Peringatan 1 Muharram 1439 H & HSN Sebagai Ajang Refleksi Diri

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) - Merayakan tahun baru Islam 1 Muharram 1439 Hijriyah dan pembukaan kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) ke II tahun 2017, Panitia Hari Santri Nasional dan 1 Muharram (HSNM) menggelar kirab (Karnaval-Red) 1 Muharram & HSN. Kegitaan ini melibatkan sekolah maupun organisasi serta masyarakat muslim di Kabupaten Mimika, Kamis (21/9).

Dalam kegiatan ini, hadir mewakili Pemkab Mimika dalam hal ini Bupati Mimika, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Drs. Kristian Karubaba, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Mimika Akhir Iribaram, Ketua PHBI La Itam Gredenggo, Dandim 1710/Mimika Letkol Inf. Windarto, perwakilan Lanal Timika, Ketua KKJB Imam Parjono dan perwakilan KNPI.



Dalam sambutan Ketua PC NU Mimika, mengatakan, pengurus NU sangat bersyukur karena dalam rangka memeriahkan 1 Muharram dan mensukseskan kegiatan HSN, berkat adanya kerjasama dari semua organisasi Islam di Mimika. Sebab, dalam memperingati tahun baru Islam 1 Muharram dari tahun ke tahun mengalami perubahan yang baik, diharapkan di tahun ini dapat memberikan warna baru.

“Kami berterima kasih dan bersyukur karena kegiatan 1 Muharram dan HSN bisa diselenggarakan hari ini,” kata Akhir Iribaram.

Selanjutnya, kegiatan seperti ini diharapkan PHBI dapat melibatkan seluruh pihak terkait, sehingga tidak terkesan diselenggarakan sendiri-sendiri.

“Kegiatan seperti ini libatkan semua masjid-masjid dan sekolah-sekolah, supaya kita tidak selenggarakan sendiri-sendiri,” harapnya.




Sementara itu staf ahli bidang pemerintahan dalam sambutannya mewakili Bupati Mimika, mengulas sedikit sejarah keterlibatan santri dalam perjuangan kemerdekaan. Dimana dengan lahirnya resolusi jihad dan menyuarakan kepada umat muslim Indonesia, untuk bersatu dan berjuang demi membela tanah air. Para pemimpin NU dan Masyumi menyatakan bahwa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah Perang Sabil.

“Dalam perjuangan mereka (Santri-Red) mengeluarkan resolusi jihad untuk tetap berjuang demi kemerdekaan Indonesia,” kata Kristian mengenang keterlibatan para santri dalam membela tanah air Indonesia.

Resolusi yang dikeluarkan memantik semangat para pejuang hingga terjadi peristiwa heroik di Kota Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Demi mempertahankan kemerdekaan, saat itu banyak santri yang gugur dalam perjuangan melawan tentara sekutu.

“Karena banyak santri yang gugur dalam pertempuran pada 10 November, sehingga dikenang dengan hari pahlawan,” katanya.

Selain itu, menurutnya hari santri perlu dijadikan sebagai bahan dan ajang refleksi untuk merenungkan perjuangan, kontribusi maupun sifat santri. Sehingga bisa menjadi motivasi kepada para santri untuk mengisi kemerdekaan dalam pembangunan.
“Jadi apa yang telah dibuat, itu sebagai bahan refleksi bagi kita,” ujarnya.

Lanjut Kristian, kaum muda dewasa ini sering identik dengan pergaulan bebas, tawuran pelajar, narkoba, pornografi, dan kenakalan remaja lainnya. Tetapi, masih banyak pemuda-pemudi yang dengan semangat menimba ilmu agama melalui pesantren-pesantren.

Karakter kehidupan santri yang terkenal dengan kemandirian, kejujuran, kesederhanaan, sopan santun, pandai bersosialisasi dengan masyarakat, diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi kaum muda lainnya.


“Perjuangan santri dengan kaum muda masa kini sangat berbeda jauh. Tapi, masih ada kaum muda yang mau menimba ilmu di pesantren-pesantren,” jelasnya. (Ricky Lodar)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment