Tajuk : Tengok Wajah Duka Para Nelayan

Bagikan Bagikan


PENYAKIT kronis  yang nyaris mengidap semua pejabat mulai dari pusat sampai ke kampung-kampung di seluruh Indonesia dan tak terkecuali di Kabupaten Mimika adalah penyakit lupa. Saya berharap goresan bertopik “tengok wajah duka para nelayan” di Mimika sengaja diangkat kepermukaan untuk mencegah, mengingatkan dan perlu disampaikan kepada para pejabat teras untuk melawan penyakit lupa. Sehingga masalah para nelayan lokal di Pomako dan para nelayan non Papua yang sempat mengorbankan nyawa manusia tidak terulang. Agenda rapat antara Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Mimika bersama Kerukunan Keluarga Jawa Bersatu (KKJB) di Kantor DKP Kabupaten Mimika tidak dinilai sekedar mengisi waktu luang, Senin (4/9) kemarin. Pertemuan itu semestinya  menghasilkan aksi yang nyata. Rapat itu bernuansa, pemerintah memiliki marwah dan sosok yang bisa dipercaya. Dipercaya pemerintah memiliki nurani bisa hadir ditengah-tengah warga nelayan dengan komitmen mendudukan kedua kelompok duduk satu meja dalam ruang dialog terbuka.

Sehingga, 100 orang pemilik perahu masih bisa berharap 150 perahu yang diduga masih ditahan kelompok tertentu dapat dikembalikan. Kelompok nelayan lokal dan non lokal  adalah komunitas yang benar-benar bergantung hidup mati dengan menangkap ikan. Kita berharap walau banyak aturan yang amburadul dan membingungkan di sektor perikanan yang perlu ditangani. Pemerintah tidak boleh gagal menjadi juru damai. Apalagi, pemerintah sengaja memendam dan mendiamkan masalah dengan harapan warga sudah lupa. Para nelayan tidak pernah akan lupa dengan masalah yang dihadapinya sehari-hari. Karena setiap helaan nafasnya siang dan malam dibaluti dengan kekurangan sesuap nasi dan sesenduk sayur mayur. Maka mari kita menengok wajah duka para nelayan lokal dan nelayan non lokal. Sehingga mereka bisa bersenandung harapan di waktu malam menanti fajar mendorong perahu untuk melaut. Toh, kita juga yang akan menikmati hasil tangkapan ikan mereka. Jangan kita membiarkan masalah itu sampai urat saraf kesadaran putus.  Mereka mencari jalan pintas seperti yang kita saksikan waktu lalu.

Ingat! Merekalah yang menyediakan sumber protein terbesar dan memberikan andil besar terhadap anak dan cucu kita menjadi SDM yang cerdas. Kita tidak boleh memelihara persaingan nelayan tradisional yang hanya bisa memanen yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Karena terkadang ketika mereka tidak mempunyai pilihan kecuali putus asa, merampas dan menahan perahu milik para nelayan non lokal. Logika ini cerminan dari pemerintah tidak peka dan tidak pernah menengok wajah duka para nelayan tradisional. Dan pemerintah pula tidak siap mendengar rintihan hati para nelayan non lokal. 
Keputusan destruktif nelayan tradisional di daerah pesisir saat ini, jika kita tidak rabun sebenarnya, karena  kehidupan mereka cenderung terlihat kumuh dan tidak terawat. Kehidupan mereka  dan anak-anak pesisir masih jauh dari akses pendidikan yang memadai, informasi dan komunikasi, serta sarana dan prasarana yang menunjang kehidupan mereka. Maka pada saat, mereka tidak mendapat apa-apa ketika menangkap ikan untuk memecahkan persoalan yang melekat hari-hari dalam hidup mereka. Mereka memperlihatkan dan melakukan keputusan yang destruktif atau bahkan melakukan aksi brutal. Kita tidak boleh merawat persoalan ini dan segera atasi dengan arif dengan membangun sinergitas setiap stakeholders menjadi hal penting dalam mewujudkan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir. Kiat ini sebagai wujud nyata mengimplementasi dari tujuan tata kelola perikanan yang diatur dalam UU No. 27 tahun 2007 tentang pengelolan wilayah pesisir, seperti warga di pesisir Pomako. Semoga! (Fidelis S.J)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment