Tajuk : Doa Seorang Penatua

Bagikan Bagikan

Oleh Pdt. Samuel Viktor Nitti.

Tetapi apa yang bodoh  bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat (1 Korintus 1: 27)



DI awal masa pelayanan saya di salah satu jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Mollo, saya bertemu dengan beberapa penatua yang luar biasa. Ini kisah salah satunya. Ia seorang buta huruf. Pada tahun 1942 anaknya yang sulung masuk sekolah rakyat. Setiap malam ia belajar kenal huruf dari anaknya. Ia belajar membaca dengan memanfaatkan terbitan cerita-cerita Alkitab bahasa Timor yang amat terbatas waktu itu.

Kemudian ia terpilih menjadi penatua. Ia melayani lebih dari 40 tahun baru berhenti karena usia tua. Ini prinsip imannya sebagai seorang pelayan. Pertama, hari minggu itu bukan hanya 2 atau 3 jam, tetapi sepanjang hari. Itulah hari ibadah dan hari istirahat. Jadi sesudah selesai kebaktian minggu ia masih tinggal di gereja sampai sore atau pulang ke rumahnya tanpa mengerjakan pekerjaan yang berat. Ia hanya beristirahat di rumah.

Kedua, hari pelayanan ibadah adalah hari Selasa dan Jumat. Biasanya ibadah rayon dilakukan pada pagi hari sebelum aktivitas berkebun dimulai. Pada dua hari pelayanan itu (Selasa dan Jumat) penatua tersebut tidak pergi ke kebunnya. Sesudah memimpin ibadah rayon ia berkeliling menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Praktis ia hanya mengurus kebunnya selama 4 hari setiap minggu yaitu: Senin, Rabu, Kamis dan Sabtu. Setiap Senin sore, Rabu sore, Kamis sore dan Sabtu sore ia meninggalkan kebunnya dengan doa: "Ya Tuhan, esok saya tidak datang mengurus kebun saya karena saya mengurusi kebun Tuhan. Saya mohon Tuhan pelihara kebun saya ini agar terhindar dari rupa-rupa bencana. Amin."

Sejauh saya tahu, menurut cerita orang lain, penatua ini tidak mengalami kelaparan dan selalu memberi pinjaman bibit jagung (tanpa minta dikembalikan) kepada orang yang membutuhkan bibit pada awal musim tanam.

Anak-anaknya semua berpendidikan dan menjadi pegawai atau guru, kecuali satu orang anak perempuan. Salah seorang anaknya, sarjana hukum, menjadi petani di desa tersebut dan terpilih menjadi kepala desa. Tiap kali berkunjung ke kampung tersebut saya senang duduk di atas kuburannya (penatua) dan bercerita kepada mereka yang ikut bersama saya.

Ketika penatua tersebut mulai memasuki masa tua, di tahun 70-an, ia memandang perlu untuk mencari satu atau dua orang muda untuk menemaninya dalam pelayanan dan mempersiapkan diri untuk meneruskan pelayanan tersebut. Perlu diketahui bahwa keterbatasan pendidikan dan jumlah orang yang berpendidikan paling tidak tamat SD masih terbatas.

Inilah kisah pengganti penatua tersebut yang dituturkan oleh penggantinya. Pada awalnya ketika ia ditanyai dan diajak oleh sang penatua, orang muda tersebut berkeberatan dengan alasan tidak mampu. Tetapi kepada saudara-saudaranya ia berkata: "Saya mau cari makan, saya tidak mau bodoh seperti penatua ... yang setiap minggu 3 hari melayani dan menolong orang dan hanya 4 hari mengurus kebun. Saya tidak mau keluarga saya kelaparan."

Pada musim tanam tahun berikutnya pemuda tersebut menemukan bahwa seluruh bibit yang ia siapkan ternyata sudah rusak seluruhnya (orang Timor bilang: fufuk). Ia mencari pinjaman tetapi semua orang di kampung itu tidak mempunyai cukup bibit untuk memberikan kepadanya. Akhirnya penatua tersebut meminjamkan kepadanya 100 bulir jagung bibit. Ketika musim panen tiba dan pemuda tersebut mengembalikan 100 bulir jagung bibit yang ia pinjam, penatua tersebut berkata: "Sudah, anak dapat saja itu jagong, karena Tuhan kasi beta (saya) lebih banyak."

Musim tanam tanam berikut pemuda tersebut mengalami pengalaman yang sama, kekurangan bibit dan hanya sang penatua yang mempunyai persediaan bibit lebih untuk meminjamkan kepadanya.
Sesudah menanam pemuda tersebut menyerahkan diri kepada penatua tersebut untuk membantu melayani. Kemudian ia didorong untuk sambil membantu penatua, ia membuka paduan suara. Ia memimpin paduan suara tersebut selama beberapa tahun dan kemudian ia terpilih menjadi penatua.

Ketika terjadi pembagian penatua ke rayon-rayon, kebanyakan penatua menolak untuk melayani pada rayon yang disegani karena rayon itu terdiri dari para pendatang dari daerah lain di Timor dan pulau lain yang berpendidikan dan kritis. Tetapi dengan tegas pemuda tersebut, yang hanya tamat SD, megatakan bahwa ia bersedia melayani di rayon itu. Ia agak dicemooh oleh teman yang lain dan diterima dengan pdnuh tanda tanya oleh warga di rayon tersebut. Tapi ia berkata: "Ini pekerjaan Tuhan. Tuhan akan memberkati saya. Saya sudah mengalami hal itu".

Dengan bahasa Indonesia yang seadanya, ia melayani dengan tekun meneladani penatua yang pernah mengajaknya. Ia rajin mengunjungi dan mendoakan orang sakit dan aktivitas pelayanan lainnya. Akibatnya ia amat disayangi oleh seluruh warga rayon tersebut.

Delapan tahun kemudian ia berhenti karena aturan dua periode yang mulai ditetapkan oleh GMIT. Walau pun rumahnya jauh dan terpisah dari rayon yang dulu dilayaninya, tetapi seluruh warga di rayon tersebut yang gagal memaksa pendeta untuk tetap memilih dia sebagai penatua, tetap meminta ia tetap menjadi anggota rayon mereka.

Kisah ini dituturkan oleh pemuda tersebut lebih dari 10 tahun sesudah saya pindah dari tempat itu, ketika saya mengunjungi seorang anak warga dari rayon tersebut yang menjadi anak kami dan juga menjadi pendeta.  Ia sengaja datang ke tempat tersebut untuk bercerita, ketika ia mendengar kabar bahwa saya pergi ke tempat itu. Pendeta yang mendengarkan hanya tersenyum dan membenarkan kisahnya.

Komentar saya: Benarlah apa yang Paulus katakan dalam 1 Korintus 1:27-30. (27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat. (28) dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti. (29) supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (30) Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.  *) Pendeta GMIT dan Anggota DPRD NTT 
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. Halo.
    Saya adalah Bapak Rahel seorang pemberi pinjaman pinjaman pribadi yang memberikan pinjaman kesempatan seumur hidup kepada individu, perusahaan bisnis, asuransi, dan lain-lain. Apakah Anda dalam kesulitan keuangan atau membutuhkan pinjaman untuk diinvestasikan atau Anda memerlukan pinjaman untuk membayar pencarian tagihan Anda lebih jauh seperti kami di sini untuk membuat semua masalah keuangan Anda menjadi sesuatu dari masa lalu. Kami menawarkan semua jenis pinjaman dalam mata uang mata uang dengan tingkat 2% tanpa biaya dimuka. Saya ingin menggunakan media hebat ini untuk memberi tahu Anda bahwa kami siap membantu Anda dengan jenis pinjaman apa pun untuk menyelesaikan masalah keuangan Anda. ya kemudian kembali sekarang melalui email (rahelcohranloan@gmail.com) untuk lebih jelasnya, anda sangat istimewa.

    ReplyDelete