Pertumbuhan Hotel Mendukung Akomodasi PON 2022

Bagikan Bagikan




SAPA (TIMIKA) - Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispora) Kabupaten Mimika, Mohammad Toha mengakui pesatnya pertumbuhan Hotel di Mimika sangat mendukung ketersediaan Akomodasi bagi tamu yang hadir pada pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke 22 tahun 2022 mendatang.

"Kita juga bersyukur dengan munculnya pembangunan hotel-hotel. Karena itu sangat membantu akomodasi bagi tamu dari daerah lain saat PON nanti," ungkap Mohammad ketika ditemui Salam Papua di Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem), SP III, Senin (25/9).

Selain untuk pemenuham akomodasi bagi tamu PON 2022 menurut dia, pesatnya pembangunan hotel tentunya sangat membantu penambahan pemasukan ke kas daerah. Sebab secara pasti akan ada penarikan pajak.

Namun yang paling penting menurut dia, kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap pengusaha. Dalam hal ini terkait dengan izin mendirikan bangunan serta pemenuhan syarat pembangunan usaha hotel.

"Bagai mana pun juga berdiri hotel berarti harus ada izin. Baik IMB, AMDAL dan pengesahan hukum lainnya. Itu sangat penting dan harus dipenuhi oleh setiap pengusaha,"katanya.

Dia mengatakan, sejauh ini belum menerima pengajuan izin dari pengusaha-pengusaha yang membangun hotel baru. Sebab menurut dia, yang terdaftar terakhir hanya Hotel Horizon. Sedangkan untuk hotel baru lainnya belum ada.

"Kita selalu awasi munculnya pembangunan hotel dan tempat penginapan jenis lainnya. Cuman untuk data realnya saya tidak bisa mengira-ngira karena itu terdata," katanya.

Sedangkan terkait pembenahan tempat pariwisata, ia mengakui sangat penting untuk seiring dengan pertumbuhan tempat penginapan. Karena jika pembenahan tempat pariwisata tidak diiringi denga adanya penginapan yang memadai akan terasa tidak lengkap.

"Bagai mana pun dua lini ini harus sama-sama pentingnya. Kalau tamu datang ke Timika itu tidak mungkin hanya untuk nginap dan ada dalam hotel terus. Tapi yang pasti mau jalan-jalan," ungkapnya.
Akan tetapi untuk pemgembangan obyek pariwisata, ia mengatakan masih ada kendala. Kendala tersebut merupakan belum adanya pemahaman dari masyarakat. Dimana menurut dia, salah saru contoh yang terjadi saat ini adalah, banyaknya penagihan liar oleh oknum-oknum tertentu di tiap titik yang cendrung jadi tempat wisata masyaramat Timika.

"Contoh di kali kiyura itu. Banyak sekali masyarakat yang menagih. Itu kan jadi menakutkan pengunjung," katanya.

Ia mengakui telah melakukan sosialisasi bersama warga di sekitar pintu masuk kali Kiyura agar penagihan tidak boleh dilakukan secara ilegal. Ia mengharapkan masyarakt menghargai upaya pemerintaj dalam mendorong sektor pariwisata.


"Saya bilang, kalau menagih itu tidak boleh dengan cara yang terkesan memaksa. Kalau dengan cara begitu sama saja mengusir tamu yang mau mengunjungi wilayah kita," ungkapnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment