Akibat Timika Darurat Komix, Komix Dilarang Beredar

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) - Akibat Timika darurat Komix, membuat obat Komix yang mengandung Desktrometorfan (DT) dilarang beredar di Timika. Seluruh Klinik, Toko obat, Apotek dan toko Swalayan dilarang mengedarkan atau memperjualbelikan obat tersebut. Komix sebenarnya obat batuk, namun  disalahgunakan oleh para remaja di Kota Timika. Obat tersebut dimanfaatkan sebagai pengganti putaw, shabu dan ganja.

Kepala Bidang Jaminan Sarana Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Jenni Padallingan mengatakan, Timika berada dalam keadaan darurat komix. Karena obat ini banyak merusak generasi muda di kota Timika. Sehingga peredaran obat tersebut untuk sementara dilarang di Kota Timika.

“Komix yang dapat beredar  di Timika adalah komix dalam kombinasi. Sedangkan untuk Komix DT sudah di tarik dan dilarang untuk dijual,” kata Jenny kepada wartawan Salam Papua di Hotel Grand Tembaga jalan Yos Sudarso Timika, Rabu (4/10).

Para remaja menyukai Komix selain ekonomis juga berbentuk cair, rasanya enak dan cepat bereaksi apabila di konsumsi. Jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak, obat ini akan merusak kehidupan mereka.

Dia mengungkapkan, untuk menyikapi banyaknya kasus penyalahgunaan obat tersebut maka diadakan pertemuan dengan pelaku bisnis pemilik klinik toko obat dan swalayan. Dalam pertemuan ini disepakati perlu adanya perencanaan dan pengawasan terpadu terhadap klinik, toko obat, apotek dan swalayan.

“Akhir-akhir ini kasus penyalahgunaan obat sangat memprihatinkan. Bahkan ada yang menelan korban jiwa. Salah satu contohnya adalah obat komix. Obat ini sangat mudah didapat dan juga harganya murah.  Sehingga ini menjadi tanggung jawab kita baik dari pelaku usaha dan pemerintah dan masyarakat,” ungkapnya.

Dalam pertemuan tersebut Jenny menjelaskan, pelaku usaha sepakat obat komix yang mengandung DT dilarang beredar. Pelaku usaha juga harus melakuan pengawasan ketat terhadap penjualan obat. Dinas Kesehatan akan melakuan penyisiran terhadap klinik, apotek dan toko obat  sebagai bentuk pengawasan. Setiap 3 bulan semua klinik, toko obat dan apotek yg jual obat harus memberikan laporan terkait jumlah obat yang beredar atau di jual.

“Pemerintah harus mengadakan pengawasan terpadu dengan toko yang ada di timika dan  memerangi obat terlarang yang ada di Timika. Pemerintah akan membuat kebijakan terhadap obat yang berpotensi di salahgunakan. Contohnya obat keras hanya dapat diberikan apabila disertai dengan resep dokter,” jelasnya.

Dia menegaskan, Dinas Kesehatan akan berkoordinasi dengan lintas sektor untuk memberantas obat ilegal. Sehingga diharapkan tidak ada lagi peredaran obat-obat illegal di Timika.


“Apabila ada obat komix atau obat yang dilarang beredar di Timika, Dinkes akan cepat menelusurinya. Karena aturan atau larangannya sudah disepakati bersama,” tegasnya. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment