Fenomena Banjir Diantara Saluran Air dan Sampah

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) - Banjir maupun genangan air kian berkepanjangan dan selalu di rasakan oleh sebagian masyarakat dibeberapa wilayah di Kabupaten Mimika. Salah satu wilayah yang tidak luput dari kunjungan banjir setiap kali hujan adalah warga RT 01, RW 01, Keluarahan Karang Senang – SP 3, Distrik Kuala Kencana.

Pada Jumat 7 April 2017 lalu, banjir yang merendam ratusan rumah di wilayah itu dikarenakan adanya jembatan di Jalan Agimuga - Mile 23 yang meluap dan menyebabkan dan jembatan jebol. Namun, kali ini alasannya berbeda. Meski tanpa banjir kiriman, beberapa rumah warga di wilayah itu tetap saja terendam banjir.

Berdasarkan pantauan Salam Papua ke wilayah itu, Jumat (15/9), tampak beberapa rumah warga yang berada tepat di deretan poros jalan umum terendam air, dengan ketinggian kurang 50 cm dari diatas lantai rumah.

“Kalau bulan lalu disini banjir karena ada jembatan yang meluap. Tapi, sekarang terjadi lagi karena got (Saluran air-Red) didepan rumah kita ini sempit, dan banyak sampah yang menyumbat, padahal hujan tidak deras, tapi air sudah masuk dalam rumah,” tutur salah seorang warga pedagang yang mengaku malam kemarin tidak tidur karena rumahnya kebanjiran.

Pria paruh baya yang berdialeg Jawa tersebut mengakui, meski intensitas hujan terbilang rendah, tetap saja rumahnya terendam air. Menurut dia, hal itu dikarenakan sempitnya saluran air disepanjang jalan dekat tempat tinggalnya.

“Setiap hujan itu selalu saja terendam banjir. Ini khusus di deretan ini saja. Kalau yang lainnya tidak. Memang waktu yang banjir besar-besaran itu banyak yang terendam, tapi sekarang cuma di deretan kita saja. Pagi ini (Kemarin-Red) tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dua hari lalu,” katanya.

Pria yang tidak mau namanya disebutkan media ini mengatakan, sejak terjadinya banjir kiriman pada bulan April lalu, memang petugas dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Mimika telah melakukan survei saluran air diseluruh komplek di wilayah itu. Selanjutnya berjanji akan melakukan pengerukan dan pelebaran saluran air. Akan tetapi, hingga kini belum ada realisasinya.

Katanya mau di keruk dan di bikin lebar, tapi kita tunggu sampai sekarang kok tidak muncul-muncul,” ujarnya.

Sedangkan seorang warga lainnya pemilik depot air isi ulang (Depot Risquna-Red), H. Ali Ma’ruf, mengatakan genangan air yang terjadi selama beberapa hari terakhir menurutnya masih dipengaruhi adanya luapan air dari Mile 32. Kata dia, selama drainase belum dibenahi, tetap saja wilayah tersebut akan menjadi sasaran luapan banjir.

“Memang betul karena got sempit dan banyak sampah tersumbat, tapi salah satu faktor juga masih adanya luapan sungai di Mile 32. Coba cek kesana saja langsung. Terbukti juga di jalanan besar menuju Kuala, itu masih ada luapan air di drainase jalanan,” katanya.

Menurutnya, jika pemerintah belum memiliki dana yang cukup untuk mengatasi masalah ini, setidaknya bisa melakukan survei ke titik-titik emergency yang harus dan perlu ditangani secepatnya.
“Di wilayah kita ini seharusnya jadi penanganan darurat atau emergency. Dari dulu tidak pernah terjadi, tapi akhir-akhir ini saja,” katanya.

Ia mengharapkan, pemerataan pengerjaan drainase harus bisa dikerjakan secepat mungkin. Dikarenakan jika pengerjaan drainase hanya dikerjakan sepotong-sepotong, maka akan menyebabkan luapan banjir untuk di wilayah yang drainasenya tidak dikerjakan.

“Kan kalau di sebelah atas drainasenya dikerjakan, yang jelas ketika hujan deras dan kali meluap, maka air akan tidak tertampung dan dibagi-bagi ke setiap pemukiman warga SP 3. Kasihan kita disini, selalu saja jadi sasaran,” terangnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment