Pergantian Pendeta di Jemaat GPdI Sion Tembagapura Pdt Abraham Manurung Diganti Pdt Yohanis John Rooroh

Bagikan Bagikan
“Seperti Aku menyertai Musa, demikian juga Aku menyertai engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.”



SAPA (TEMBAGAPURA) – Setelah melalui pergumulan yang cukup panjang, Ketua Majelis Daerah (MD)  Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Provinsi Papua, Pdt Timotius Dawir,STh akhirnya menyetujui pergantian Pendeta di Jemaat GPdI Sion Tembagapura dari Pdt Abraham Manurung kepada Pdt Yohanis John Rooroh. Acara serah terima jabatan ini disatukan dalam Kebaktian Penthabisan Gembala GPdI Jemaat Sion Tembagapura, di Community Hall Tembagapura, Sabtu (16/9).

Pdt Abraham Manurung sudah melayani GPdI Sion sejak tahun 1970, diawali sebagai Majelis Jemaat. Pada Tahun 1996 dithabiskan sebagai Pendeta Muda atau Pendeta Junior. Pdt Abraham kemudian memperdalam ilmu theologia dengan mengikuti kuliah jarak jauh di Fakultas Theologia Universitas Pelita Harapan tahun 1996 dan diwisuda tahun 2000. Pada tahun 2000 ini, pada Mubes GPdI di Senayan Jakarta, Pdt Abraham Manurung dithabiskan menjadi Pendeta Senior.

Pdt Timotius Dawir ketika menyampaikan kotbah dalam kebaktian Penthabisan ini mengatakan, tidak ada sesuatu apa pun yang terjadi dalam hidup manusia tanpa sepengetahuan Allah. Segala sesuatu terjadi dalam kontrol dan rancangan Tuhan (Roma 8:28).

Pdt Timotius mengatakan, Pdt Abraham Manurung yang saat ini berusia 71 tahun, sudah melayani di Jemaat GPdI Sion Tembagapura sejak tahun 1970 sebagai majelis jemaat dan menjadi Gembala atau Pendeta sejak tahun 1996 sampai 2017 atau sudah 21 tahun lamanya.

“Selama 21 tahun sebagai pendeta di sini,  banyak hal yang sudah dilakukan, baik melayani sebagai majelis, sampai menjadi gembala atau Pendeta. Karena karya-karya yang besar dan luar biasa inilah yang membuat pada akhirnya kami menyetujui pergantian hamba Tuhan di jemaat ini. Tapi untuk diketahui di GPdI itu, khusus di GPdI di Papua tidak mengenal istilah pensiun. Karena itu menjadi Pendeta di GPdI Papua, itu artinya menjadi Pendeta seumur hidup, jadi sampai meninggal baru stop pelayanan,” kata Pdt Timotius.

Pdt Timotius mengemukakan, hari ini (Sabtu-Red), semua umat Tuhan berada di Jemaat Sion ini, karena Pdt Manurung akan turun ke Kota Timika untuk melayani di Jemaat GPdI Kalvari, dan Pdt Yohanis John Rooroh, sebagai pengganti dari Pdt Abraham Manurung juga bukan orang baru di jemaat ini.

Mendasarkan pada Amsal 24 ayat 10 yang berbunyi, “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu,” Pdt Timotius menegaskan, masa kesukaran adalah sebuah kondisional yang terjadi selama hayat di kandung badan. Tidak ada satu manusia pun yang tidak ada masalah. Raja Salomo berkata bahwa masa kesesakan membuat hati menjadi tawar, dan kalau hati sudah menjadi tawar, maka kekuatannya menjadi kecil.

“Sewaktu masih kuliah theologia di Kota Manado, saya pernah diminta untuk mendoakan seorang professor doktor, semua saya menolak, tapi dia berkata, professor itu di sekolah, tapi sakit ini menurunkan iman. Ini artinya, masalah itu tidak pandang jabatan, tidak pandang kedudukan, tidak pandang title tinggi atau rendah. Itu sebabnya Raja Salomo sebagai seorang yang paling berhikmat di dunia, mengingatkan bahwa kekuatan itu ada di hati, karena kalau hati itu tawar atau lemah, maka kekuatan sudah hilang,” ujar Pdt Timotius.



Menurut Pdt Timotius, dalam I Telesalonika, disebutkan tubuh manusia terbagi atas tubuh, jiwa dan roh. Tubuh terdiri dari organ-organ luar dan organ-organ dalam. Jiwa dibagi menjadi tiga yaitu cara berpikir atau intelektual, perasaan atau emosi, kehendak atau semua kemauan dalam hidup. Roh secara teologis dibagi menjadi tiga, pertama intuisi, dimana manusia bisa berkomonikasi dengan Allah di dalam Roh, kedua, pertimbangan rohani, ketika kita melakukan sesuatu yang tidak benar, maka seperti ada seseorang yang berbisik bahwa apa yang kita lakukan itu salah. Ketiga adalah hati nurani, peliharalah hatimu dalam segala kewaspadaan karena disitulah terpancang kehidupan.

Terkait dengan pergantian hamba Tuhan ini, Pdt Timotius mengutip Kitab Yosua 1 tentang Allah menunjuk Yosua untuk membawa bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. Allah menegaskan kepada Yosua, “ Seperti Aku menyertai Musa, demikian juga Aku menyertai engkau. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang memimpin Bangsa Israel memiliki negeri yang telah Ku janjikan kepada nenek moyang Israel. Bertindaklah sesuai hukum yang sudah diberikan kepada Musa, sehingga perjalananmu akan berhasil. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah kecut dan tawar hari, Aku sebagai Tuhan Allahmu menyertaimu ke Tanah Perjanjian.”

Pdt Timotius menegaskan, Yosua saat itu hatinya ciut. Tokoh sehebat Musa, siapakah tandingannya? Musa dalah manusia satu-satunya yangberhadapan muka dengan muka dengan Allah dan berbicara langsung dengan Tuhan. Tokoh spektakuler. Itu yang membuat Yosua ciut hatinya ketika dipilih Tuhan menggantikan Musa.  Bagaimana bisa mengimbangi kekuatan Musa.

“Karena itu, tiga kali Allah berkata kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Jadi ternyata kekuatan itu ditentukan oleh hati. Sebagai hamba Tuhan, hati ini musti kuat,” kata Pdt Timotius.

Pdt Timotius mengatakan, sebelum memimpin kebaktian ini, dirinya sempat berbincang-bincang dengan   Ketua BAMAG mengatakan Pdt Manurung kelihatan sehat sekali, sudah usia 72 tahun tapi masih mantap. Lalu Pdt Manurung mengatakan, ini karena saya melayani Tuhan sepanjang hidup saya, jadi masih sehat. Mungkin kalau saya pekerjaannya lain, mungkin sudah berangkat (meninggal-Red). “Usia-usia begini usia gawat, usia bonus dari Tuhan, tapi kenapa kuat, itu karena Pdt Manurung memiliki hati yang teguh, hati yang kuat kepada Allah, karena itu usia merupakan kasih karunia Tuhan,” kata Pdt Timotius.

Ditegaskan berulang kali, hati harus kuat, maka akan ada kekuatan menghadapi hidup ini. Sebagai pelayan Tuhan atau yang biasa disingkat Peltu, perasaan kedagingan harus dimatikan. Kalau pendeta hatinya tidak kuat,  berhadapan dengan anggota jemaat yang memiliki sifat dan temperamental yang bermacam-macam, berbeda pandangan dan lain sebagainya,  hati ini harus kuat, tidak boleh lemah, karena kalau lemah maka tidak bisa bertahan dalam pelayanan.

“Di Papua ada 505 jemaat GPdI, saya sudah mengunjungi semuanya dan menyelesaikan banyak permasalah. Banyak pendeta yang saya nasehat, bahwa kita hanya bisa duduk di kaki Tuhan Yesus dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus. Suatu ketika ada satu pendeta datang ke saya dan mengatakan bapak ini ada permasalah begini-begini, saya lalu bertanya siapa yang memanggil kamu menjadi pendeta, dia menjawab Tuhan Yesus, lalu saya menjawab dia,  kalau begitu serahkan semua permasalahan pelayananmu kepada Tuhan Yesus, percayalah semua akan diselesaikannya,” kata Pdt Timotius.

Kepada Pdt Manurung dan Pdt Rooroh, Pdt Timotius mengingatkan, peganglah kuat-kuat janji Firman Tuhan, dan Tuhan akan memampukan untuk melakukan pekerjaanNya. Tantangan ke depan, bukan hanya lahiriah atau duniawi, tapi gereja akan diperhadapkan dengan perang terhadap roh-roh jahat.

“Jadi hamba Tuhan harus kuat dalam kuasa Allah, ambilah seluruh senjata perlengkapan Allah supaya bisa menang melawan segala tipu muslihat dunia. Lawan kita itu iblis, serangan setan, gereja harus berdiri di atas janji Firman Allah, di bawah kolong langit ini hanya ada satu nama, yaitu nama Yesus yang oleh-Nya manusia diselamatkan. Pendeta harus berjalan sesuai dengan apa yang dikatakan Firman Allah, lakukanlah kebenaran firman Allah, kuatkan dan teguhkan hati maka Allah akan menyertai engkau. Dia Allah yang berjanji dan Dia Allah yang akan menepati janjiNya. Dia Allah yang setia. Hamba Tuhan tidak boleh bergeser dari Firman Allah. Tetap berdiri diatas kebenaran,” kata Pdt Timotius.

Pada kesempatan ini, Pdt Timotius juga mengumumkan, tugas selanjutnya dari Pdt Abraham Manurung, selain sebagai Pendeta di Jemaat GPdI Kalvari SP3 Timika, Pdt Abraham Manurung juga dipercaya menjabat Kepala Biro Kesejahteraan untuk Pendeta-Pendeta di Majelis Daerah (MD)  GPdI Provinsi Papua. “Jadi Pdt Ambraham Manurung harus mengunjungi semua Pendeta yang tersebar di 505 jemaat GPdI di Papua, bergumul bersama dan memperhatikan hidup mereka, baik itu susah atau senang, suka maupun duka,” ujar Pdt Timotius.


Usai menyampaikan kotbah, Pdt Timotius bersama Pendeta GPdI yang hadir saat ini, berdoa dan menumpangkan tangan dan menthabiskan Pdt Yohanis John Rooroh dan istrinya. Usai acara penthabisan, dilanjutkan dengan penandatangan dan penyerahan berita acara serah terima jabatan, ditandatangani oleh Pdt Yohanis John Rooroh dan  Ketua Majelis Daerah (MD)  Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Provinsi Papua, Pdt Timotius Dawir, STh.

Acara ini dihadiri Executive Vice President Human Resources PT Freeport Indonesia (PTFI),  Achmad Didi Ardianto, Kapolres Mimika, AKBP Viktor Machbon dan istri, Kepala Suku Amungme, Anis Natkime, sejumlah hamba Tuhan dari denominasi gereja yang ada di Tembagapura, istri Pdt Manurung, Nyonya Magdalena Timotheus,  dan empat anak,  Ray Manurung, Joe Manurung, Jason Manurung, Randy Manurung beserta istri dan cucu-cucu Pdt Manurung. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment