Ortu dan Guru Perlu Awasi Aktifitas Medsos Anak

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) – Desas desus PCC masuk Timika sedang mengintai sebagian remaja Mimika menjadi korban. Sebagai langkah antisipasi agar mereka tidak terjerat di dalamnya, maka orang tua (Ortu) dan guru di setiap sekolah harus selalu mengawasi aktifitas anak dalam menggunakan media sosial (Medsos). Seperti penggunaan Whatsapp, BBM, Facebook, Twitter dan sejenisnya.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sekaligus tokoh pemerhati pendidikan di Kabupaten Mimika, Ignatius Adii. Tidak bisa dipungkiri keberadaan Medsos sangat mempermudah proses kerja para pelaku kejahatan untuk menawarkan segala bentuk kejahatan termasuk pengedaran dan penggunaan obat-obat terlarang.

“Saat ini banyak anak-anak dimulai dari TK, SD, SMP dan SMA itu sangat up to date menggunakan Medsos. Nah dengan Medsos itu bisa dipakai untuk melakukan akses dan transaksi kejahatan secara mudah, rapi dan rahasia. Itu makanya orang tua harus awasi anak-anaknya, dengan cara tidak memberikan HP yang canggih. Begitu juga para guru di sekolah harus bisa ikut mengawasi,” ungkap Ignatius usai menghadiri pembukaan sosialisasi kegiatan peningkatan toleransi dan kerukunan dalam kehidupan beragama di Bobaigo, Keuskupan, Jalan Cenderawasih, Jalur SP 2, Selasa (26/9).

Jangkauan kepemilikan HP dan alat elektronik lain yang bisa mengakses Medsos, menurut dia, di Timika hampir dimiliki oleh semua kalangan. Hal ini selain karena kemampuan finansial, juga oleh tuntutan gaya hidup. Itulah yang membuat beberapa orang tua dengan mudahnya memberikan fasilitas HP canggih kepada anaknya.

“Sudah pernah terjadi anak sekolah di Timika mengunggah foto seronok yang melakukan adegan suami istri bersama pasangannya. Itu berbarti korban medsos,” tuturnya.

Mengingat hal tersebut, ia mengharapkan setiap Ortu dan guru harus bisa menjalin komunikasi dalam mengecek keberadaan anak. Saat ini banyak anak-anak yang ketika pagi berangkat ke sekolah namun sesungguhnya tidak sampai ke sekolah. Dan ironisnya hal tersebut tidak diketahui Ortu dan guru.
Oleh sebab itu, dengan seringnya anak tidak masuk sekolah, tentunya menjadi kewajiban guru untuk mengecek ke Ortu.

“Sekarang itu setiap pagi memang dari rumah itu pakai seragam dan pamit ke orang tua. Tapi nanti bukan ke sekolah, tapi belok ke tempat lain. Seharusnya guru harus mengecek absen dan wajib telepon atau datangi langsung rumahnya serta cek keberadaan si anak. Dengan begitu nantinya perlahan akan tahu apa aktifitas anak tersebut di luar sekolah,” harapnya.

Mengantisipasi jatuhnya korban akibat penyalahgunaan PCC dan sejenisya, menurut Ignatius, banyak hal spesifik yang harus menjadi perhatian bersama. Bukan hanya menjadi tanggungjawab TNI dan Polri, namun juga menjadi perhatian seluruh masyarakat Mimika.

“Selain kita percayakan kepada aparat hukum untuk memberantas peredaran PCC, kita sebagai masyarakat juga harus bisa ikut berperan. Kalau misalnya di salah satu apotik ada jual, itu harus dilaporkan. Intinya kalau bukan diri sendiri, terus siapa lagi yang menjaga diri kita sendiri. Jangan mengharapkan Polri dan TNI saja,” tuturnya. (Acik)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment