Penjual Noken Minta Perhatian Pemerintah

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) - Bila kita melintasi bundaran tugu perdamaian Timika Indah dan sekitarnya (Jalan Budi Utomo), mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan warna-warni. Keindahan warna-warni itu berasal dari noken hasil karya mama-mama Papua yang sengaja digantung pada kayu yang diberi paku.

Keberadaan mereka disitu tak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, dalam hal izin berdagang (Menjual) hasil karya mereka ditempat umum (Pinggiran jalan). “Kita di sini tidak dapat izin, tapi kita gantung-gantung saja,” kata salah satu penjual noken, mama Ida, saat diwawancara Salam Papua, Selasa (5/9)

Belakangan dikarenakan intensitas hujan yang tinggi, tidak banyak aktifitas yang mereka dilakukan. Terpantau, mereka tidak memiliki tempat untuk memasarkan noken-noken hasil anyaman tangan kosong itu, hanya dipinggir jalan dengan peralatan seadanya.

“Kita tidak ada tempat sekarang ini. Kita disini kalau hujan hanya berlindung di bawah payung kecil atau tutup jualan. Kalau panas, kita kepanasan,” sambung mama Yulita, rekan berjualan mama Ida yang juga menjual noken.

Ketika ditanya terkait bagaimana dalam menyikapi kondisi seperti ini, mama Ida mengatakan, Ia bersama rekan-rekannya yang lain tidak bisa berbuat banyak. Dan memang, mereka menyadari kalau tempat dimana mereka berjualan adalah wewenang pemerintah untuk mengatur, tetapi apa boleh buat, tempat untuk mereka menjual hasil karya noken pun belum disediakan pemerintah. Sehingga terpaksa memanfaatkan pinggir jalan sebagai tempat berjualan.

“Tempat itukan mereka (Pemerintah-Red) yang atur,” ujarnya.
Dengan kondisi seperti itu, baik mama Ida dan mama Yulita menginginkan adanya perhatian khusus pemerintah kepada mereka.

“Di kota lain mama-mama diperhatikan, di Timika kita juga harus diperhatikan,” harap mama Ida.
Sebagaimana diketahui bersama, noken telah menjadi ikon bumi Cenderawasih. Noken ialah warisan budaya dan kearifan lokal yang bernilai tinggi.

Pengakuan noken baik nasional maupun internasional. Dalam lingkup nasional Indonesia, noken bertransformasi dan mengubah rezim tata hukum pemilu sebagai suatu sistem hukum pemilu, yang disebut “sistem noken” melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 47-48/PHPU.A-VI/2009 yang khusus berlaku di Papua.

Di kancah internasional, pada tangal 4 Desember 2012 The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) secara resmi menetapkan noken sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda di Paris, Perancis.

Dari situ, pemerintah khususnya Pemkab Mimika, sudah seharusnya menyediakan tempat yang khusus dan layak untuk mama-mama Papua memperdagangkan hasil karya noken. Sebab, ini merupakan peluang bisnis bagi mereka dan perlu dikembangkan agar dapat mensejahterakan masyarakat. (Korneles Materay)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment