Miras Mendatangkan PAD, Tetapi Keselamatan Manusia Lebih Penting

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) – Asisten I Bidang Pemerintahan pada Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Mimika, Demianus Katiop, mengatakan peredaran minuman keras (Miras) beralkohol di Mimika perlu dikaji. Ia mengakui miras berpotensi memasukkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), namun perlu dipertimbangkan juga sisi keselamatan manusianya, khususnya masyarakat Mimika.

Meski jumlahnya miliaran atau triliunan pemasukan miras ke PAD, menurut Demianus Katiop tidak akan sebanding dengan satu atau dua nyawa masyarakat Mimika. Selain nyawa, miras cenderung dapat menyebakan ketergantungan bagi generasi muda Mimika. Itu juga akan menghentikan langkah generasi dalam berprestasi menuju masa depan, dan dapat merusak kehidupan didalam rumah tangga.
“Memang kita tidak bisa pungkiri miras itu berpotensi untuk penambahan PAD kita. Tapi kalau pun PAD kita sampai triliun atau miliar dari miras, tidak sebanding dengan satu nyawa dan masa depan generasi kita. Jadi kita akan upayakan melakukan kajian bersama baik eksekutif juga legislatif,” kata Demianus, saat diwawancara Salam Papua di Bobaigo - Keuskupan Timika, Jalan Cenderawasih, Rabu (27/9).

Kajian yang perlu dilakukan, menurut dia, memilah tingkatan bahaya atau kandungan alkohol pada setiap jenis miras, baik yang dipasok dari luar daerah maupun luar negeri. Sebab, tidak semua jenis miras harus dibasmi atau dilakukan pemutusan peredarannya, tetapi lebih diperketat tempat penjualannya maupun jenis mirasnya.

Pemerintah pusat sendiri tidak melarang adanya penjualan miras di setiap daerah. Karena perhitungkan itu sebagai salah satu sektor PAD. Tetapi harus selalu dilakukan pendampingan sehingga peredarannya tidak meresahkan.

“Misalnya kalau di hotel besar, itu bisa saja jual miras berjenis dan beralkohol tinggi dengan harga mahal. Kemudian untuk kios-kios kecil yang mudah dijangkau, itu perlu ditata lagi,” ujarnya.

Sedangkan untuk miras lokal (Sopi, Cap Tikus, Saguer-Red) yang dikenal juga dengan sebutan Milo, menurutnya sangat perlu dikaji. Sebab selain sebagai minuman yang memabukkan, juga bisa dijadikan campuran ramuan atau rempah tradisional untuk obat, seperti contohnya minuman lokal Cap Tikus (Asli tanpa oplosan-Red), itu dapat dicampur dengan rempah-rempah tradisional untuk dijadikan obat penyakit dalam.

Jika dikaji secara ilmiah, Milo bisa saja diramu menjadi obat-obatan atau ramuan untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Banyak itu di negara luar bidang kedokteran melakukan kajian dan mendaur milo menjadi obat,” tuturnya. (Acik)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment