Asmat Kekurangan Guru

Bagikan Bagikan

SAPA (ASMAT) Salah satu persoalan pendidikan yang dihadapi oleh sejumlah daerah di Tanah Air adalah ketiadaan dan atau kekurangan tenaga pendidik (guru), tidak terkecuali di Kabupaten Asmat. Persoalan tersebut harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah maupun berbagai pihak.

Asisten I Sekda Asmat, Yustus Kakom mengungkapkan, telah terjadi “krisis” tenaga pendidik di Kabupaten Asmat. Menurutnya, pendidikan di kabupaten tersebut telah berjalan maksimal, hanya saja masih kekurangan tenaga pendidik.

“Tenaga guru semakin berkurang. Entah animo masyarakat untuk menjadi guru semakin berkurang ataukah lulusan perguruan tinggi dari FKIP yang terbatas. Saya kurang tahu, tapi itulah kenyataannya,” kata Yustus, Rabu (11/10).

Dia menganggap masalah kekurangan guru di Asmat merupakan peluang kerja bagi putra daerah atau masyarakat non Papua di Asmat untuk menjadi tenaga pengajar. Pemerintah, kata dia, masih sangat membutuhkan tenaga pengajar.

“Pemerintah daerah masih sangat membutuhkan tenaga pengajar. Hanya formasi pegawai yang setiap tahun itu selalu terbatas juga, tak seperti tahun 1980-an,” ujar dia.

Dijelaskan, penerimaan PNS, termasuk guru secara nasional melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB). Dari segenap formasi yang ada, kuota guru sangat terbatas.

“Sangat terbatas, tiap-tiap daerah kuotanya terbatas. Misalnya, Asmat yang kita butuhkan 500 guru, mungkin formasinya hanya 30 orang. Jadi sistem juga sangat berpengaruh terhadap pembangunan di bidang pendidikan,” ungkap dia.

Karenanya, kata Yustus, dibutuhkan perencanaan yang matang dari Dinas Pendidikan terkait rekrutmen atau penerimaan pegawai. Analisis kebutuhan guru harus dimulai dari OPD teknis, sehingga dapat diusulkan ke pusat.

“Misalnya Dinas Pendidikan perlu guru berapa? Lalu dirinci, guru IPA,  Kimia, Biologi, Geografi dan Bahasa Indonesia berapa. Begitupun tenaga medis,” tuturnya.

Terkait krisis guru di Asmat, katanya, pemerintah setempat telah mensiasati dengan merekrut guru kontrak. Hanya saja, waktu pengabdiannya juga masih terbatas.

“Tenaga kontrak sudah berjalan 1 tahun. Setelah kontrak satu tahun, mereka pulang, kita cari lagi. Yang kita maksudkan adalah tenaga guru yang betul-betul ASN yang bertugas di tempat ini,” tandasnya. (Nuel)


Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment