Pdt Abraham Manurung Tidak Ada yang Kekal di Dunia Ini

Bagikan Bagikan




“Oh Tuhan pakailah hidupku, Selagi aku masih kuat,  Bila saatnya nanti,  Ku tak berdaya lagi,  Hidup ini sudah jadi berkat.”

PENDETA (Pdt) Abraham Manurung merupakan sosok Gembala Tuhan yang sudah sangat menyatu dengan anggota Jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Sion Tembagapura. Betapa tidak. Selama 41 tahun lamanya ia habiskan untuk melayani Tuhan Yesus sebagai Majelis dan Gembala di jemaat ini dalam segala suka dan duka.

Pada Sabtu (16/9) di Community Hall Tembagapura, Pdt Abraham mengakhiri sejarah panjang perjalanan pelayanannya di Jemaat Sion. Sebuah acara perpisahan digelar anggota Jemaat Sion sebagai penghormatan untuk melepas Pdt Abraham, berlangsung dalam suasana penuh haru. Rasa haru dari Pdt Abraham tak tertahankan ketika tongkat estafet sebagai Gembala diserahkan kepada Pdt Yohanis John Rooroh. Seluruh anggota jemaat Sion dan tamu undangan yang hadir pun turut diselimuti rasa haru yang mendalam.

“Terima kasih kepada seluruh jemaat GPdI Sion Tembagapura. Ada pepatah mengatakan, tidak ada gading yang tak retak,  saya manusia biasa, punya keterbatasan,  mungkin ada kesalahan, atau mungkin ada kemampuan saya yang terbatas, saya mohon maaf. Kepada Pendeta John Rooroh yang akan melanjutkan penggembalaan ini, maju terus, yang terpenting memberi hati yang sunguh-sungguh dalam pelayanan untuk semua jemaat. Saya berharap hubungan kekeluargaan diantara kita tetap terjalin,” kata Pdt Abraham ketika menyampaikan sambutan perpisahan dihadapan jemaat dan tamu undangan istimewa, diantaranya Executive Vice President Human Resources PT Freeport Indonesia (PTFI),  Achmad Didi Ardianto dan Kapolres Mimika, AKBP Viktor Mackbon.

Pdt Abraham menegaskan, tidak ada yang kekal di dunia ini. Segala sesuatu ada masanya. Ada saat untuk bertemu, ada saat untuk berpisah. Ada saat untuk bersama-sama, ada saat untuk bercerai. Tuhan membuat segala sesuatu indah pada masanya. Dan sesungguhnya tidak ada perceraian abadi antara Gembala Tuhan dan anggota jemaat yang dilayaninya. Berpisah dan bercerai secara fisik, tapi tetap satu dalam iman dan doa, saling mendukung dan menguatkan.

Sedikit bernostalgia, Pdt Abraham mengungkapkan mulai menginjakkan kaki di Tembagapura tanggal 14 Desember 1970. Saat itu bekerja sebagai karyawan pada PT Bethel, yang membangun  infrastruktur di area PTFI, membangun jalan, rumah-rumah, pabrik dan lain-lain, yang digunakan PTFI saat mulai berproduksi tahun 1973. Dua tahun ia bekerja di perusahaan ini sebagai teknisi alat-alat berat. Dan pada tahun 1973 sampai 1997,  atau kurang lebih 24 tahun, bekerja sebagai karyawan PT Freeport.

Pdt Abraham kemudian memilih pensiun, ketika dipindahkan PT Freeport dari Tembagapura ke Jakarta. Menariknya, alasan pensiun tersebut dipilih karena lebih mengutamakan pekerjaannya sebagai Gembala di Jemaat Sion. Ia memilih bekerja dan mengabdikan diri kepada Tuhan Yesus dibanding kepada perusahaan emas raksasa dunia tersebut. Masa-masa sulit yang dialaminya saat-saat awal menjadi Gembala tidak sedikit pun mengurangi tekad kuat dan semangatnya yang kokoh untuk menjadi hamba Tuhan. Ia percaya, berkat Tuhan akan berlimpah dalam hidupnya.

“Tepatnya tanggal 19 September 1976, GPdI Tembagapura resmi berdiri. Sejak itu saya melayani di sini, jemaat seluruhnya bekerja sebagai karyawan. Tahun 1996 saya diangkat sebagai gembala sekalian sebagai pendeta junior,” kata Pdt Abraham.

Sadar dirinya tidak berlatarbelakang pendidikan theologia, Pdt Abraham memilih melanjutkan kuliah theologia di Universitas Pelita Harapan Jakarta tahun 1996 dan diwisuda tahun 2000. Pada tahun yang sama,  tepatnya Agustus 2000, waktu Mubes GPdI di Senayang Jakarta, Pdt Abraham dithabiskan sebagai pendeta senior di GPdI.

“Saya berterima kasih kepada jemaat GPdI yang telah mengcover semua ini. Kepada PT Freeport juga saya berterima kasih, banyak yang saya dapatkan selama saya bekerja. Pertama-tama tentang disiplin. Semua keberhasilan harus dimulai dari disiplin. Kalau teknologi bisa dipelajari, tapi disiplin itu datang dari hati kita,” ujar Pdt Abraham.

Pdt Abraham juga menyampaikan terima kasih kepada Pak Didi (Executive Vice President Human Resources PTFI - Red).

”Terima kasih banyak, sudah datang, ini suatu yang surprise. Doa kami selalu untuk Pak Didi dan keluarga dan PT Freeport Indonesia tetap maju, saat ini dan ke depan. Ketua BAMAG, terima kasih buat kerjasama yang baik.  Kepada PKBT, terima kasih. Terus kembangkan perkumpulan ini. Maju terus, Tuhan pasti berkati. Pendeta dari lima denominasi gereja harus tetap bersatu, saling mendukung saling mendoakan, menyuport operasional PT Freeport. Ini suatu yang positif, di mana kita ada di sini karena ada perusahaan ini. Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, kalau kita semua mau memberi hati dan bersatu,”  kata Pdt Abraham Manurung.

Usia 72 tahun, merupakan usia bonus dari Tuhan untuk Pdt. Abraham Manurung. Selama 20 tahun melayani Tuhan sebagai majelis jemaat dan 21 tahun sebagai Gembala dan Pendeta. Artinya lebih dari setengah usianya saat ini, atau 41 tahun sudah digunakan untuk melayani Tuhan. Perjalanan hidup dan pelayanannya sebagai Gembala telah mendapat banyak berkat dari Tuhan. Hidup Pdt Abraham pun sudah menjadi berkat bagi banyak umat Tuhan.

Karena itu, lagu ciptaan Pdt. D. Surbakti ini sangat layak disematkan pada sosok Pdt. Abraham. “Hidup ini adalah kesempatan, Hidup ini untuk melayani Tuhan, Jangan sia-sia kan apa yang Tuhan beri,  Hidup ini harus jadi berkat. (Reff) : Oh Tuhan pakailah hidupku, Selagi aku masih kuat,  Bila saatnya nanti,  Ku tak berdaya lagi,  Hidup ini sudah jadi berkat.” (yulius lopo/fidel djeminta)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment