinan yang dibuat oleh BPS Pusat, diantaranya besaran pengeluaran seseorang perhari. Artinya, pengangguran dan rendahnya penghasilan menjadi pertimbangan untuk penentuan kriteria tersebut.

“Pengangguran dan rendahnya penghasilan menjadi salah satu faktor tingkat kemiskinan meningkat,” jelasnya.

Lanjut dia, untuk memastikan tingkat kemiskinan di dalam keluarga, perlu indikator indeks pembangunan manusia, tingkat pendidikan dan penghasilan. Dari indikator tersebut akan dihitung, dan dari hasil tersebut akan di kaji sehingga akan ditentukan angka kemiskinan pada suatu daerah.

“Jadi ada indikator, yang terutama itu penghasilan dan beberapa indikator lainnya,” ujarnya.

Berikut 14 kriteria yang dimaksudkan, diantaranya;

1.       Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 m2 per orang.
2.       Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
3.       Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
4.       Tidak memiliki fasilitas buang air besar/bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5.       Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6.       Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindung/sungai/air hujan.
7.       Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah,
8.       Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam dalam satu kali seminggu,
9.       Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun.
10.   Hanya sanggup makan sebanyak satu/dua kali dalam sehari.
11.   Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/poliklinik.
12.   Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500 m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp600.000,- per bulan.
13.   Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/tidak tamat SD/tamat SD,
14.   Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp500.000,- seperti sepeda motor kredit/non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya. (Ricky Lodar)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment