BLH : Jangan Buang Oli Bekas ke Permukaan Tanah

Bagikan Bagikan


SAPA (TIMIKA) - Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Mimika, menegaskan kepada pemilik bengkel yang ada di Timika untuk tidak membuang oli bekas kepermukaan tanah. Karena dampaknya pada kualitas air dibawah tanah, dan sebagian masyarakat menkonsumsi air dari bawah tanah.

Kepala BLH, Ir. Limi Mokodompit  ketika ditemui wartawan di lapangan Indah jalan Budi Utomo, Timika, Senin (9/10)  mengatakan, oli bekas jangan dibuang sembarangan. BLH akan menertipkan bengkel-bengkel yang sembarangan membuang oli bekas. Karena itu akan berdampak pada lingkungan hidup.

“Harusnya oli tersebut dimanfaatkan dengan baik. Jangan membuang sembarangan apalagi di permukaan tanah,” katanya.

Dia menambahkan, BLH sudah menyurati atau memberikan surat edaran kepada pemilik bengkel atau dunia usaha terkait aturan pembuangan oli bekas. Bagi pemilik bengkel yang tidak memiliki izin lingkungan. Maka pemerintah akan memberikan sanksi yang tegas berupa teguran.

“Ya. Kita akan berikan sanksi kepada mereka, apabila mereka tidak mau mengikuti aturan yang ada,” tegasnya.

Dampak apabila oli bekas dibuang sembarangan, akan berpengaruh terhadap kualitas air dibawah tanah. Namanya limbah akan mempengaruhi sanitasi kebersihan air, tanah, dan udara.

“Masyarakat yang mengkonsumsi air tanah apabila dimasukkan oli, maka akan sangat berbahaya,” jelasnya.

Terkait sanksi yang diberikan, lanjut Limi, pelaku usaha akan selalu dibina terlebih dahulu.  Apabila ada pelanggaran BLH akan lebih memberikan teguran yang bersifat edukasi. Selama ini BLH sudah melakukan sosialisasi kepada seluruh perbengkelan yang ada di Timika, supaya Jangan membuang oli bekas sembarangan dan harus membuat izin lingkungan.

“Untuk menertibkan mereka tidak langsung serta merta menutup usahanya. kita akan pelan-pelan tertibkan karena ditakutkan iklim investasi akan terhambat. Namun, kita akan bertindak tegas apabila peringatan pertama, kedua, ketiga, dan keempat tidak dihiraukan. Maka kita tidak akan segan segan mencabut izin usahanya,” tegasnya

Pengelolaan oli/minyak pelumas bekas tidak bisa dilakukan dengan sembarangan karena sudah jelas disebutkan oli termasuk limbah Bahan Berbahaya Beracun yang tentu saja berbahaya bila terpapar pada makhluk hidup.  Disebutkan dalam Pasal 1 PP Nomor 18 Tahun 1999 bahwa pengelolaan limbah B3, termasuk di dalamnya minyak pelumas bekas adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan dan penimbunan limbah B3.  Reduksi limbah B3 merupakan suatu kegiatan pada penghasil untuk mengurangi jumlah dan mengurangi sifat bahaya dan racun limbah B3 sebelum dihasilkan dari suatu kegiatan.

Tata Cara dan Persyaratan Penyimpanan dan Pengumpulan Minyak Pelumas Bekas diatur dalam Keputusan Kepala Bapedal No. 255 Tahun 1996. Pada pasal 3 disebutkan persyaratan bangunan bagi pengumpul minyak pelumas bekas yakni, memiliki fasilitas untuk penanggulangan terjadinya kebakaran dan peralatan komunikasi. Konstruksi bangunan disesuaikan dengan karakteristik pelumas bekas dan lokasi tempat pengumpulan bebas banjir. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment