Tajuk : Penerima Bansos Berkalung Emas

Bagikan Bagikan




HATI saya sangat geli ketika menyaksikan sejumlah penerima dana Bantuan Sosial (Bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) di samping kiri Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Timika, Senin (4/9) lalu.  Penerima Bansos PKH semua disediakan kursi dan duduk di bawah tenda biru. Menariknya, sebagian warga penerima dana Bansos PKH ada yang berkalung emas melekat di leher. Ada pula warga mengenakan gelang emas pada  pergelangan tangan.  Pemandangan itu mengundang berbagai bentuk pertanyaan yang bernada sinis.

Apakah program PKH memang dialamatkan kepada semua elemen warga masyarakat tanpa kriteria kaya dan miskin? Ataukah program itu bertujuan mendekatkan kesenjangan antara warga yang kaya dengan miskin?. Jika PKH beralamat untuk keluarga miskin, lalu mengapa keluarga yang berkalung dan bergelang emas bisa menikmati dana Bansos PKH? Apakah PKH ini salah sasaran atau sengaja sebagai akibat dari pola kedekatan antara pendamping dan petugas RT/RW bekerja sama? Atau PKH sengaja diseting untuk mengaburkan tujuan yang sebenarnya menciptakan kesejangan antara keluarga miskin dan kaya?

Mungkinkah kita bisa menyebut keluarga berkalung dan bergelang emas loba mendapatkan Bansos PKH yang bukan haknya untuk menerima? Jika itu benar! Keluarga kaya yang menerima Bansos PKH benar-benar tidak memiliki empati dan tidak bernurani. Saraf kesadarannya benar-benar sudah putus. Maaf kalau saya salah. Meskipun saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri realita yang terjadi pada warga penerima Bansos di samping BRI Cabang Timika.

Saya terkejut sehari sesudah saya menyaksikan realita di BRI Cabang Timika.   Warga Kampung Pioga melakukan aksi protes dan menggelar demo memalang jalan, Selasa (5/9). Mereka mempersoalkan dan mempertanyakan dana Bansos PKH jatuh ke tangan yang tidak berhak menerima alias berkalung dan bergelang emas. Ternyata kegelisahan dan kegeliaan, saya menyaksikan penerima Bansos di BRI Cabang Timika bermuara pada protes para warga yang berhak menerima, seperti warga Kampung Pioga.  Ini sebuah pertanda Pemerintah daerah mesti bekerja berat untuk menata ulang penerima Bansos PKH benar-benar untuk keluarga yang berhak menerima alias keluarga miskin, bukan keluarga kaya.

Sasaran Bansos PKH sebenarnya hasil dari kajian yang pelik dan rumit. Bagaimana pemerintah memecahkan masalah kemiskinan dan membuat program pengurangan ketimpangan ekonomi warga masyarakat. Meskipun upaya pemerataan ekonomi itu tidak bisa diharap seperti menyulap. Parameter penerima Bansos dihitung berdasarkan kriteria keluarga prasejahtera atau ekstrimnya dialamatkan pada keluarga miskin. Penerima Bansos PKH bukan untuk keluarga sejehtera, apalagi bagi keluarga yang bisa mengenakan kalung dan bergelang emas.

Ingat! Lahirnya Bansos PKH dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo adalah penyempurnaan dari program pengentasan rakyat dari kemiskinan yang banyak dikritik pada program Beras Sejahtera (Rastra). Bansos PKH dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dilaksanakan berkaca dari kebocoran penyaluran Bansos yang jatuh pada keluarga yang tidak berhak menerima. Bansos PKH seharusnya bisa memutus mata rantai penerima Bansos yang tidak tepat sasaran. Maka perbaikan harus dilakukan pada perbaikan terget penerima Bansos itu. Hanya dengan target presisi, jurang ketimpangan benar-benar dapat dikurangi. Harapannya pemerintah bisa membuktikan bahwa penekanan angka kemiskinan bisa ditekan pada level 10 persen.

Kita harus bisa peka terhadap sesama warga yang kurang beruntung dalam hidupnya. Walau kita juga mesti kritis terhadap warga yang hidup bermalas-malasan dan berpangku tangan mengharapkan hidupnya selalu disuap dari dana bantuan Pemerintah. Gaya kehidupan warga seperti ini juga patut disayangkan. Karena, perjuangan hidup ke depan semakin kompetitif. Maka bagi mereka yang hidup berpangku tangan mulailah berjuang menguras keringat untuk menata masa depan. Pakai filosofi hidup para prajurit bertempur sebelum menyerah kalah. Pintu kesejahteraan hidup pasti akan menari-nari didepan pelupuk mata kita. Gantunglah harapan dan angan-anganmu setinggi langit dengan kerja keras. Bukan tidak mungkin setiap detik dalam waktu akan mengurai rahmat berlimpah. Dan jangan lupa menyelip doa dan harapan dikala senja dan malam meminyaki jiwa menyambut fajar pagi memulai meraih masa depan yang cerah. Semoga! (Fidelis S Jeminta)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

1 komentar:

  1. Halo,
    Ini adalah untuk memaklumkan kepada orang ramai bahawa Puan Henrietta Fernando, pemberi pinjaman pinjaman swasta telah membuka peluang kewangan kepada sesiapa yang memerlukan sebarang bantuan kewangan. Kami memberi pinjaman pada kadar faedah 2% untuk individu, syarikat dan syarikat di bawah terma dan syarat yang jelas dan difahami. Hubungi kami hari ini melalui e-mel untuk memohon dan mendapatkan pinjaman segera: (henriettafernandoloanfirm@gmail.com)

    ReplyDelete