Slip Gaji Bisa Tertukar, Berkat Tuhan Tidak

Bagikan Bagikan




SAPA (TEMBAGAPURA) – Dalam menjalani pekerjaan apa pun, seseorang mestinya tidak mengandalkan hidupnya pada gaji dari pekerjaan tersebut, tapi pada berkat dari Tuhan.

“Slip gaji itu bisa tertukar tapi yang namanya berkat Tuhan itu tidak bisa tertukar. Makanya saya ini kerja, saya tidak pernah kuatir. Saya sudah lihat dan rasakan, bagaimana Papi saya, Pdt Abraham Manurung mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, selama Papi melayani Tuhan 21 tahun, berkat Tuhan yang diterimanya berlimpah luar biasa,” kata anak pertama dr Pdt Abraham Manurung ketika memberi sambutan pada acara Kebaktian Penthabisan Gembala Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Sion Tembagapura, sekaligus perpisahan dan lepas sambut Pendeta Jemaat GPdI Sion dari Pdt Abraham Manurung kepada Pdt Yohanis John Rooroh di Community Hall Tembagapura, Sabtu (16/9).

Ray yang kini menjabat CEO PT. Inixindo Amiete Mandiri (Inixindo Bandung), menjelaskan, acara perpisahan sekaligus lepas sambut Gembala di Jemaat GPdI Sion Tembagapura ini memiliki arti dan nilai tersendiri bagi anak-anak dari keluarga Pdt Abraham Manurung.

“Saya bersama keluarga bersyukur dan senang, akhirnya Papi sudah turun (dari Tembagapura ke Timika – Red). Mungkin saya salah, mungkin juga saya benar. Karena saya kalau naik bis ke Tembagapura saja saya malas, tapi saya lihat Papi naik turun Tembapura Timika, bisa tiga kali dalam satu minggu. Saya pernah tungguin Papi di Gorong-Gorong, saya pikir-pikir ngapaian saya punya bapak ini antre-antre di tempat ini. Tapi saya kemudian mengerti itulah Papi kami, yang selalu mengabdikan segala hidupnya buat Tuhan. Jerih lelah Papi, orangtua kami itulah yang membuat kami hari ini tidak hidup meminta-minta,” kata Ray.


Ray mengemukakan, tahun 1996 waktu terjadi insiden, Papi dipindahkan oleh PT Freeport dari Tembagapura ke Jakarta. Insiden ini menjadi pelajaran hidup dan pelajaran iman berharga bagi keluarga, terlebih bagi anak-anak.

“Saya masih kuliah, adik saya Joe masih di Amerika, adik-adik yang lain Jason dan Randy masih sekolah. Terus Papi bilang begini, Ray, bagaimana menurut kamu, kalau Papi pindah ke Jakarta, Papi sudah tidak Pendeta lagi,  ini pelayanan diserahkan ke pendeta yang lain. Tapi Papi bisa dekat sama kamu di Bandung, Papi tetap kerja, slip gaji lancar,  atau Papi tetap jadi Pendeta, tapi tidak kerja lagi di PT Freeport, slip gaji berhenti,” ujar Ray.

Menanggapi apa yang disampaikan Papi, spontan, tanpa banyak piker.  “Saya bilang mendingan Papi kerja sama Bos Besar (Allah-Red) di atas, tidak usah kerja lagi dengan manusia. Lalu Papi bilang kau jangan asal ngomong.  Kamu sudah siap atau belum? Kalian jangan main-main, harus sekolah yang benar. Karena kalian akan dibiayai dengan uang dari Tuhan, dari hasil pelayanan. Mulai saat itu, kami merasakan pindah, dari yang namanya slip gaji kepada berkat Tuhan. Kalau yang namanya slip gaji itu bisa banyak tapi kurang-kurang melulu. Tapi kalau berkat Tuhan,  kadang banyak, kadang sedikit, tapi selalu cukup. Dari situ kami jadi cepat lulus, karena mami bilang, ini uang dari pelayanan jadi jangan main-main, harus cepat selesai kuliah,” akunya.




Ray mengaku, Titus Natkime, adiknya Anis Natkime pernah mengatakan, dia tidak mau masuk kamar yang Papi tempati di Tembagapura sewaktu menjadi gembala Tuhan tahun 1996. “Dia bilang, meno saya menangis, lihat bapak punya kamar itu kecil,  kamar mandinya gantian dengan orang lain. Tapi kami anak-anak belajar, firman Tuhan bilang, kalau kita mau ditinggikan, kita harus mau direndahkan. Terima kasih Papi dan Mami yang ajarin kami anak-anak untuk tidak sombong. Ukuran manusia itu berbeda dengan ukuran Tuhan,” katanya.

Ray mengajak jemaat yang hadir, dalam hidup ini, jangan hanya mengandalkan slip gaji. Tapi jemaat  harus mengandalkan berkat Tuhan. Kalau jemaat hanya mengandalkan slip gaji, itu lagunya seperti ini:  Dari Sabang sampai Merauke, dari Timor sampai ke Talaud, Indonesia Tanah Air ku, ….. selera ku. Jadi urusannya hal duniawi. Tapi kalau hidup dari berkat Tuhan, lagunya begini: “Dari Sabang sampai Merauke, berjajar berkat-berkat.”

“Itu karena kita dalam bekerja apa pun itu, bekerjalah seperti untuk Tuhan. Kita bekerja buat pemimpin atau perusahaan yang bayar kita, tapi bekerja buat mereka sebagaimana bekerja untuk Tuhan, kita takut akan Tuhan, “ ujarnya.

Ray menambahkan, kalau lagu untuk orang punya slip gaji juga begini: “Oh Tuhan ku cintai dia, ku sayang dia, ku rindu dia, inginkan dia.”  Kalau gaji ada seperti itu, tapi kurang terus,  kalau gaji tidak ada di tendang. Tapi kalau mengandalkan berkat Tuhan, lagunya seperti ini, “Oh Tuhan pakailah hidup ku, selagi aku masih kuat, bila saatnya nanti, ku tak berdaya lagi, hidup ini sudah jadi berkat.” 

Menurut Ray, setiap kali  berkunjung  ke Tembagapura.  Ia dan adik-adiknya antara mau menangis dan rasa senang. “Karena kami dilahirkan di sini dan perusahaan di sini yang memungkinkan,  kami sekolah, kami punya banyak peluang dan meraih apa yang kami impikan. Karena itu, walau kami bukan karyawan Freeport,  tapi menjaga kota ini, menjaga perusahaan ini, itu suatu keharusan, bukan untuk suatu kebanggaan , tapi karena kami memang lahir di sini, mau apa lagi. Apa lagi anggota jemaat GPdI  yang bekerja di perusahaan ini, mari jaga perusahaan dan tempat ini dengan doa,” ujarnya.

Mengakhiri sambutan,  Ray dari hati yang paling dalam menyampaikan: “Kalau ada dari kami ada yang bersalah, keangkuhan atau kesombongan, apa pun itu, kami memohon maaf sebesar-besarnya.  Kami sangat berterima kasih, waktu sekolah, walau pun kami jauh dari Papi Mami, tapi Papi dan Mami punya anak-anak di sini banyak, yang menemani Papi dan Mami.  Anak Gunung Tembagapura (AGuTe-Red) di tempat ini, yang selalu melihat Papi dan Mami juga kami sampaikan terima kasih. Terima kasih juga buat PT Freeport yang sudah berbuat yang terbaik buat Papi dan Mami selama ini.”
Acara ini dihadiri Executive Vice President Human Resources PT Freeport Indonesia (PTFI),  Achmad Didi Ardianto, Kapolres Mimika, AKBP Victor Mackbon dan istri, Kepala Suku Amungme, Anis Natkime, sejumlah hamba Tuhan dari gereja denominasi yang berada di Tembagapura, istri Pdt Manurung, Nyonya Magdalena Timotheus dan keempat anaknya, Ray Manurung, Joe Manurung, Jason Manurung, Randy Manurung beserta istri dan cucu-cucu Pdt Manurung.  (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment