Kasus PCC Marak Wabup Minta Mimika Bersiaga

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA)Menyikapi maraknya peredaran  obat Paracetamol, Caffeine, and Carisoprodol (PCC) yang  belakangan ini ramai diberitakan dan terjadi  di beberapa kota di Indonsesia. Wakil Bupati Mimika, Yohanis Bassang, SE, M.Si mengatakan masalah itu bukan sesuatu  yang mustahil bisa  masuk ke Wilayah Mimika. Maka Pemda Mimika bersama aparat penegak hukum harus bersiaga agar masyarakat Mimika tidak menjadi korban.

“PCC itu mengandung  bahan aktif generic yang bisa merusak otak manusia. Yang terjadi di daerah lain itu menjadi acuan untuk kita yang di Mimika. Jadi kita semua, baik Pemda, aparat penegak hukum dan juga masyarakat harus bersiaga supaya kita tidak kena dampak,” katanya  ketika diwawancarai Salam Papua usai membuka kegiatan Pedomaan Penyusunan Dokumen Lingkungan Bagi Usaha dan/Atau Kegiatan yang Telah Berjalan Tetapi Belum Memiliki Dokumen Lingkungan yang digelar Badan Lingkungan Hidup (BLH)di Hotel Serayu, Jalan  Yos Sudarso,  Rabu (20/19).

Menurutnya dalam tubuh Pemda Mimika pencegahan masuknya PCC merupakan kewenangan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan  Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diseperindag).

Selain  dua instansi tersebut, Ia menugaskan  Dinas Kesehatan (Dinkes) juga harus gencar melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak).  Sehingga peredaran obat PCC itu bisa diketahui  ada dan tidak adanya penjualan PCC atau jenis obatan terlarang lainnya di seluruh Apotik dan Klinik di Mimika. Bila perlu, Dinkes  melakukan pengawasan secara terus menerus.

“Kasihan masyarakat kita kalau dibiarkan menderita karena menjadi korban obat-obatan terlarang. Bisa saja kita konsumsi beberapa jenis obat itu, tapi harus diberikan dengan takaran yang pas. Jangan sampai hanya karena uang penjual bisa berikan semaunya meski harus ada yang sampai gila dan meninggal,” katanya.

Ia mengatakan, siaga pencegahan sehursnya bukan hanya dikarenakan adanya persoalan obat terlarang, namun berdasarkan fakta yang sering terjadi di Indonesia banyak korban dikarenakan mengonsumsi air mineral yang telah terkontaminasi atau telah melewati masa berlaku (kedaluwarsa).
“Persoalan sekarang itu kan bukan cuman karena PCC. Sekarang itu karena konsumsi air dari depot dan air mineral lainnya. Selain itu karena makan roti atau mie instan dan makanan lainnya. Jadi itu semua harus diwaspadai bersama. Ini bukanhanya tugas pemerintah tapi, masyarakat juga harus memerangi itu semua,” katanya. (Acik)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment