449 Seniman Meriahkan Pesta Budaya Asmat Ke 32

Bagikan Bagikan




SAPA (ASMAT) - Bupati Asmat, Elisa Kambu didampingi Wakil Bupati Thomas Eppe Safanpo, dan Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM secara resmi membuka Pesta Budaya Asmat ke-32 tahun 2017 di Lapangan Yos Sudarso, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Jumat (20/10). Pesta Budaya ini dimeriahkan 449 seniman.

Pembukaan acara tersebut ditandai dengan menyalakan api tungku wayir atau perapian dalam rumah adat Jew dan memberikan percikan kapur putih kepada peserta. Usai menyalakan api tungku wayir dan pemercikan kapur, Pesta Budaya Asmat dilanjutkan dengan pawai budaya mengelilingi Kota Agats. Kegiatan pawai diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dari berbagai etnis dan suku Indonesia yang berada di Asmat.

Ketua Panitia Pesta Budaya Asmat ke-32, Emerickhus Sarkol dalam sambutannya mengatakan, Pesta Budaya Asmat tahun ini diikuti oleh 449 seniman lokal, yang terdiri dari 200 orang pengukir, 60 orang penganyam, 90 orang penari dan 100 orang pendayung perahu.

“Selaku ketua panitia penyelenggara, saya mengajak kita semua untuk menjadikan pesta akbar Budaya Asmat ini sebagai kesempatan istimewa untuk tetap menghidupkan api wayir yang terus membakar semangat kita melindungi sekaligus mewariskan nilai-nilai luhur budaya Asmat bagi anak cucu,” kata Sarkol.

Sementara Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM mengatakan, Pesta Budaya Asmat ke-32 dengan tema utama Jangan Padamkan Api Tungku Wayir, memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat asli Asmat. Tungku api wayir merupakan tungku utama dalam rumah adat.

“Tungku ini mempunyai peranan yang penting, lebih daripada fungsi material sebagai tempat perapian. Tungku ini merupakan suatu tempat di mana, wakil-wakil masyarakat di suatu kampung berkumpul bersama mengambil kebijakan-kebijakan yang menentukan masa depan masyarakat di kampung itu sendiri,” terang Mgr. Aloysius.

Dikatakan, tungku tersebut dapat dianalogikan sebagai jantung kehidupan masyarakat asli Asmat, karena di tempat perapian itulah nilai-nilai otentik dan nilai-nilai tradisional membentuk jati diri orang Asmat.

“Itulah nilai-nilai kehidupan yang ditaburkan melalui tungku wayir ini, sehingga orang Asmat memiliki cara pandang, cara pikir dan sikap dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Uskup Agats menambahkan, pesta budaya merupakan suatu kesempatan istimewa bagi masyarakat untuk melestarikan nilai-nilai budaya yang akan diwariskan oleh para leluhur.

Sementara itu, Bupati Asmat Elisa Kambu mengatakan, penyelenggaraan Pesta Budaya Asmat sebagai bentuk komitmen pemerintah dan masyarakat setempat untuk melestarikan budaya, kearifan lokal dan potensi wisata di daerah tersebut.

“Kita semua sudah sepakat untuk mempertahankan dan mewarisi nilai-nilai luhur yang telah tumbuh dan berkembang di Asmat, salah satunya dengan melaksanakan pesta budaya,” kata Elisa Kambu.
Ia mengajak agar seluruh lapisan masyarakat untuk merayakan pesta budaya tersebut dengan sukacita. Masyarakat juga diminta untuk menjaga keamanan dan ketertiban sehingga acara pesta budaya dapat terlaksana dengan sukses.

“Terima kasih untuk semua pihak yang telah hadir, menyaksikan dan mengambil bagian dalam Pesta Budaya Asmat tahun ini,” tandasnya.


Pantauan media ini, kurang lebih 1000 pengunjung yang terdiri dari masyarakat, wisatawan lokal hingga mancanegara memadati lantai panggung Lapangan Yos Sudarso yang luasnya sekitar 8.000 meter persegi. (Nuel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment