Korban Penusukan, Simon Teko Dimakamkan

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) – Korban penusukan dengan anak panah dari orang yang tidak dikenal (OTK), Simon Teko (18) dimakamkan  Selasa (5/9) kemarin.  Jenazah korban sebelum dikuburkan terlebih dahulu di diberkati dalam misa requiem di Gereja Katolik SP 1  dan dimakamkan di Tempat Pemakam Umum SP 1 Kelurahan Kamoro Jaya Timika sekitar pukul 12.20 Wit.

Dari pantuan Salam Papua, suasana duka masih menyelimuti keluarga korban. Keluarga almarhum Simon Teko mendesak, pihak kepolisian mengusut tuntas dan menangkap pelaku yang menghilangkan nyawa salah seorang keluarga mereka hingga meninggal dunia.

Tampak dalam prosesi pemakaman yang di hadiri seluruh  keluarga almarhum dalam duka mendalam dan tidak enggan meninggalkan kuburan almarhum hingga selesai prosesi pemakaman  pada pukul 14.00 wit.

Petugas kepolisian dari Polsek Mimika Baru dan Dalmas Polres Mimika tampak berjaga jaga di lokasi jenzah disemayamkan. Situasi di kawasan SP 1 pasca pemakaman aman dan kondusif.

Seperti diketahui, Almarhum meninggal dunia akibat ditusuk orang yang tidak dikenal. Almarhum sempat mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Mimika. Akibat luka yang dialaminya sangat parah, sehingga almarhum meninggal dunia akibat kekurangan darah.

Menyikapi kasus penusukan dan mengakibatkan Simon Teko tewas, Wakil Ketua III Lemasko yang membidangi Kemitraan, Marianus Maknaipeku menyerahkan sepenuhnya kasus itu kepada pihak Kepolisian untuk mengungkapnya.

"Jadi untuk penusukan kemarin itu, kami dari pihak Lembaga serahkan sepenuhnya kepada Polisi untuk bisa bekerja semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus itu dan menangkap pelakunya," katanya  kepada Salam Papua melalui selulernya, Selasa (5/9).

Dia juga meminta kepada Pemerintah agar lebih aktif dan tegas dalam memperketat urban ke Timika. Sebab urban yang masuk ke Timika sangat besar. Tetapi tidak diimbangi dengan lapangan pekerjaan sehingga menimbulkan tingkat kriminaliras semakin meningkat yang dipicu  dari faktor ekonomi.
"Saya harap Pemerintah daerah tidak bisa diam untuk melihat masalah-masalah seperti ini. Karena saudara-saudara yang datang ditanah ini harus sama-sama saling menjaga, karena sama-sama punya kabupaten," pintanya.

Dia menegaskan kepada masyarakat Kamoro agar tidak menumbuhkan budaya saling balas membalas dan membunuh. Budaya saling balas membalas tidak diajarkan dalam budaya Kamoro dan juga bertentangan dengan ajaran agama. Kasus tersebut sepenuhnya diserahkan kepada pihak Kepolisian untuk bekerja dan mengungkap kasus itu dengan menggunakan hukum positif. Karena hukum merupakan panglima tertinggi di Timika.
"Kami sudah komitmen untuk tidak ada budaya saling balas membalas dan membunuh, bukan berarti kami takut tapi kami menghargai hukum positif," tegasnya. (Tomy/Ricky Lodar).


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment