Tajuk : Keadilan Pasti Ditegakkan

Bagikan Bagikan




Celakalah orang yang mendirikan kota di atas darah dan meletakkan dasar benteng di atas ketidakadilan. (Habakuk 2:12) 

PERIKOP Habakuk 2 : 6-20 berisi berbagai ucapan celaka yang diteriakkan oleh Nabi Habakuk. Ucapan ini ditujukan kepada kekejaman dan keserakahan bangsa Kasdim. Mereka mengeruk dan merampas habis apa yang menjadi milik bangsa Yehuda. Bahkan mereka tidak menghormati Tuhan yang disembah bangsa Yehuda. Mereka lebih mengagung-agungkan patung sesembahan buatan tangan manusia.

Melalui ucapan celaka tersebut, Habakuk tidak hanya menyampaikan realitas kezaliman yang dilakukan oleh bangsa Kasdim, tetapi juga menyampaikan pelajaran yang berharga bagi para pendengarnya saat itu, yakni orang tidak boleh melakukan tirani meskipun ia punya kekuasaan yang besar atas orang lain. Barangsiapa melakukan tirani, dia bukan sekadar tidak menghargai sesama manusia, melainkan lebih dari itu ia menyangkal keberadaan Tuhan yang telah menciptakan manusia.
Menurut Habakuk, Tuhan akan memberikan hukuman setimpal kepada para tirani. Penghukuman itu hendak menyatakan bahwa Tuhan berdaulat penuh atas kehidupan manusia dan alam semesta. Dengan demikian, bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan. Dan
Tuhan ada dalam bait-Nya yang kudus (20). Melalui bait-Nya, Ia akan menyatakan segala sesuatu yang baik, segala pertolongan dan pembebasan. Karena itu umat diajak untuk menunggu penyataan kemahakuasaan Tuhan atas bangsa-bangsa. Di sini Tuhan yang akan bertindak menghakimi bangsa-bangsa dan para penguasanya.

Manusia hanya bisa berusaha, tetapi Tuhan yang empunya segalanya. Dia berkuasa menegakkan keadilan dan kebenaran. Sebab itu umat mesti hidup dalam pengharapan dan senantiasa melakukan yang terbaik untuk mewujudkan kehendak Allah dalam hidupnya.

Bersyukurlah karena kita mempunyai Allah yang hidup. Keadilan-Nya akan ditegakkan dan kuasa-Nya pasti dinyatakan. Berdoalah bagi mereka yang mengalami penindasan agar mereka kuat dalam iman sebab janji dari Tuhan itu pasti terlaksana.

Terkadang cara Tuhan menghukum umat-Nya membuat kita terheran-heran. Banyak orang beranggapan bahwa Tuhan itu mahakasih dan mustahil mendatangkan hukuman yang mengerikan kepada umat-Nya. Tuhan menghukum karena Ia ingin meluruskan apa yang sudah bengkok. Ternyata hal itu bukan hanya berlaku pada umat-Nya, tetapi juga orang-orang yang fasik.

Pada bagian sebelumnya kita melihat bagaimana keluh kesah dan protes Nabi Habakuk diwarnai oleh krisis kepercayaan. Namun, pada bagian ini kita melihat bagaimana Tuhan memberikan jawaban kepada hamba-Nya (1).

Apa yang menjadi jawaban Tuhan bukan berupa pembebasan bangsa Yehuda dari bangsa Kasdim seperti yang diharapkan oleh Habakuk. Jawaban Tuhan hanya dalam bentuk pengharapan pada masa yang akan datang, yaitu Tuhan akan memulihkan keadaan umat. Dalam sudut pandang manusia, mungkin jawaban Tuhan dianggap tidak memuaskan karena orang-orang Yehuda sudah dalam kondisi kritis. Mereka dijajah, dikepung, bahkan dianiaya oleh bangsa Kasdim. Mereka butuh pertolongan Tuhan secara konkret.

Namun cara berpikir manusia berbeda dengan rancangan Tuhan. Jawaban Tuhan tidak dapat ditafsir sebagai bentuk pengabaian terhadap umat-Nya. Ia selalu memikirkan apa yang terbaik untuk umat kepunyaan-Nya. Di balik jawaban itu, Tuhan menghendaki bangsa Yehuda bersabar dalam menjalani berbagai proses yang ada. Umat Allah harus belajar percaya bahwa mereka aman dalam tangan Tuhan yang perkasa.

Di sini umat diajak untuk bertahan dalam iman dan menjaga diri dengan hidup dalam kebenaran, betapa pun sukarnya situasi yang dihadapi oleh mereka. Karena itulah, Tuhan memerintahkan Habakuk mencatat apa yang dilihatnya diukir di atas loh-loh. Tujuannya bukan hanya untuk dibaca orang saja, tetapi sebagai kesaksian dan bukti untuk masa yang akan datang. Loh tersebut akan disimpan sebagai dokumen peringatan yang bisa menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya. Melalui proses ini, pengharapan itu akan menggema dalam sanubari umat-Nya, yaitu gema yang mengarahkan setiap hati hanya tertuju pada Tuhan dan janji-Nya.


Dalam hidup ini mungkin ada doa yang belum dijawab oleh Tuhan. Janganlah putus asa dan menyerah sebab Ia tidak pernah meninggalkan kita. Bersabarlah dalam iman dan keyakinan yang teguh, niscaya kita akan mengalami janji-Nya. (***)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment