Persoalan Sebagai Teguran untuk Seluruh Aparatur Negara

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) - Kapolres Mimika, AKBP Victor Dean Mackbon mengatakan, berbagai persoalan yang telah terjadi di Kabupaten Mimika merupakan tamparan bagi seluruh Aparatur Negara, baik dalam tubuh aparat penegak hukum maupun lingkup Pemerintahan Kabupaten Mimika. Dengan demikian, setiap persoalan yang terjadi, bukan semata-mata menjadi tanggungjawab Kepolisian sebagai aparatur penegak hukum.

Hal tersebut disampaikan Kapolres ketika menghadiri pertemuan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) beserta seluruh pemangku jabatan dilingkup Pemkab Mimika serta Forkompinda, Selasa (5/9), di Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem). Itu juga dalam menyikapi persoalan antar nelayan non Papua dan nelayan lokal pasca bentrokan di Poumako beberapa waktu lalu.

Victor juga mengatakan, setiap masalah yang terjadi tidak harus berakhir ditangan Kepolisian. Itu sebenarnya membutuhkan kerja sama dengan semua pihak baik dalam bentuk dukungan untuk menyelesaikan serta mencari solusinya.

“Ini tamparan buat kita semua. Bagaimana tidak, kita biarkan orang membangun tanpa Izin Mendirikan Bangunan (IMB), sehingga masyarakat yang punya lahan menentang. Kita juga biarkan kapal-kapal ikan luar masuk tanpa izin,” katanya.

Selain permasalah antar nelayan di Poumako, Kepolisian pun telah memetakan beberapa persoalan yang harus diselesaikan dalam beberapa waktu ke depan, seperti tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), pemalangan jalan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), konflik di Sugapa yang berimbas hingga ke Timika, penolakan pembangunan tempat ibadah, aksi mogok karyawan PT. Freeport Indonesia, tuntutan dana insentif guru honorer, pembagian dana Program Keluarga Harapan (PKH), pembagian Dana Desa, penganiaayaan yang mengakibatkan konflik antar suku, pemalangan jalan akibat banjir serta perang suku Nduga di Kilometer 11.

Dari berbagai masalah atau polemik yang disebutkan diatas, belum terselesaikan. Dan itu bukan saja menjadi tanggungjawab Kepolisian.

“Bukan berarti Polisi tidak bekerja, kami bekerja 24 jam, tapi ada batas kemampuan kami. Coba kita lihat persoalan pembangunan tempat ibadah, itu kejadian yang didepan biji mata kita semua, kenapa tidak dilihat? Padahal bangun tempat ibadah itu harus ada IMB, tapi kita tedak perhatikan,” tuturnya.

Kapolres mengungkapkan saat ini sudah ada laporan bahwa semua perlengkapan para nelayan pendatang di jarah. Menurut dia, persolan itu harus dijadikan sebagai teguran bagi pemerintah. Sebab tindakan penjarahan dan penahanan perahu oleh masyarakat lokal adalah ujung dari ketidak-berdayaan dalam mengikuti persaingan.

“Kita hadir dalam rapat seperti ini bukan hanya dihadiri oleh pejabat dari instansi pemerintahan, namun juga dari aparat hukum. Sehingga kita bisa saling berbagi peran dalam melibatkan diri untuk menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Masa hanya untuk menyelesaikan sembilan persoalan itu kita semua tidak bisa? Seolah-olah tunggu ada yang meninggal baru diselesaikan,” ujarnya.

Terkait peristiwa bentrokan antar nelayan di Poumako, Ia mengatakan, masuknya kapal atau perahu penangkapan ikan dari luar Mimika sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Namun itu seolah dibiarkan untuk beroperasi tanpa memiliki izin. Sehingga ketika adanya persoalan yang menelan korban jiwa, maka masyarakat lokal yang dipersalahkan.

“Saya juga sangat kasihan dengan laporan masyarakat lokal bahwa mereka kalah bersaing. Seharusnya pemerintah harus berpikir bagaimana caranya untuk memberdayakan masyarakat lokal. Memang kita orang Indonesia tidak dilarang untuk cari makan dimana saja, tapi harus diatur. Siapa yang mengatur? ya pemerintah,” katanya.

Sehingga untuk menjawab tuntutan nelayan lokal, pemerintah tidak bisa hanya dengan mendengarkan. Tetapi harus bisa menelusuri langsung sesuai dengan apa yang dilaporkan oleh nelayan lokal.

“Banyak sekali kapal dan perahu yang beroperasi tanpa izin. Ketika kami pergi mengecek kapal-kapal tersebut, banyak yang tidak ada izin. Mungkin dia urus izinnya setelah terjadi bentorkan,” tuturnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment