Dikutuk Keras Oknum Rubah Nama Kamoro

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) - Wakil Ketua III Bidang Kemitraan pada Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro Lemasko)  Marianus Maknaipeku menegaskan akan mengutuk keras oknum yang ingin merubah nama Kamoro menjadi Mimika Wee. Nama Mimika Wee dinilainya tidak mengakomodir seluruh kampung mulai dari Nakai sampai Waripi. Bahkan perubahan nama itu telah melanggar adat dan budaya masyarakat Kamoro.

"Jadi Lemasko mengutuk orang yang mengatasnamakan Mimika Wee. Dan kalau bisa ditindaklanjuti oleh DPRD," kata Marianus  melalui selulernya ke Redaksi Salam Papua , Selasa (5/9).

Menurutnya, oknum yang menamakan Mimika Wee tidak perlu mengurusi urusan organisasi lain. Dan sebaiknya oknum tersebut mengurusi dirinya sendiri, sebab Mimika Wee sangat bertentangan dengan adat dan budaya Kamoro. Karena nama Mimika Wee tidak mengakomodir secara keseluruhan masyarakat Kamoro.

"Kami minta yang bersangkutan urus diri sendiri saja dan tidak usah urus orang lain. Jangan main-main dengan adat Kamoro nanti adat yang makan, ingat itu,” ujarnya.

Dia mengingatkan tidak segan-segan untuk melaporkan oknum  yang merubah nama Kamoro dengan nama Mimika Wee  ke Polisi. Supaya  yang bersangkutan bisa menjelaskan alasan mau memberi nama Mimika Wee.
"Lemasko akan lapor ke Polisi untuk kasih hadir dia dan  biar dia bisa jelaskan," ujarnya.

Terpisah Ketua Lemasko Robertus Waraopea, SH mengatakan, Keberadaan Lemasko di Mimika didirikan sejak tanggal 1 Mei 1996. Dan yang menaungi Lemasko lebih dari 60 kampung adat mulai dari Nakai sampai Warifi.  Bahkan, Lemasko  telah diakui  Masyarakat adat Kamoro dalam sebuah Musyawarah adat dan telah disahkan secara hukum lewat akta Notaris bernomor: 04 tahun 2015.

"Lemasko berdiri sudah 21 tahun dan kami menaungi 60 kampung, mulai dari Nakai sampai Warifi. Kami diakui lewat akta notaris," katanya  kepada wartawan via telpon, Minggu (3/9).

Menurutnya keberadaan nama Kamoro merupakan keputusan yang telah dipakai dan diakui  masyarakat Kamoro sendiri, yang diambil dari nama sungai besar di Kokonao.

"Kami ambil nama Kamoro untuk akomodir semua kampung di Timika bukan Mimika Wee yang hanya beberapa kampung di Kokonao.  Sehingga ada dasar pemikiran para Tokoh-tokoh Kamoro di cari nama yang dipakai untuk mewakili seluruh unsur yaitu Kamoro wee yang artinya manusia hidup,” katanya.

Dia menjelaskan, apabila menggunakan Mimika Wee hanya masyarakat Kokonao yang terdiri dari 6 kampung dan tidak termasuk kampung-kampung lain mulai dari Nakai sampai Warifi. Maka sekelompok orang  tidak dibenarkan  mengganti nama Kamoro menjadi Mimika Wee. Pergantian nama  Mimika Wee harus melalui prosedur , yakni melakukan seminar untuk menghasilkan sebuah rekomendasi untuk disampaikan dalam Musdat yang akan dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing kampung Adat.

"Tidak dibenarkan seseorang mengganti nama Kamoro jadi Mimika Wee. Kalaupun mengganti nama harus ada seminar dan melahirkan rekomendasi yang akan disampaikan dalam Musdat Lemasko," jelasnya.

Dikatakannya, persoalan adat hanya bisa diselesaikan dengan adat , sebagaimana usaha sekelompok orang  yang menganti nama suku Kamoro.  Ada aturan lembaga yang mengatur. Dengan demikian,  Lemasko akan menempuh jalur hokum kalau ada yang mencoba-coba  merusak nama baik suku Kamoro sesuai dengan tugas Lemasko pasal 18. ayat 9 dan 10 Anggaran Dasar.

"Kami akan tempuh jalur hukum, karena ada didalam aturan lembaga," katanya. (Ricky Lodar).
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment