Budaya Asmat Ekspresi Martabat dan Harga Diri

Bagikan Bagikan
Bupati Asmat bersama Uskup Keuskupan Agats.
SAPA (ASMAT) – Gubernur Propinsi Papua menegaskan, budaya Asmat sangat tinggi nilainya dibanding budaya bangsa manapun di dunia. Karena, budaya Asmat sangat beragam, unik dan bentuk dari ekspresi harga diri dan martabat seluruh warga Papua yang melekat dalam diri warga masyarakat Asmat.

“Saya minta Bapa Uskup dan Pemerintah Daerah (Pemda) Asmat, warga masyarakat Asmat  bergandengan tangan merawat dan melestarikan budaya Asmat. Keanekaragaman budaya Asmat sangat tinggi dan tidak ada bandingannya dengan negara manapun di dunia,” kata Gebernur Propinsi Papua, Lukas Enembe dalam sambutannya pada pembukaan lelang ukiran dan anyaman dalam pesta budaya Asmat ke 32 yang ditandai dengan menambah kayu pada api wayir (tungku api) dan pemukulan Tifa, di Lapangan Yos Soedarso, Asmat, Senin (23/10).

Menurut Lukas keanekaragaman dan keunikan budaya Asmat ini sudah menggema di dunia internasional. Karena, keunikan seni ukir, seni tari dan lirik-lirik lagu dalam budaya Asmat sudah masuk dalam situs warisan dunia. Maka, Keuskupan Agats, Pemda Asmat dan warga Asmat dari tahun ke tahun, pesta budaya Asmat ini tidak hanya dijaga dan dilestarikan, melainkan pesta budaya Asmat, terutama seni ukir, seni tari dan lirik-lirik lagunya dikembangkan terus. Sehingga, budaya Asmat semakin terkenal di manca negara.

Dari pantauan media ini, Gubernur Papua juga langsung memilih sebuah ukiran berpola burung garuda tanpa di lelang. Kabarnya ukiran bercorak burung garuda itu bernilai puluhan juta rupiah. Dan ia mengaku ukiran burung garuda itu akan dipajangkan di Istana Negara Propinsi Papua.

“Maaf sebelum saya membuka lelang ini. Saya ada lihat sebuah ukiran motif burung garuda. Tolong itu diambil, saya akan pajang di Gedung Negara Propinsi Papua. Oh yah, saya ingin tanya pula dulu bung Karno, Presiden pertama kita lahir di Asmatkah. Karena, ada warga yang bisa mengukir lambang negara kita,” katanya berkelakar disambut tawa ria para pejabat teras Papua, ribuan warga dan peserta pesta budaya Asmat.

Sementara, Uskup Keuskupan Agats mengisahkan, pesta budaya Asmat ini hasil dari upaya Gereja Katolik melalui upaya Uskup pertama di Agats, Mgr. Alfons Sowada, OSC almarhum hendak memelihara dan melestarikan nilai-nilai budaya Asmat sejak 1979 lalu. Upaya itu dikongkritkan dengan mendirikan Museum Asmat dan memulai menggelar pesta budaya Asmat dengan mengidentifikasi seni ukir, tari-tarian dan  lirik lagu di setiap kampung. Dari sejak itu, ada tahun-tahun tertentu yang tidak berjalan hingga terlaksananya tahun ini yang ke 32.

“Untuk itu, saya ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bupati dan wakil Bupati Asmat, panitia dan siapa saja yang dengan caranya masing-masing mensukseskan pesta budaya tahun ini,” katanya.

Uskup Agats setelah mengisahkan sejarah perjalanan pesta budaya Asmat. Ia menjelaskan, api wayir dan usaha gereja melestarikan pesta budaya Asmat. Api Wayir (tungku utama) dengan ornament sekitar api wayir dalam kepercayaan masyarakat Asmat dari sejak leluhur hingga saat ini diyakini sangat sacral. Karena, dalam peradaban dan siklus kehidupan warga Asmat api wayir merupakan pusat kehidupan. Api Wayir diposisikan pada tungku utama dalam Jew (rumah adat masyarakat Asmat). Di sekitar api wayir para tokoh membahas dan menyelesaikan maslah-masalah sosial dalam budaya Asmat. Selain itu, di sekitar ornamen itu mereka merencanakan masa depan. Maka, tema utama pesta budaya tahun ini: “Jangan padamkan Api Wayir dan terus menerus menyalakan api wayir.”

Upaya saat ini, gereja dan Pemda Asmat berkomitmen merawat dan melestarikan budaya Asmat. Karena, semua meyakini upaya ini sebagai antisipasi dan menangkal tergerusnya keaslian budaya Asmat. Ia mencontohkan, saat ini begitu mudah dengan HP mengakses segala macam informasi. Sehingga, upaya yang sedang dikongkritkan saat ini dengan menyelenggarakan pesta budaya dari saat ke saat.

Tampak dalam prosesi pembukaan lelang itu turut hadir pejabat teras dari Propinisi Papua, Pangdam 17 Cendrawasih, Danrem Animti Waninggap, Wakil Ketua I DPRP Propinsi Papua, Edoardus Kaize dan sejumlah pejabat esalon II dan esalon III Propinsi Papua. Bupati Asmat, Elisa Kambu, Wakil Bupati Asmat, Thomas Eppe Safanpo, ST dan wakil Ketua DPRD Asmat serta para Kepala Dinas Satuan Perangkat Kerja Daerah Kabupaten Asmat.


Dari catatan media ini hasil lelang pertama, Senin (23/10) sore yang berlangsung satu setengah jam dan  dipimpin Ketua Panitia lelang ukiran dan anyaman, Emerickus Sarkol tercatat patung dan anyaman yang laku dilelang 25 buah dengan total hasil uang lelang Rp268.000.000. (Fidel)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment